Ketua Umum DPP LDII: Praktik LBGT Bertentangan Dengan Agama dan Moralitas

Redaksi Jakarta
25 Mei 2022 12:15
NEWS 0 141
2 menit membaca

Jakarta – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) menyatakan bahwa lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) bertentangan dengan agama dan moralitas.

banner 970x250

Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu, mengatakan agama samawi terutama Islam, melarang praktik LGBT.

“Al Quran menjelaskan dengan terang-benderang bahkan diulang-ulang kisah itu, bukan hanya dalam satu surat tapi beberapa surat. Artinya, agama Islam melarang sangat keras praktik LGBT,” katanya.

Ia menyebutkan umat Nabi Luth yang mempraktikkan LGBT disebut dalam Al Quran sebagai orang yang melewati batas atau fasik.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Dengan penyebutan itu, bagi mereka yang percaya pada hari pembalasan, mereka yang mempraktikkan LGBT menerima konsekuensi atas perbuatannya.

“Umat Nabi Luth mengalami siksa yang pedih berupa lemparan batu panas dan tanah tempat mereka berpijak dibalik oleh Allah, seperti sebuah bencana besar,” paparnya.

KH Chriswanto mengingatkan kepada penganut LGBT atau mereka yang gemar berzina akan adanya penyakit yang menyerang kelamin.

Beragam penyakit kelamin, salah satunya HIV/AIDS yang paling sulit disembuhkan. Semua itu jadi pertanda, bahwa penyimpangan atas perintah Allah membawa konsekuensi sosial dan pribadi,” tuturnya.

Dalam pandangannya, LGBT merupakan hak individu, namun kebebasan individu yang bertentangan dengan agama dan norma budaya tak pantas untuk dijalankan.

“Itu adalah hawa nafsu yang harus dijauhi, karena risikonya besar,” ujarnya.

Menurutnya, penganut LGBT juga dapat merusak kejiwaan generasi masa depan bangsa.

Anda bisa membayangkan, penganut homoseksual yang kebanyakan mengadopsi anak, apakah mereka tak sadar beban mental yang ditanggung anak tersebut,” katanya.

Dalam pandangannya, saat anak mengerti bahwa orang tua adalah ayah dan ibu, tiba-tiba mendapati orang tuanya pria semua atau wanita semua.

“Ini bisa merusak psikis dan moral generasi masa depan,” ujarnya.

Ia mengimbau penganut LGBT agar kembali pada perintah Allah agar tidak melakukan penyimpangan seksual.

“LGBT oleh Kementerian Kesehatan dikategorikan penyakit mental, yang tidak disebabkan faktor biologis apalagi takdir. Pasti ada kejadian yang membuat seseorang menyimpang orientasi seksualnya,” ungkapnya.

Dengan demikian, lanjut dia, kesempatan untuk disembuhkan memiliki peluang besar.

Akhir-akhir ini persoalan LGBT menjadi bahasan di media sosial. Pasalnya, pada 17 Mei lalu, Kedutaan Besar Inggris di Jakarta mengibarkan bendera pelangi, untuk memperingati Hari Antihomofobia.

Para tokoh agama dan masyarakat prihatin dengan peristiwa itu, dan menganggap Kedutaan Inggris tak sensitif dengan agama dan budaya rakyat Indonesia.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250