
Oleh: IHKRAM MULYA Ketua Umum PW SEMMI RIAU

Indonesia tengah memasuki momentum yang menentukan arah sejarahnya. Menuju satu abad kemerdekaan pada 2045, tantangan bangsa tidak lagi sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan bahwa pembangunan mampu melahirkan manusia yang unggul, institusi yang kuat, dan keadilan sosial yang berkelanjutan. Indonesia Emas pada akhirnya adalah proyek pembangunan peradaban.
Dalam pandangan Benedict Anderson, bangsa merupakan imagined community yang dipersatukan oleh cita-cita bersama.
Cita-cita itu tidak lahir secara otomatis, tetapi dibangun melalui pendidikan, organisasi, dan ruang publik yang sehat. Karena itu, kemajuan bangsa selalu bertumpu pada kualitas gagasan yang hidup di tengah masyarakat.
@redaksi.jakarta
Hal tersebut selaras dengan pemikiran Amartya Sen yang menempatkan manusia sebagai tujuan utama pembangunan.
Pertumbuhan ekonomi penting, tetapi tidak cukup. Pembangunan baru bermakna ketika memperluas kesempatan warga untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas, pekerjaan yang layak, layanan kesehatan, dan ruang berpartisipasi dalam kehidupan publik.
Pada saat yang sama, demokrasi Indonesia menghadapi tantangan baru. Perkembangan teknologi informasi memperluas akses terhadap pengetahuan, tetapi juga memunculkan polarisasi, disinformasi, dan perdebatan yang kerap kehilangan kedalaman.
Sebagaimana diingatkan Jürgen Habermas, demokrasi memperoleh legitimasi melalui ruang publik yang rasional, tempat gagasan dipertemukan dengan argumentasi, bukan sekadar opini yang saling dipertentangkan.
Sejarah bangsa menunjukkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari perubahan cara berpikir. Syarikat Islam yang dipelopori Haji Samanhoedi dan dikembangkan oleh H.O.S. Tjokroaminoto bukan hanya membangun gerakan politik, tetapi juga membentuk tradisi intelektual, kemandirian ekonomi, dan kepemimpinan berbasis nilai. Warisan terbesarnya bukan semata organisasi, melainkan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah fondasi perubahan sosial.
Tradisi tersebut tetap relevan dalam menghadapi tantangan Indonesia 2045. Organisasi kemahasiswaan tidak cukup menjadi ruang kaderisasi, tetapi perlu berkembang sebagai pusat produksi gagasan yang mampu menjembatani ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.
Kampus harus kembali menjadi ruang lahirnya intelektual publik yang menawarkan solusi atas persoalan kebangsaan, bukan sekadar merespons isu-isu sesaat.
Dalam konteks itu, Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), yang berakar pada tradisi perjuangan Syarikat Islam, memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan kembali budaya membaca, meneliti, menulis, dan berdialog sebagai fondasi kepemimpinan.
Relevansi organisasi mahasiswa pada masa depan tidak ditentukan oleh banyaknya agenda yang diselenggarakan, melainkan oleh kualitas gagasan dan kontribusinya terhadap kepentingan publik.
Pesan H.O.S. Tjokroaminoto, “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat,” tetap menjadi pengingat bahwa kepemimpinan harus dibangun di atas kapasitas intelektual, integritas moral, dan kebijaksanaan dalam membaca perubahan zaman.
Pada akhirnya, Indonesia 2045 akan ditentukan bukan oleh melimpahnya sumber daya alam ataupun besarnya investasi, melainkan oleh kemampuan bangsa membangun tradisi berpikir yang melahirkan kebijakan yang adil, institusi yang kuat, dan kepemimpinan yang berintegritas.
Di titik itulah warisan intelektual Syarikat Islam menemukan relevansinya, dan organisasi seperti SEMMI ditantang untuk membuktikan bahwa gagasan tetap menjadi kekuatan paling menentukan dalam membangun masa depan Indonesia.
Tidak ada komentar