Oleh: Aisyah (Aktivis Kemanusiaan & Lingkungan)

“Penjajahan atas wilayah dimulai dari penjajahan atas pikiran.”
— Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi
Dalam kuliah umum “Beyond 1948: Reclaiming the Palestinian Intellectual Legacy & Confronting the Intellectual Nakba” yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia – Direktorat Pengabdian Inovasi Sosial Center bersama dengan UI Students for Justice in Palestine pada Senin, 20 Oktober 2025, Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi, seorang penyintas Nakba dan Fellow of the Royal Historical Society (UK), menyampaikan refleksi mendalam tentang bentuk penjajahan baru: bukan hanya perebutan wilayah, tetapi juga penjajahan terhadap pemikiran.
Beliau menceritakan bagaimana ayahnya berjuang agar ia bisa menempuh studi di luar negeri demi membebaskan negaranya — bukan dengan senjata, tetapi dengan ilmu. Selama lebih dari tiga dekade, Prof. El-Awaisi meneliti arsip-arsip Inggris untuk menemukan kebenaran sejarah yang selama ini dikaburkan.
@redaksi.jakarta
Hasil riset panjang itu membawanya pada kesimpulan: penjajahan terhadap Palestina adalah proyek kolonialisme intelektual sebelum menjadi kolonialisme teritorial.

Foto: Dok. Humas UI 2025
Dari dokumen kolonial Inggris, Prof. El-Awaisi menemukan bahwa penjajahan pikiran sudah dimulai jauh sebelum tahun 1948, bahkan sejak 1917 — ketika Inggris membuka jalan bagi berdirinya proyek kolonial bernama Israel. Inilah yang disebutnya sebagai “Intellectual Nakba” atau bencana intelektual.
Melalui narasi dan propaganda, rakyat Palestina digambarkan seolah bukan pemilik sah wilayah mereka sendiri. Zionisme membuat wacana global bahwa Palestina harus menyerahkan negaranya kepada penjajah yang justru telah mengusir dan membunuh mereka.
Narasi ini disusun secara akademis dan disebarkan melalui universitas-universitas Barat, sementara di dunia Muslim isu Palestina sering kali hanya dibahas secara emosional.
Prof. El-Awaisi menyoroti fenomena perbudakan intelektual — ketika dunia Muslim menjadi konsumen pasif pengetahuan, produk, dan budaya Barat tanpa sikap kritis. Kita membeli, mengadopsi, dan mempercayai narasi mereka tanpa sadar bahwa itu bagian dari kolonialisasi ide.
Yang lebih parah, sebagian besar riset dan diskursus akademik tentang Palestina justru bersumber dari literatur Zionis. Menurut Prof. El-Awaisi, masalahnya bukan pada para akademisi, tapi pada institusi pendidikan yang tidak menyediakan alternatif.
Dari ribuan universitas di dunia Muslim, hampir tidak ada yang memiliki kurikulum khusus tentang Palestina. Ini menjadi bukti nyata penjajahan intelektual — karena kita hanya menjadi pembaca narasi penjajah, bukan penulis sejarah kita sendiri.
Dukungan emosional terhadap Palestina memang besar, tetapi tidak cukup tanpa langkah akademik yang konkret. Emosi tanpa aksi hanya melahirkan simpati sesaat, bukan perubahan struktural.
“Cinta kita pada Palestina masih 100% emosional. Padahal emosi tanpa arah intelektual tidak akan menyelamatkan korban genosida,” ujar Prof. El-Awaisi.
Sebagai penyintas yang kehilangan dua saudara perempuan dan satu saudara laki-laki akibat genosida, ini merupakan jeritan nurani seorang saksi hidup.

Foto: Dok. Humas UI 2025
Prof. El-Awaisi menaruh harapan besar pada Indonesia. Sebagai bangsa yang pernah dijajah, Indonesia tahu persis bagaimana rasanya kehilangan kedaulatan. Ia yakin Indonesia mampu menjadi pemimpin gerakan intelektual global untuk pembebasan Palestina.
“Indonesia layak dan mampu memimpin kebangkitan intelektual tentang Palestina. Saya siap membantu dengan kurikulum dan langkah praktisnya,” kata beliau.
Bagi Prof. El-Awaisi, perjuangan bukan lagi sekadar solidaritas emosional, tetapi pembangunan kerangka berpikir yang orisinil dan merdeka dari pengaruh Barat.
Jika dunia Muslim tidak menulis narasinya sendiri, selamanya kita akan membaca sejarah dari kacamata penjajah.
Prof. El-Awaisi menegaskan bahwa Israel bukanlah negara, melainkan proyek kolonialisme Barat yang beroperasi di bawah narasi palsu “perdamaian.”
Perjanjian damai hanyalah alat untuk melanggengkan genosida.
Pembebasan Palestina tidak cukup dimulai dari medan perang, tetapi dari perpustakaan, ruang kelas, dan pikiran.
Penjajahan tidak dimulai pada 1948, melainkan sejak 1917.
Dan untuk melawannya, umat Muslim harus membangun kembali kekuatan berpikir, menulis, dan menafsirkan sejarahnya sendiri.
“Kita tidak bisa terus meminjam kerangka berpikir dari penjajah. Karena siapa yang menguasai narasi, dia yang menguasai masa depan,” tegas beliau.

Foto: Dok. Humas UI 2025
Catatan
Public Lecture ini diselenggarakan oleh Universitas Indonesia – Direktorat Pengabdian Inovasi Sosial Center bersama dengan UI Students for Justice in Palestine dan dapat disaksikan kembali melalui kanal YouTube Universitas Indonesia.
Tidak ada komentar