Ketika Dompet Makin Menipis, Penjelasan Makin Manis

Admin Pusat
10 Jun 2026 14:04
OPINI 0 366
4 menit membaca

Oleh: Suherman, M.A. (Guru Pendidikan Agama Islam SMAN 21 Jakarta)

banner 970x250

Ada anggapan lama yang cukup populer dalam kehidupan sosial-politik: semakin besar masalah yang dihadapi rakyat, semakin besar pula perlawanan yang akan muncul. Logikanya sederhana. Ketika tekanan mencapai titik tertentu, masyarakat akan bergerak, bersatu, lalu menuntut perubahan.

Namun kenyataan sering kali tidak berjalan sesederhana teori.

Yang justru lebih melelahkan bukanlah satu masalah besar yang datang sekaligus, melainkan rentetan persoalan yang hadir tanpa jeda. Hari ini harga kebutuhan pokok naik. Besok tarif berubah. Lusa muncul aturan baru. Minggu depan hadir lagi isu berbeda yang menuntut perhatian. Belum selesai memahami satu persoalan, sudah muncul persoalan lain. Belum sempat marah, sudah harus bingung. Belum sempat mencari solusi, sudah disibukkan oleh penjelasan baru.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Di era serba cepat seperti sekarang, bahkan kesulitan seolah diproduksi dengan ritme yang sama cepatnya.

Pada awalnya masyarakat masih memiliki energi untuk merespons. Ada yang menulis panjang di media sosial. Ada yang membuat video analisis. Ada yang berdebat di grup WhatsApp, mengumpulkan data, menyusun argumen, dan mengkritisi kebijakan. Masih ada keyakinan bahwa suara publik dapat membawa perubahan.

Tetapi manusia memiliki keterbatasan. Ada batas kesabaran, batas perhatian, dan yang paling sering terlupakan adalah batas energi untuk terus peduli.

Jika hanya ada satu persoalan, perhatian akan terfokus. Jika ada dua persoalan, orang masih bisa menentukan prioritas. Namun ketika sepuluh persoalan datang bersamaan, perhatian terpecah ke segala arah. Akibatnya, tidak ada satu pun yang benar-benar diperjuangkan secara penuh. Semua dibahas sebentar, lalu tenggelam oleh isu berikutnya.

Mungkin inilah bentuk kelelahan modern yang paling halus. Bukan melalui pembungkaman. Bukan melalui larangan berbicara. Bukan pula melalui intimidasi. Melainkan dengan membuat masyarakat begitu lelah hingga kehilangan tenaga untuk terus bersuara.

Lama-kelamaan pertanyaan publik pun berubah. Bukan lagi, “Bagaimana menyelesaikan masalah ini?” melainkan, “Hari ini masalah yang mana lagi?”

Sementara itu, penjelasan terus mengalir tanpa henti. Konferensi pers datang silih berganti. Grafik dipaparkan. Data dibacakan. Optimisme diumumkan. Narasi positif terus dijaga. Seolah-olah keadaan akan membaik selama penjelasan masih tersedia.

Padahal rakyat tidak selalu membutuhkan penjelasan yang semakin panjang. Kadang mereka hanya membutuhkan hidup yang sedikit lebih ringan.

Di situlah letak ironi yang sering dirasakan banyak orang. Ketika dompet semakin tipis, penjelasan justru semakin tebal. Ketika keluhan semakin banyak, presentasi semakin panjang. Ketika pertanyaan semakin sederhana, jawaban justru semakin berputar-putar.

Akibatnya sebagian masyarakat memilih diam. Bukan karena puas. Bukan karena setuju. Tetapi karena lelah.

Mereka seperti pelari maraton yang dipaksa berlari sprint setiap hari. Pada akhirnya yang dicari bukan lagi garis finis, melainkan tempat untuk duduk dan beristirahat sejenak.

Menariknya, rasa lelah itu juga membuat kemarahan kehilangan tenaga. Sebab yang dihadapi bukan sosok yang tampak keras atau garang. Yang hadir justru senyum lebar, optimisme tanpa batas, dan berbagai penampilan yang mengajak publik untuk tetap ceria.

Dan memang tidak mudah marah kepada seseorang yang terus tersenyum. Rasanya seperti sedang berdebat dengan maskot sebuah acara hiburan.

Maka perlahan sebagian rakyat memilih menjauh dari hiruk-pikuk perdebatan. Mereka tidak lagi mengikuti semua berita. Tidak lagi membaca setiap polemik. Tidak lagi berusaha menghafal seluruh kebijakan yang terus bermunculan.

Mereka mencari pelarian yang lebih menenangkan. Ada yang memancing. Ada yang ngopi bersama teman lama. Ada yang menonton video kucing berjam-jam. Ada pula yang khusyuk mengikuti pengajian atau kajian yang membahas persoalan dunia yang jauh dari kehidupan sehari-hari.

Dan anehnya, semua itu terasa menenangkan.

Mungkin karena ketika terlalu banyak persoalan menumpuk di depan mata, membahas sesuatu yang berjarak ribuan kilometer justru terasa lebih ringan daripada membahas isi dapur sendiri.

Begitulah manusia.

Ketika beban datang satu per satu, ia masih memiliki ruang untuk melawan. Namun ketika beban datang bertubi-tubi tanpa jeda, yang pertama kali hilang sering kali bukan keberanian, melainkan konsentrasi. Dan ketika konsentrasi hilang, protes perlahan berubah menjadi keluhan. Keluhan berubah menjadi desahan. Desahan berubah menjadi diam.

Tinggallah mulut yang masih terbuka, tetapi suara sudah habis.

Seperti ikan yang terdampar di tepi pantai. Masih bergerak. Masih berusaha bernapas. Masih berharap.

Sambil menunggu gelombang berikutnya datang, dan berharap gelombang itu tidak lebih besar daripada yang kemarin.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250