
Jakarta – Pemerhati olahraga Zen Lussy menilai pola kepemimpinan La Nyalla Mattalitti di tubuh Pengurus Besar Muaythai Indonesia (PBMI) masa bakti 2022-2026 menunjukkan kecenderungan sentralistik dan minim ruang dialog. Menurutnya, kondisi tersebut memicu keresahan di kalangan pengurus daerah.

Zen mengatakan organisasi olahraga nasional semestinya dibangun di atas prinsip demokrasi, musyawarah, dan penghormatan terhadap aturan organisasi. Namun dalam praktiknya, ia menilai sejumlah keputusan strategis justru diambil secara sepihak.
“Keputusan penting seperti pemberhentian pengurus seharusnya dilakukan melalui mekanisme organisasi yang sah, seperti rapat pleno atau forum resmi sesuai AD/ART. Tapi yang terjadi justru banyak keputusan diambil tanpa ruang klarifikasi dan tanpa proses yang sehat,” kata Zen dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Ia menilai pola tersebut menimbulkan kesan bahwa organisasi dijalankan berdasarkan kehendak pribadi, bukan berdasarkan aturan bersama yang menjadi pedoman organisasi.
@redaksi.jakarta
Selain itu, Zen juga menyoroti respons PBMI terhadap kritik dari sejumlah pengurus provinsi. Menurutnya, kritik dan masukan dari daerah seharusnya dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap organisasi, bukan ancaman terhadap kepemimpinan.
“Ketika ada pengurus daerah yang menyampaikan kritik atau mosi terhadap kepemimpinan pusat, respons yang muncul justru pembekuan kepengurusan dan penunjukan pelaksana tugas. Ini menciptakan ketakutan di daerah,” ujarnya.
Ia menilai langkah tersebut menunjukkan minimnya ruang dialog dalam tubuh organisasi. Padahal, kata dia, organisasi yang sehat harus mampu menerima kritik dan menjadikannya bahan evaluasi.
Lebih jauh, Zen menilai pola komunikasi yang digunakan cenderung keras terhadap pihak-pihak yang berbeda pandangan. Dengan pengaruh dan jaringan yang dimiliki, menurutnya kekuatan organisasi seolah digunakan untuk membungkam suara-suara kritis.
“Akibatnya suasana organisasi menjadi tidak kondusif, penuh tekanan, dan jauh dari semangat kebersamaan yang seharusnya dibangun dalam dunia olahraga nasional,” tuturnya.
Zen menambahkan, kepemimpinan dengan pendekatan bertangan besi mungkin dapat menciptakan kepatuhan dalam jangka pendek, tetapi sulit membangun loyalitas yang tulus di dalam organisasi.
“Organisasi olahraga tidak bisa dibangun hanya dengan kekuasaan dan tekanan. Harus ada komunikasi, penghormatan terhadap aturan, dan kemampuan merangkul semua pihak,” katanya.
Ia pun berharap Muaythai Indonesia ke depan memiliki kepemimpinan yang lebih terbuka terhadap kritik dan mampu menjadi pemersatu di internal organisasi.
“Sebesar apa pun organisasi, akan rapuh jika dialog dimatikan dan aturan hanya dijadikan formalitas,” pungkasnya.
Tidak ada komentar