Alam Tak Pernah Salah Alamat

Admin Pusat
11 Nov 2025 19:21
OPINI 0 470
5 menit membaca

Oleh: Moh. Hairud Tijani, S.Sos

banner 970x250

Seiring pesatnya pembangunan yang semakin cepat, hulu sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini perlahan gundul, debit air menurun, dan bencana datang silih berganti.

Di Jawa Barat, kerusakan lingkungan bukan lagi isu pinggiran, ia sudah menjadi kenyataan sehari-hari yang mengancam hajat hidup jutaan orang.

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, sepanjang tahun 2024/2025 terjadi lebih dari 1.200 kejadian bencana alam di Jawa Barat.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Di Garut dan Sumedang, banjir bandang merendam ratusan rumah dan menewaskan puluhan warga akibat alih fungsi lahan.

Sementara di Kabupaten Sukabumi, longsor pada kawasan perbukitan kembali menelan korban dan menutup akses jalan utama.

Kedua peristiwa ini menjadi potret nyata bahwa kerusakan lingkungan tidak lagi jauh dari kehidupan sehari-hari.

Tokoh lingkungan sekaligus Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pernah mengingatkan, rusaknya kawasan hulu seperti Gunung Wayang dan Gunung Windu di Bandung bukan sekadar kehilangan pepohonan, tetapi kehilangan masa depan air bersih.

Hulu yang rusak berarti aliran air di hilir terancam masyarakat perkotaan akan merasakan dampaknya.

Sementara itu, Forum Kader Konservasi Indonesia (FK3I) menyebut 2025 sebagai “tahun terberat” bagi upaya pelestarian lingkungan di Jawa Barat.

Laporan-laporan ini menggambarkan betapa gentingnya situasi ekologi di provinsi yang selama ini menjadi penyangga kehidupan ekonomi nasional.

Tidak sedikit pula penolakan datang dari pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh kebijakan lingkungan.

Misalnya, saat pemerintah menertibkan perusahaan yang terbukti mencemari sungai atau membuka lahan tanpa izin, justru muncul pembelaan dari oknum masyarakat yang mengatasnamakan “nasib pekerja” atau “ekonomi daerah”. Padahal yang sebenarnya dipertahankan bukan keberlanjutan hidup, melainkan kepentingan jangka pendek.

Kasus semacam ini kerap terjadi di sejumlah wilayah industri di Jawa Barat dan Banten, di mana perusahaan besar menimbun limbah, membuang bahan kimia ke aliran sungai, atau merusak lahan pertanian warga.

Tiga Konsep Masa Depan Hijau

Selama ini potret pembangunan sering menempatkan lingkungan hanya sebagai pelengkap.

Paradigma ini keliru. Ekonomi, sosial, dan lingkungan sejatinya adalah satu kesatuan ekosistem. Tanpa hutan yang sehat, air yang bersih, dan tanah yang subur, pertumbuhan ekonomi tidak akan bertahan lama.

Kita akan membayar mahal melalui bencana, gagal panen, hingga krisis kesehatan masyarakat.

Di sinilah pentingnya menata ulang arah pembangunan Jawa Barat dan Indonesia secara luas menuju pola yang berkelanjutan.

Bukan sekadar menanam pohon seremonial, melainkan menciptakan sistem baru yang menyatukan inovasi, kebijakan, dan kesadaran masyarakat.

Pertama, pemulihan ekologi hulu harus menjadi prioritas.

Hulu ibarat jantung dari seluruh siklus kehidupan. Pemerintah daerah dapat memanfaatkan teknologi satelit dan Internet of Things (IoT) untuk memantau perubahan tutupan lahan secara real-time.

Program reboisasi perlu digandengkan dengan pola agroforestry menanam pohon yang produktif sekaligus menjaga tanah agar tetap kuat.

Ketika masyarakat di kawasan hulu memperoleh nilai ekonomi dari menjaga alam, pelestarian tidak lagi menjadi beban, melainkan sumber penghidupan.

Kedua, dorong ekonomi hijau berbasis sirkularitas. Jawa Barat memiliki kawasan industri padat di Bekasi, Karawang, hingga Bandung Raya.

Potensi limbah yang dihasilkan luar biasa besar, tapi justru di sanalah peluang tercipta. Dengan konsep eco-industrial park, limbah dari satu industri bisa menjadi bahan baku bagi industri lain. Pemerintah dapat memberikan insentif bagi pelaku usaha yang mengadopsi sistem daur ulang energi, air, dan material.

Begitu pula di level kota: pengelolaan sampah terintegrasi berbasis teknologi, pengolahan limbah organik menjadi energi, dan pengembangan bank sampah digital bisa menjadi wajah baru ekonomi sirkular Indonesia.

Ketiga, pendidikan dan partisipasi publik. Inovasi hanya akan hidup bila ditopang oleh kesadaran kolektif. Sekolah, pesantren, dan kampus harus menjadi laboratorium lingkungan.

Kurikulum pendidikan bisa diperluas ke praktik nyata seperti audit sampah sekolah, kebun pangan mandiri, atau proyek riset siswa tentang energi terbarukan.

Program seperti Green Innovation Camp di Banten, yang mengajak pelajar menciptakan solusi STEM untuk masalah lingkungan, bisa direplikasi di Jawa Barat.

Ketika generasi muda dilatih berpikir ekologis, mereka akan tumbuh sebagai warga yang peka sosial.

Alam Tak Pernah Salah Alamat

Krisis lingkungan hari ini seharusnya menjadi momentum transformasi. DPRD Jawa Barat telah menyerukan pemetaan ulang kondisi lingkungan untuk memperbarui arah kebijakan.

Langkah itu harus diikuti oleh tindakan konkret menetapkan kawasan prioritas konservasi, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan mendorong proyek percontohan di tiap kabupaten. Bayangkan jika di hulu Citarum berdiri Desa Resapan Mandiri, di kawasan industri Bekasi tumbuh Zona Ekonomi Limbah Sirkular, dan di sekolah-sekolah kota Bandung hadir “Eco-Lab Sekolah Hijau”.

Ketiganya bisa menjadi model nyata bahwa inovasi dan kelestarian dapat berjalan beriringan.

Namun jalan menuju keberlanjutan tidak mulus. Biaya inovasi kerap tinggi, sementara hasilnya baru terlihat beberapa tahun kemudian.

Resistensi dari sektor lama yang belum siap berubah juga menjadi tantangan. Karena itu, kolaborasi lintas aktor sangat penting pemerintah menyediakan regulasi dan dukungan fiskal, industri membawa teknologi dan investasi, sementara masyarakat menjaga semangat kolektif di tingkat lokal.

Jika kita mau jujur, alam sebenarnya tidak pernah marah ia hanya merespons tindakan manusia.

Longsor, banjir, kekeringan, dan polusi bukan kutukan, tetapi konsekuensi dari keserakahan dan kelalaian. Maka menjaga alam berarti menjaga diri sendiri.

Kini, kita memiliki dua pilihan: terus berjalan dengan pola lama yang merusak, atau berani mengubah arah menuju masa depan hijau. Jawa Barat memiliki modal sosial dan kreativitas tinggi; tinggal bagaimana modal itu diarahkan untuk keberlanjutan.

Saat teknologi, tradisi, dan kesadaran bersatu, maka Tanah Pasundan bisa kembali menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam.

Menyelamatkan lingkungan bukan tugas segelintir aktivis, tapi tanggung jawab moral seluruh warga.

Ketika seorang petani menanam pohon di pinggir sawah, ketika pelajar menolak plastik sekali pakai, atau ketika industri mengubah limbah jadi energi di sanalah masa depan tumbuh.

Penulis adalah  alumnus UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia aktif menulis dan meneliti isu-isu sosial, budaya, serta sejarah. Saat ini, ia juga tergabung dalam Komunitas Ayo Less Waste (ALW) yang berfokus pada gerakan edukasi lingkungan dan pengelolaan sampah berkelanjutan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250