
Jakarta – AKBP Denny Septiawan, S.I.K., mengenang pertemuannya dengan Ibu Meri Hoegeng, istri mendiang Jenderal Hoegeng Imam Santoso, beberapa bulan sebelum beliau wafat. Pertemuan tersebut berlangsung di kediaman Ibu Meri Hoegeng dan meninggalkan kesan mendalam bagi perwira menengah Polri itu.

“Beberapa bulan lalu saya mendapat kesempatan berharga untuk bertemu langsung dengan Ibu Meri Hoegeng di kediaman beliau. Saya menerima banyak arahan dan pesan moral yang sangat berarti,” ujar AKBP Denny kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).
Denny menuturkan, meski telah berusia lanjut, Ibu Meri Hoegeng masih tampak segar, bugar, dan penuh semangat saat menyampaikan nasihat. Pesan-pesan yang disampaikan, kata dia, sarat dengan nilai integritas, kejujuran, serta pengabdian kepada bangsa dan negara.
“Beliau banyak menekankan pentingnya menjaga integritas dan kejujuran dalam setiap pelaksanaan tugas, terutama bagi anggota Polri. Itu pesan yang sangat kuat dan membekas bagi saya,” ungkapnya.
@redaksi.jakarta
Sebagai informasi, Jenderal Hoegeng Imam Santoso merupakan Kapolri yang menjabat pada periode 1968 hingga 1971. Dalam sejarah kepolisian Indonesia, Hoegeng dikenal luas sebagai sosok pemimpin yang tegas, berani, dan jujur di tengah situasi pemerintahan yang kala itu diwarnai praktik korupsi.
Ia dikenal konsisten memberantas korupsi, menolak penyalahgunaan kekuasaan, serta mendorong tegaknya keadilan hukum yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Meski tercatat sebagai salah satu Kapolri dengan masa jabatan relatif singkat—yakni pada periode 27 Maret 1966 hingga 25 Juli 1966—Hoegeng meninggalkan warisan keteladanan yang hingga kini masih dikenang.
AKBP Denny juga menyampaikan rasa duka cita mendalam atas wafatnya Ibu Meri Hoegeng, yang berpulang pada Selasa siang pukul 12.35 WIB.
“Kepergian Ibu Meri Hoegeng merupakan kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi keluarga besar Polri dan bangsa Indonesia. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” tutupnya.
Tidak ada komentar