Anak Muda Betawi Dinilai Jadi Korban Politik Identitas, Masykur Isnan Desak Perubahan Strategis di Era Pram–Doel

Redaksi Eksekutif
13 Jun 2025 01:14
NEWS 0 391
3 menit membaca

Jakarta, 13 Juni 2025— Ketua Pemuda Betawi, Masykur Isnan, menyampaikan kritik tajam terhadap dinamika politik pasca pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung dan Rano Karno (Pram–Doel).

banner 970x250

Ia menyebut anak muda Betawi kembali dikorbankan dalam kontestasi politik sebagai simbol etnis semata—bukan sebagai subjek kebijakan yang diberdayakan secara nyata.

“Kontestasi Pilkada Jakarta menjadi ajang paling brutal dalam pengorbanan anak muda Betawi. Ruang partisipasi hanya sebatas kemasan simbolik dukungan etnis untuk kepentingan elektoral. Setelahnya, kembali pada pola lama: seremonial dan gimmick,” ujar Masykur.

Ia menyebut hingga kini tidak ada program sistemik yang menyasar pemberdayaan anak muda Betawi secara serius.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Masykur menyoroti tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), sempitnya peluang kerja, dan program job fair yang hanya menyentuh permukaan.

“Salah satu masalah besar adalah competency gap. Program sementara seperti job fair tidak menyentuh akar masalah. Kita butuh kebijakan berkelanjutan yang menguatkan kapasitas generasi muda, bukan hanya bagi-bagi panggung,” tegasnya.

Masykur juga menyinggung budaya patronase dalam distribusi jabatan publik yang masih kuat. “Yang terjadi adalah politik balas jasa. Siapa dekat, dia dapat. Kompetensi dan kapasitas dikalahkan oleh kedekatan. Ini berbahaya bagi profesionalisme birokrasi Jakarta,” lanjutnya.

Lebih jauh, Masykur mendesak agar kanal-kanal organisasi yang mengatasnamakan kebetawian dievaluasi ulang.

Menurutnya, organisasi seharusnya menjadi ruang kontribusi dan pemberdayaan, bukan ladang cari makan bagi oknum tanpa kontribusi.

“Kanal organisasi perlu diuji ulang optimalisasi nya. Ruang-ruang anak muda Betawi bertalenta harus dibuka, jangan ditutupi oleh oknum yang hanya mencari nasi di organisasi tanpa kontribusi. Pilihannya: masuk ke dalam dan memperbaiki, atau bernyali membuat gebrakan baru,” tegas Masykur.

Ia menambahkan, “Sulit jika kondisi ini dipertahankan. Seperti menegakkan benang basah. Apatisme politik harus diubah menjadi politik substantif dan partisipatif. Suara anak muda Betawi, insyaallah, punya nilai dan posisi—tinggal dikolektifkan pada nilai yang sama, yakni kebetawian yang dianggap dan diharap bisa mewujud.”

Maskur mengingatkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk menyiapkan masa depan. “Sedari sekarang perlu menatap 2029. Jikalau bagus pemerintahan Jakarta hari ini, maka didukung. Namun jika sebaliknya, masukkan ke karung, buang ke kali.

Pilih aktor politik yang relevan. Pendidikan dan partisipasi politik adalah keniscayaan, karena kebijakan publik dilahirkan dari kerja politik.

Bukan berarti semua harus masuk politik, tapi setidaknya hak politik warga jangan dibuang percuma. Keburukan hadir karena dibiarkan,” ujarnya.

Menurutnya, masyarakat Betawi memiliki modal sosial penting untuk bangkit, yakni inklusivitas dan keterbukaan. “Betawi adalah masyarakat inklusif, toleran, terbuka pada banyak hal. Ini modal bagus. Aksesibilitas Betawi sangat terbuka di pelbagai pihak.

Ditambah saat ini sudah banyak anak muda Betawi bertalenta dan terdidik. Perlu di orkestrasi dengan merdu agar punya dampak dan daya tawar tinggi—khususnya dalam mengawasi pembuatan dan implementasi kebijakan publik oleh para pejabat, maupun saat kontestasi demokrasi 2029,” ucapnya.

Masykur juga menyebut bahwa tawaran politik kepada komunitas Betawi harus bernilai tinggi, jika partai politik ingin mendapatkan suara generasi muda Betawi.

“Tawaran politik harga tinggi kepada partai politik menjadi target utama jika mau mendapat suara anak muda Betawi. Ini bisa terjadi jika kesadaran kolektif hadir dan diimbangi gerak progresif. Tidak ada yang tidak mungkin jika belum dimulai,” katanya.

Ia berharap, dukungan dan soliditas para tokoh, senior, dan ormas Betawi bisa terwujud secara nyata. “Kalau itu bisa diwujudkan, Betawi tidak hanya jadi komoditas politik, tapi jadi penentu pemimpin dan arah masa depan. Sudah cukup Betawi jadi komoditi. Kini saatnya Betawi punya arti—terutama di kampungnya sendiri,” pungkasnya. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250