Dr. Alexander Ginting: Karhutla Harus Dipandang sebagai Ancaman Kesehatan Masyarakat

Redaksi Eksekutif
2 Sep 2026 22:18
NASIONAL NEWS 0 250
4 menit membaca

REDAKSIJAKARTA.COM | JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tidak hanya menimbulkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak luas terhadap kesehatan masyarakat.

banner 970x250

Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat menyebar jauh dari titik api dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikan Brigjen TNI (Purn.) dr. Alexander K. Ginting, Sp.P(K), FIMMA, dokter spesialis dan konsultan paru sekaligus salah satu Dewan Pakar Perkumpulan Ketahanan Kesehatan Indonesia (PERTASINDO).

Menurut Alexander, penanganan Karhutla perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Keberhasilan memadamkan api tidak otomatis menghilangkan ancaman kesehatan karena paparan asap masih dapat berlangsung setelah kebakaran terkendali.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

“Ketika api padam, ancaman terhadap kesehatan belum tentu ikut padam,” ujar Alexander.

Ia menjelaskan, asap Karhutla mengandung berbagai zat dan partikel yang dapat masuk ke sistem pernapasan. Salah satu yang perlu mendapat perhatian adalah partikulat halus PM2.5 karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat mencapai bagian dalam saluran pernapasan.

Paparan asap dapat menyebabkan berbagai keluhan, seperti iritasi mata dan tenggorokan, batuk, berdahak, sesak napas hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Kondisi tersebut juga dapat memperburuk penyakit yang sebelumnya telah dialami, terutama asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Selain partikulat, asap kebakaran juga dapat mengandung karbon monoksida dan sejumlah senyawa lainnya. Pada paparan tertentu, karbon monoksida dapat mengganggu kemampuan tubuh memperoleh oksigen.

Karena itu, Alexander menilai dampak Karhutla tidak cukup diukur dari luas lahan yang terbakar.

Jumlah masyarakat yang terpapar asap dan kapasitas sistem kesehatan dalam menghadapi dampak tersebut juga perlu menjadi perhatian.

Kelompok masyarakat tertentu memiliki risiko lebih tinggi ketika kualitas udara memburuk.

Mereka antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma, PPOK, penyakit jantung dan paru, serta masyarakat yang bekerja atau melakukan aktivitas di luar ruangan dalam waktu lama.

Alexander juga mengingatkan bahwa dampak asap tidak mengenal batas administratif.

Pergerakan angin dapat membawa asap dari lokasi kebakaran ke wilayah lain yang berjarak jauh. Kondisi tersebut membuat Karhutla menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan lintas wilayah dan lintas sektor.

Dalam konteks Indonesia, Karhutla juga dipengaruhi oleh kombinasi faktor manusia dan kondisi lingkungan.

Aktivitas penggunaan api untuk membuka atau membersihkan lahan menjadi salah satu faktor yang dapat memicu kebakaran, sementara kemarau panjang dan kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih mudah meluas.

Kondisi lahan gambut menjadi perhatian khusus. Ketika gambut mengalami kekeringan, api dapat menjalar hingga lapisan bawah permukaan sehingga proses penanganannya menjadi lebih kompleks.

Pada 2026, persoalan Karhutla kembali menjadi perhatian seiring memasuki periode kemarau. Berdasarkan data yang dikutip dalam materi PERTASINDO, hingga 1 September 2026 Polri telah menetapkan 89 tersangka perorangan dari 189 laporan terkait dugaan Karhutla.

Alexander menilai masyarakat juga perlu menjadikan informasi kualitas udara sebagai salah satu pertimbangan sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.

Air Quality Index (AQI) dapat digunakan untuk mengetahui kondisi udara dan menentukan langkah perlindungan yang diperlukan.

Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikulat.

Paparan asap di dalam rumah juga dapat ditekan dengan menutup pintu dan jendela serta mengurangi celah masuknya udara dari luar. Penggunaan air purifier dengan filter HEPA juga dapat membantu menyaring partikulat halus di dalam ruangan.

Masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, batuk yang semakin berat, mengi, nyeri dada atau gangguan pernapasan yang tidak kunjung membaik.

Sebagai Dewan Pakar PERTASINDO, Alexander melihat penanganan Karhutla dari sisi kesiapan kesehatan, khususnya perlindungan respirasi dan ketahanan sistem pelayanan kesehatan.

Kesiapsiagaan tersebut mencakup pemetaan kelompok rentan, edukasi masyarakat, pemantauan gangguan pernapasan, surveilans kesehatan, hingga kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurutnya, peningkatan paparan asap dalam skala luas berpotensi meningkatkan jumlah masyarakat yang membutuhkan pelayanan medis secara bersamaan.

Situasi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap puskesmas, rumah sakit, tenaga kesehatan, obat-obatan, hingga sistem rujukan.Karena itu, penanganan Karhutla membutuhkan kerja sama berbagai unsur.

Upaya tersebut tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga pencegahan, pemantauan kualitas udara, perlindungan masyarakat, pelayanan kesehatan dan pemulihan pascabencana.

PERTASINDO menilai Karhutla menjadi contoh bahwa ancaman terhadap ketahanan kesehatan nasional tidak selalu berupa wabah penyakit.

Kerusakan lingkungan dapat berkembang menjadi kedaruratan kesehatan ketika paparan asap menjangkau masyarakat dalam jumlah besar.

Alexander mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu munculnya gangguan pernapasan untuk mulai memperhatikan kualitas udara.

Menurutnya, mengenali kondisi udara, melindungi kelompok rentan, mengurangi paparan asap dan segera mencari pertolongan ketika muncul gejala merupakan bagian dari kesiapsiagaan menghadapi Karhutla.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250