Empat Kecamatan di Tapteng Masih Terisolir, Pemerintah Pusat Diminta Turun Langsung Percepat Penanganan

Redaksi Eksekutif
21 Des 2025 08:49
NASIONAL NEWS 0 676
3 menit membaca

REDAKSI JAKARTA, Tapanuli Tengah — Penanganan bencana alam di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dinilai masih belum maksimal.

banner 970x250

Hingga pertengahan Desember 2025, sebanyak empat dari total 20 kecamatan dilaporkan masih terisolir akibat banjir bandang dan tanah longsor.

Empat kecamatan yang hingga kini belum sepenuhnya pulih aksesnya tersebut yakni Kecamatan Sitahuis, Sibabangun, Tukka, dan Lumut.

Kondisi ini menyebabkan terganggunya aktivitas masyarakat, distribusi logistik, hingga layanan kesehatan.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Upaya penanganan sejauh ini masih terbatas. PT Wijaya Karya (WIKA) diketahui telah menurunkan tambahan satu unit alat berat jenis beko pada 19 Desember 2025 untuk membantu penanganan bencana di Kecamatan Tukka. Namun, kebutuhan di lapangan dinilai jauh lebih besar.

Perwakilan Kabupaten Tapanuli Tengah, Velman Saudara Manurung, ST, menyebut sedikitnya masih dibutuhkan sekitar 15 unit alat berat tambahan, baik wheel loader maupun beko, guna membuka akses jalan, membersihkan material longsor, melakukan normalisasi sungai, serta memulihkan aktivitas masyarakat.

Foto : Perwakilan Kabupaten Tapanuli Tengah, Velman Saudara Manurung, ST

Foto : Perwakilan Kabupaten Tapanuli Tengah, Velman Saudara Manurung, ST

“Empat kecamatan masih terisolir. Kami sangat membutuhkan alat berat. Kami mohon kepada pemerintah pusat agar turun langsung dan mempercepat penanganan.

Kami juga meminta bantuan kontraktor nasional, khususnya PT Indopora Indonesia Fondasi Raya,” ujar Velman dalam laporan terbarunya melalui sambungan telepon, Minggu (14/12/2025).

Berdasarkan data pembaruan sementara per 14 Desember 2025, sejumlah desa dilaporkan terdampak cukup parah.

Di Kecamatan Sitahuis, longsor menutup akses menuju Desa Saur Manggita dan Desa S. Kalangan 2.

Sementara di Kecamatan Sibabangun, akses pemukiman Desa Sibio-bio turut terganggu.

“Kondisi lebih berat terjadi di Kecamatan Lumut. Desa Sialogo terdampak banjir bandang dan longsor, dengan wilayah yang diperkirakan masih terisolir. Hal serupa juga terjadi di Bonan Dolok, Naga Timbul, Kelurahan Nauli, dan Simaninggir, di mana badan jalan tertimbun dan amblas,” jelas Velman.

Ia menambahkan, terputusnya akses jalan utama menyebabkan warga kesulitan memperoleh bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya.

“Inilah yang tersisa pascabencana alam di wilayah kami, kampung halaman kami. Kami sangat kesulitan mendapatkan asupan makanan karena akses jalan utama terputus,” tambahnya.

Meski demikian, beberapa wilayah mulai menunjukkan perkembangan.

Desa Sipange di Kecamatan Tukka dan Desa Hudopa Nauli di Kecamatan Kolang dilaporkan sudah dapat dilalui kendaraan roda dua. Namun, sebagian besar desa terdampak masih menunggu penanganan lanjutan.

Situasi ini memunculkan sorotan publik terhadap kecepatan respons pemerintah pusat dan kementerian terkait.

Masyarakat berharap penanganan bencana tidak hanya bergantung pada inisiatif pihak swasta, melainkan disertai kehadiran langsung pemerintah pusat, pengiriman alat berat tambahan, serta langkah darurat yang terukur dan berkelanjutan.

“Jika penanganan tidak segera dipercepat, keterisolasian dikhawatirkan akan berlangsung lebih lama dan menghambat distribusi logistik, layanan kesehatan, serta aktivitas ekonomi warga di Kabupaten Tapanuli Tengah,” pungkas Velman Manurung. (Hans)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250