Tokoh Keluarga Besar Andy Tjandra Setiadji Berpulang, Chang Fu Yin Wafat di Usia 101 Tahun

Admin Pusat
7 Feb 2026 19:42
INDONESIA 0 241
2 menit membaca

Redaksijakarta.com – Kabar duka datang dari keluarga besar praktisi hukum sekaligus tokoh masyarakat Tionghoa Indonesia, Andy Tjandra Setiadji, S.H., M.H. Papa mertua Andy, Chang Fu Yin, meninggal dunia pada Selasa (4/2/2026) dalam usia 101 tahun.

banner 970x250

Almarhum dikenal sebagai sosok sepuh dalam keluarga yang memiliki perjalanan hidup panjang. Jenazah rencananya akan diberangkatkan pada Minggu untuk dimakamkan di Belitung sebagai bentuk penghormatan terakhir dari keluarga besar.

Suasana rumah duka dipenuhi pelayat dari berbagai kalangan. Ratusan papan bunga berjajar di sekitar lokasi sebagai tanda belasungkawa dari rekan, kolega, kerabat hingga organisasi masyarakat.

Andy Tjandra Setiadji menyampaikan duka mendalam atas kepergian sang mertua. “Kami sekeluarga sangat kehilangan. Beliau adalah sosok orang tua yang sederhana, penuh nilai kehidupan, dan menjadi teladan bagi anak cucunya,” ujar Andy.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Ia menambahkan, usia 101 tahun merupakan anugerah panjang yang patut disyukuri. “Kami percaya setiap kehidupan memiliki waktunya. Kami berterima kasih atas doa dan dukungan semua pihak,” katanya.

Terkait prosesi pemakaman, Dr. Helex Wirawan, S.E., S.H., M.H. menjelaskan bahwa tradisi kematian Tionghoa sarat makna penghormatan kepada leluhur. “Prosesi ini bukan sekadar ritual, tetapi wujud bakti terakhir kepada orang tua dan simbol penghormatan keluarga,” ujarnya.

Menurut Helex, keluarga inti biasanya mengenakan pakaian putih sebagai simbol duka. “Warna putih melambangkan kesedihan sekaligus ketulusan dalam melepas kepergian orang yang dicintai,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan adanya prosesi Jib Bok, yakni memandikan dan memakaikan pakaian berlapis kepada jenazah sebelum dimasukkan ke dalam peti. “Itu bentuk penghormatan terakhir sebelum prosesi pemakaman,” katanya.

Selain itu, terdapat tradisi membakar kertas sembahyang atau Kong Tiek. “Pembakaran kertas sembahyang melambangkan bekal bagi arwah dalam perjalanannya. Ini bagian dari keyakinan yang sudah turun-temurun,” jelasnya.

Pada malam sebelum pemakaman, biasanya keluarga dan kerabat berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir. “Momentum itu menjadi ruang doa bersama sekaligus ungkapan cinta dan perpisahan,” ujar Helex.

Dalam pandangan Buddhisme, lanjutnya, kematian dipahami sebagai bagian dari siklus kehidupan. “Kematian bukan akhir, melainkan proses menuju kelahiran kembali sesuai karma semasa hidup,” ucapnya.

Ia menambahkan, wafat pada usia sangat lanjut sering dipandang sebagai berkah. “Dalam tradisi Tionghoa, usia panjang dianggap sebagai anugerah. Karena itu ada yang menyebutnya sebagai ‘kematian bahagia’, yakni kepergian setelah menjalani hidup yang panjang,” tuturnya.

Kepergian Chang Fu Yin pada usia 101 tahun meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar. Namun bagi mereka, perjalanan panjang almarhum juga menjadi warisan nilai, keteladanan, dan penghormatan terhadap tradisi yang terus dijaga.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250