Foto : MIND ID Kamis (19/03/2026) menggelar KILAS (Kupas Isu Lintas Sektor Strategis) Balik Ramadan sebagai ruang evaluasi sekaligus konsolidasi kebijakanREDAKSI JAKARTA — Upaya memperkuat hilirisasi industri pertambangan nasional terus didorong melalui forum strategis lintas sektor.

MIND ID Kamis (19/03/2026) menggelar KILAS (Kupas Isu Lintas Sektor Strategis) Balik Ramadan sebagai ruang evaluasi sekaligus konsolidasi kebijakan guna memperkuat ketahanan industri nasional di tengah dinamika global.
Kegiatan ini menghadirkan para pemangku kepentingan untuk menyatukan perspektif, berbasis data dan realitas lapangan, sekaligus merumuskan langkah strategis yang lebih terarah dalam mendorong nilai tambah sumber daya alam Indonesia.
Dalam paparannya, Division Head Institutional Relations MIND ID, Selly Adriatika, menegaskan bahwa forum KILAS bukan sekadar agenda diskusi, melainkan instrumen strategis untuk memastikan keberlanjutan program hilirisasi.
@redaksi.jakarta
“KILAS ini kita dorong menjadi ruang bersama, bukan hanya untuk melihat capaian, tetapi juga memastikan setiap tantangan yang muncul bisa dijawab dengan langkah konkret dan terukur,” ujar Selly dalam keterangannya, Kamis (19/03/2026).
Menurutnya, hilirisasi merupakan proses panjang yang membutuhkan konsistensi kebijakan dan kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
“Hilirisasi tidak bisa berjalan sendiri. Perlu sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan seluruh stakeholder agar kita bisa membangun ekosistem industri yang kuat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Secara capaian, investasi di sektor hilirisasi menunjukkan tren peningkatan signifikan. Sepanjang Januari hingga September 2025, realisasi investasi tercatat mencapai Rp431,4 triliun atau meningkat lebih dari 50 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kondisi ini menjadi indikator bahwa transformasi industri berbasis nilai tambah mulai menunjukkan hasil nyata.
Sebagai holding industri pertambangan, MIND ID terus mempercepat berbagai proyek strategis, mulai dari pengolahan bauksit hingga aluminium, smelter tembaga terintegrasi di Gresik, hingga pengembangan hilirisasi nikel di Sulawesi.
Selain itu, penguatan infrastruktur logistik batu bara juga menjadi bagian dari strategi memperkuat rantai pasok nasional.
Meski demikian, Selly mengakui tantangan global masih menjadi faktor yang harus diantisipasi secara serius. Mulai dari fluktuasi harga komoditas, perubahan teknologi industri, hingga ketidakpastian geopolitik yang berdampak pada rantai pasok global.
“Kita tidak bisa menutup mata terhadap dinamika global. Justru melalui forum seperti KILAS ini, kita ingin memastikan bahwa industri nasional tetap adaptif dan memiliki daya tahan menghadapi berbagai perubahan,” jelasnya.
Di sisi lain, kebijakan dalam negeri seperti pembatasan ekspor bahan mentah dinilai menjadi katalis penting dalam mendorong pengembangan industri pengolahan.
Indonesia kini diarahkan untuk tidak lagi bergantung pada ekspor komoditas mentah, melainkan mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.
Dengan dukungan cadangan sumber daya yang melimpah, mulai dari nikel, bauksit, hingga batu bara, Indonesia memiliki fondasi kuat untuk mempercepat hilirisasi. Namun demikian, aspek pendukung seperti ketersediaan energi, kepastian regulasi, dan insentif investasi tetap menjadi perhatian utama.
Selly menambahkan, keberhasilan hilirisasi ke depan tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tetapi juga dari seberapa kuat struktur industri yang mampu dibangun.
“Kita ingin hilirisasi ini benar-benar memberikan dampak jangka panjang, bukan hanya angka investasi, tetapi juga penciptaan nilai tambah, lapangan kerja, dan kemandirian industri nasional,” pungkasnya.
Melalui KILAS Balik Ramadan, MIND ID menegaskan komitmennya untuk terus mengawal transformasi industri pertambangan agar semakin tangguh, inklusif, dan mampu menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (Red)
Tidak ada komentar