Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB Jajaki Sagu Salor untuk Menu MBG Berbasis Pangan Lokal (Part2)

Admin Pusat
22 Agu 2026 22:25
INDONESIA NEWS 0 223
4 menit membaca

MERAUKE – Potensi sagu dari kawasan Salor, Merauke, Papua Selatan, mulai dijajaki untuk mendukung pengembangan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis pangan lokal. Penjajakan tersebut dilakukan Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University melalui diskusi dengan sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Merauke.

banner 970x250

Diskusi dilakukan bersama SPPG Merauke Mandala 2 dan SPPG Merauke Mandala 3 untuk memetakan peluang sekaligus tantangan pemanfaatan sagu sebagai bagian dari menu MBG. Kedua SPPG tersebut diketahui melayani ribuan penerima manfaat dengan karakteristik dan preferensi makanan yang beragam.

SPPG Merauke Mandala 2, misalnya, menyiapkan sekitar 3.061 porsi makanan setiap hari bagi sembilan kelompok penerima manfaat. Sementara SPPG Merauke Mandala 3 melayani sekitar 2.900 penerima manfaat yang berasal dari tujuh sekolah dan dua Posyandu.

Dalam diskusi, pihak SPPG menyampaikan bahwa penyusunan menu MBG tidak hanya mempertimbangkan kecukupan gizi, tetapi juga selera penerima manfaat, ketersediaan bahan baku, kemampuan pengolahan dapur, hingga ketentuan penyelenggaraan program.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Pangan lokal sendiri telah mendapat arahan untuk dimasukkan dalam menu MBG. Namun, implementasinya selama ini lebih banyak memanfaatkan komoditas seperti umbi-umbian dan sayuran lokal.

“Dari pusat memang ada arahan untuk membuat menu pangan lokal. Selama ini kami menggunakan umbi-umbian dan sayuran, seperti singkong. Kalau menggunakan sagu, proses pengolahannya membutuhkan waktu yang lebih lama,” ungkap pihak SPPG.

Meski belum pernah menjadi menu utama di kedua SPPG tersebut, peluang pemanfaatan sagu masih terbuka. Salah satu tantangan yang perlu dijawab adalah bagaimana mengolah sagu menjadi makanan yang menarik dan dapat diterima anak-anak.

Preferensi penerima manfaat terhadap makanan juga berbeda-beda. Telur, ayam, dan daging menjadi sejumlah menu yang banyak diminati. Di wilayah pesisir, ikan relatif lebih disukai, sementara sejumlah sekolah di Merauke justru menunjukkan tingkat penerimaan yang lebih rendah terhadap menu berbahan ikan.

Hal serupa berlaku terhadap makanan lokal. Sebagian sekolah menilai pangan lokal sudah menjadi makanan sehari-hari sehingga kurang menarik ketika kembali disajikan dalam program MBG. Namun, terdapat pula sekolah yang justru menginginkan lebih banyak menu berbasis pangan lokal.

“Nanti perlu kami coba dulu. Sebelum menjadi menu, kami perlu mengetahui apakah mereka berkenan atau tidak,” ujar pihak SPPG.

Untuk mengukur tingkat penerimaan, SPPG juga menggunakan kuesioner sebagai instrumen evaluasi. Mekanisme tersebut menjadi penting karena kandungan gizi yang baik belum otomatis membuat suatu menu diterima seluruh penerima manfaat.

Selain persoalan selera, waktu pengolahan menjadi faktor penting dalam pemanfaatan sagu. Dengan jumlah penerima manfaat mencapai ribuan orang setiap hari, produk yang membutuhkan proses pengolahan panjang perlu disesuaikan dengan kapasitas dan pola kerja dapur.

“Kami belum pernah membuat menu sagu. Selama ini lebih banyak menggunakan umbi. Sebenarnya pernah terpikirkan, tetapi kami masih mencari bentuk olahan yang lebih kreatif. Sagu harus dicoba terlebih dahulu untuk melihat penerimaannya,” ungkap pihak SPPG.

Koordinator Pengawas Dapur SPPG Provinsi Papua Selatan, Ibu Sadika, menjelaskan bahwa penyusunan menu juga harus mengikuti rekomendasi ahli gizi serta dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan. Standar tersebut diperlukan agar inovasi pangan lokal tetap memenuhi aspek keamanan dan kebutuhan gizi penerima manfaat.

Faktor operasional juga menjadi perhatian. Jarak distribusi makanan, waktu pengolahan, perbedaan jadwal sekolah, serta ketersediaan tenaga dapur menjadi bagian yang harus diperhitungkan sebelum sebuah bahan pangan dikembangkan menjadi menu MBG.

Bagi Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University, hasil diskusi tersebut menunjukkan bahwa sagu kawasan Salor memiliki peluang untuk masuk ke dalam ekosistem MBG. Namun, potensi tersebut perlu diikuti inovasi pengolahan agar sagu dapat memenuhi kebutuhan dapur sekaligus sesuai dengan selera penerima manfaat.

Pengembangan sagu juga tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku. Aspek standar gizi, efisiensi pengolahan, kapasitas produksi, penerimaan konsumen, hingga kesinambungan pasokan menjadi faktor yang perlu dipersiapkan.

Ke depan, sagu Salor berpeluang diuji dalam berbagai bentuk olahan sebelum ditetapkan sebagai bagian dari menu MBG. Proses uji coba tersebut membutuhkan kolaborasi antara masyarakat penghasil sagu, SPPG, ahli gizi, Dinas Kesehatan, serta pemangku kepentingan lainnya.

Dengan pendekatan tersebut, sagu Salor diharapkan tidak hanya menjadi komoditas pangan lokal Papua Selatan, tetapi juga dapat berkembang menjadi salah satu sumber inovasi pangan lokal yang mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250