Masa Depan Sagu di Merauke, Masyarakat Marind Minta Pembangunan Pangan Tak Hanya Fokus pada Sawah

Admin Pusat
17 Sep 2026 08:32
INDONESIA NEWS 0 195
3 menit membaca

REDAKSIJAKARTA.COM | MERAUKE — Keberlanjutan sagu di Merauke, Papua Selatan, menjadi perhatian dalam Focus Group Discussion (FGD) Tim 11 Ekspedisi Patriot IPB University 2026 di Kampung Matara, Salor, pada 7 September 2026.

banner 970x250

Dalam forum tersebut, masyarakat Marind menyampaikan pentingnya menjaga sagu sebagai sumber pangan sekaligus bagian dari adat, pengetahuan lokal, dan identitas budaya.

Sagu memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Marind. Tanaman pangan tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi serta aturan adat yang mengatur kehidupan sosial masyarakat.

Karena itu, perubahan penggunaan lahan dan pergeseran pola konsumsi pangan dinilai perlu menjadi perhatian dalam pembahasan masa depan sagu di wilayah tersebut.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Salah satu pesan yang mengemuka dalam diskusi tersebut adalah, “Sagu habis, adat hilang.”

Pernyataan itu menggambarkan kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan berkurangnya keberadaan sagu yang selama ini memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan budaya mereka.

Dalam forum tersebut, masyarakat juga menegaskan bahwa pengetahuan orang asli Papua (OAP) mengenai sagu perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dan program pembangunan pangan.

Perubahan pola konsumsi dari sagu menuju beras turut menjadi bagian dari pembahasan. Masyarakat menyoroti tekanan terhadap ruang tumbuh sagu akibat perubahan penggunaan lahan.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan lokal, tetapi juga dengan kondisi lingkungan dan keberlanjutan sumber daya alam.

Dalam konteks ini, pengembangan pangan dinilai perlu memperhatikan potensi sagu yang telah lama dimanfaatkan masyarakat setempat.

Selain aspek pangan dan lingkungan, FGD tersebut juga mengangkat keberadaan aturan adat dalam pemanfaatan sagu.

Salah satu prinsip yang disampaikan masyarakat adalah larangan jual beli sagu di antara sesama suku Marind. Aturan tersebut mencerminkan nilai sosial dan kebersamaan yang melekat dalam pemanfaatan sagu.

Oleh sebab itu, pengembangan sagu tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi atau nilai ekonomi, tetapi juga perlu mempertimbangkan tata nilai yang berlaku di masyarakat.

Masyarakat juga menyampaikan harapan agar kegiatan pengumpulan data dan penelitian dapat ditindaklanjuti dengan langkah nyata. “Jangan ambil data-data saja, kita masyarakat bosan kalau terus-terusan seperti itu,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam forum.

Aspirasi tersebut menyoroti pentingnya kesinambungan antara proses penelitian, penyusunan rekomendasi, dan pelaksanaan program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Di sisi lain, pengembangan inovasi berbasis sagu turut menjadi gagasan yang dibicarakan. Salah satu contoh yang muncul adalah pengolahan sagu menjadi produk es krim.

Inovasi tersebut membuka ruang bagi pengembangan pemanfaatan sagu dalam bentuk baru, dengan tetap memperhatikan pengetahuan lokal dan nilai budaya masyarakat Marind.

Dalam pembahasan mengenai rencana jangka panjang, masyarakat turut menekankan pentingnya melihat keberlanjutan sagu dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan, penghargaan terhadap pengetahuan lokal, serta pengembangan inovasi menjadi sejumlah aspek yang mengemuka dalam diskusi tersebut.

Pesan lain yang disampaikan masyarakat dalam FGD itu ditujukan kepada pemerintah pusat, khususnya terkait arah pembangunan pangan nasional. “Sampaikan ke Bapak Menteri, jangan fokus ke sawah saja tetapi ke sagu juga,” demikian aspirasi yang disampaikan dalam forum.

Aspirasi tersebut menegaskan harapan agar pengembangan ketahanan pangan turut memperhatikan sumber pangan lokal yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Bagi masyarakat Marind di Matara, keberlanjutan sagu tidak hanya menyangkut ketersediaan bahan pangan, tetapi juga berkaitan dengan pelestarian adat, pengetahuan lokal, dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250