REDAKSI JAKARTA, – Di ruang kerjanya yang sederhana namun rapi di Polsek Kemayoran, Iptu Budi Setiadi, SH, menceritakan perjalanan panjangnya menjadi anggota Polri. Sosok ayah dua putri ini dikenal tegas sekaligus humanis dalam menangani setiap perkara,26/11/2025.
Budi mengawali kisahnya dari masa saat ia diminta ayahnya datang ke Polda Jawa Barat untuk mendaftar polisi. Ia berangkat hanya membawa berkas dan tekad kuat. “Dari ratusan peserta, saya bilang ke diri sendiri: kalau mau mengubah hidup, harus berani melangkah,” katanya mengenang.
Seleksi di Polda Jabar ia sebut sebagai proses yang sangat ketat. Tes kesehatan, psikologi, kesamaptaan, hingga wawancara membuatnya sempat nyaris menyerah. Namun ketika namanya diumumkan lolos, ia merasa hidupnya memasuki babak baru.
Setelah resmi diterima, ia dikirim ke SPN Lido untuk mengikuti pendidikan dasar kepolisian. Di tempat itu, ia merasakan tempaan sesungguhnya. “Disiplin sudah terasa sejak turun dari kendaraan. Udara sejuk, tapi latihannya panas,” ujarnya sambil tersenyum. Hari-harinya dipenuhi rutinitas tanpa jeda: bangun pukul 03.00, lari, baris-berbaris, lintas alam, pendidikan mental, hingga belajar hukum.
Minggu-minggu awal menjadi masa paling berat. Banyak rekan-rekannya hampir tumbang, tetapi solidaritas membuat mereka tetap bertahan. “Kalau ada yang jatuh saat lintas alam, yang lain angkat bersama-sama. Itu momen yang tidak akan saya lupa,” tutur Budi.
Hari pelantikan sebagai Bhayangkara menjadi momen paling haru dalam hidupnya. “Berdiri dengan seragam baru, mengucap sumpah, rasanya luar biasa. Saya janji dalam hati untuk menjadi polisi yang amanah,” ungkapnya.
Budi juga menyinggung peran besar sang ayah—seorang anggota Polri yang pernah menjabat Kapolsek di Cirebon—yang menjadi teladan utamanya sejak kecil. Ia merasa pendidikan keras di SPN Lido dan pengalaman hidupnya membentuknya menjadi polisi yang tidak hanya disiplin, tapi juga memahami sisi manusiawi masyarakat.
Kini, pria asli Bandung itu menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia menegaskan bahwa ketegasan dan empati harus berjalan beriringan dalam setiap tugasnya sebagai aparat penegak hukum. (Hans Montolalu)
Tidak ada komentar