Ketika Makna Hidup Mulai Retak: Strategi Coping Islami bagi Perempuan Muda di Era Digital

Admin Pusat
12 Nov 2025 03:00
5 menit membaca

Oleh: Karisna Saripuspita, A.Md., A.K., S.H., s.Ven., C.T.

banner 970x250

 

Di era digital yang serba cepat, banyak perempuan muda tampak percaya diri, aktif, dan mandiri. Namun di balik layar, sebagian di antara mereka diam-diam berjuang melawan krisis makna dan kelelahan mental yang sulit dijelaskan.

Mereka belajar, bekerja, dan bersosialisasi lewat gawai tapi kadang merasa kosong, kehilangan arah, bahkan terputus dari makna hidupnya sendiri.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Fenomena ini bukan hal sepele. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat peningkatan gangguan kecemasan dan depresi di kalangan perempuan muda secara global. Di Indonesia, survei nasional kesehatan mental 2024 menunjukkan bahwa perempuan usia 20–35 tahun adalah kelompok paling rentan terhadap burnout dan kehilangan rasa tujuan hidup. Dalam keseharian, gejalanya sering samar: sulit tidur, kehilangan semangat, perasaan tidak berharga, atau kelelahan yang tak kunjung pulih. Dunia digital memperparahnya dengan banjir perbandingan sosial dan ekspektasi palsu akan “hidup sempurna”.

Dalam konteks inilah, penelitian yang dilakukan oleh penulis (2025) menghadirkan sebuah konklusi bahwa Islam sebenarnya menyimpan strategi pemulihan makna hidup yang kokoh, alami, dan manusiawi lewat konsep yang bisa disebut Strategi Coping Islami Berbasis Wahyu.

Kembali ke Wahyu, Kembali ke Diri

Coping dalam psikologi berarti cara seseorang merespons tekanan hidup. Namun dalam riset ini, penulis menemukan bahwa coping Islami tak hanya soal “bertahan”, melainkan “bermakna”. Ketika seseorang kembali menjadikan wahyu sebagai panduan hidup, maka yang lahir bukan sekadar ketenangan sesaat, tapi juga keutuhan makna diri.

Penelitian ini menggali pengalaman perempuan muda Muslim yang mengalami krisis makna di tengah tekanan media sosial, tuntutan karier, dan kesibukan akademik. Dari hasil wawancara mendalam dan observasi, muncul satu benang merah: mereka yang menjadikan wahyu sebagai sumber coping menunjukkan ketahanan psikologis dan spiritual yang jauh lebih stabil.

Konsep Coping Islami Berbasis Wahyu (CIBW) yang ditawarkan penulis mencakup nilai-nilai seperti sabar, syukur, tawakal, tafakkur, dan dzikrullah. Ini bukan sekadar teori moral, tapi mekanisme psikologis yang terbukti menenangkan hati dan menata ulang cara berpikir.

Misalnya, dalam situasi kehilangan makna, sabar bukan hanya menahan diri, tetapi menyadari proses hidup sebagai bagian dari takdir Allah. Syukur membantu individu memusatkan perhatian pada nikmat yang masih ada, bukan pada kehilangan. Tawakal mengembalikan kendali kepada Allah setelah usaha maksimal, sementara dzikrullah menumbuhkan kesadaran konstan bahwa hidup ini selalu dalam pengawasan dan kasih sayang-Nya.

Menyembuhkan dari Dalam

Dalam temuan riset, partisipan yang menerapkan CIBW menunjukkan penurunan signifikan terhadap gejala kecemasan dan peningkatan pada rasa makna dan tujuan hidup (sense of purpose). Sebagian bahkan mengaku, krisis yang dulu dianggap malapetaka kini berubah menjadi momentum untuk mengenal Allah lebih dalam.

Penulis menegaskan bahwa coping Islami bukanlah bentuk pelarian religius, tetapi justru jalan ilmiah yang berpijak pada psikologi spiritual.

“Wahyu adalah sumber ilmu sekaligus terapi.”

Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan makna, individu menemukan keseimbangan antara akal, hati, dan jiwa.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pendekatan psikologi Islam modern bahwa ilmu jiwa tidak bisa dilepaskan dari fitrah dan spiritualitas. Dalam dunia yang semakin bising oleh informasi, kembali kepada wahyu justru menjadi bentuk digital detox paling mendasar: menenangkan pikiran lewat tafakkur dan dzikir, bukan sekadar log out dari aplikasi.

Dari Krisis Menuju Ketenangan

Bagi banyak perempuan muda, perjalanan menemukan makna hidup sering kali dimulai dari luka. Namun riset ini menegaskan bahwa Islam tidak memandang penderitaan sebagai kutukan, melainkan undangan untuk bertumbuh. Krisis bisa menjadi jalan untuk mengenal siapa diri kita, dan siapa Tuhan kita.

Dalam sebuah wawancara penelitian, seorang partisipan berkata,

“Aku merasa hancur saat semuanya terasa tidak berarti. Tapi ketika aku mulai shalat dengan sadar dan membaca Al-Qur’an dengan makna, aku seperti disembuhkan sedikit demi sedikit.”

Kalimat itu menjadi cermin dari inti penelitian ini  bahwa kesembuhan makna bukan ditemukan di luar diri, melainkan di dalam jiwa yang kembali kepada Tuhannya.

Menata Ulang Makna Hidup

Melalui Strategi Coping Islami Berbasis Wahyu, penulis mengingatkan bahwa perempuan muda perlu ruang aman untuk mengenali diri tanpa kehilangan orientasi spiritual. Dunia digital boleh cepat, tapi jiwa manusia tetap butuh jeda. Ketika sabar, syukur, dan tawakal menjadi gaya hidup, maka ketenangan tidak lagi bergantung pada algoritma, tetapi pada kesadaran bahwa hidup ini sepenuhnya dalam genggaman Allah.

“Ketenangan tidak ditemukan di layar gawai, tetapi di hati yang kembali mengingat Tuhannya.”

 

Tentang Penulis

Penulis adalah Islamic Psychology Enthusiast dan praktisi Meaningful Life Trainer yang fokus pada tema-tema tentang makna hidup, kesehatan mental, spiritualitas perempuan muda, dan growth mindset di era digital.

Melalui program Meaningful Life Journey yang ia bimbing, penulis membantu individu — khususnya perempuan muda — untuk menemukan kembali arah hidup, ketenangan batin, dan keseimbangan spiritual di tengah dunia modern yang serba cepat.

Dalam kelas lanjutan, penulis membimbing perempuan muda untuk naik ke tahap berikutnya: sedari yang semula mencari makna, menjadi pribadi yang berdaya, berkarya, dan berperan sesuai fitrah serta misinya di tengah umat. Setiap langkah kecil menuju kesadaran diri diarahkannya agar bermuara pada kesadaran besar

Untuk informasi sesi training, kelas reflektif, atau private coaching, pembaca dapat menghubungi langsung melalui DM instagram https://www.instagram.com/semestakarisna atau email: karisna.talks@outlook.com

 

Catatan Redaksi

Artikel ini merupakan versi ilmiah-populer dari hasil penelitian penulis (2025) dan disunting untuk kepentingan publikasi edukatif di RedaksiJakarta.com.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250