Cara Unik Habib Athos Mengkritik dan Mengecam Kasus Khamr yang ditukar Surat Ad-Dhuha

Admin Pusat
17 Agu 2026 08:24
4 menit membaca

REDAKSIJAKARTA.COM | JAKARTA, Sabtu 15 Agustus 2026 — Kritik terhadap polemik penggunaan Surat Ad-Dhuha yang dikaitkan dengan pemberian minuman keras disampaikan dengan cara berbeda oleh Al Habib Athos Abdullah bin Sayyidil Walid Al Habib Hasan bin Ja’far Assegaf, Khalifah Nurul Musthofa.

banner 970x250

Bersama Pemuda Kaum Betawi, Majelis Nurul Musthofa menggelar Pemuda Jakarta Bersholawat di Warung Kopi Ciganjur (Warkocig), Jakarta Selatan. Sekitar seribu jamaah hadir dan mengikuti rangkaian kegiatan yang diisi dengan sholawat, Mahalul Qiyam, tausiyah, serta pembacaan Al-Qur’an.

Kegiatan tersebut berlangsung di tengah keresahan masyarakat setelah beredarnya video mengenai tantangan melafalkan Surat Ad-Dhuha yang dikaitkan dengan pemberian sebotol minuman keras dalam festival musik The Sounds Project di kawasan Ancol, Jakarta Utara.

Alih-alih merespons polemik tersebut melalui aksi massa atau seruan yang berpotensi menimbulkan kegaduhan, Al Habib Athos memilih menyampaikan kritik melalui pendekatan keagamaan. Salah satunya dilakukan melalui sebuah sesi yang diberi makna simbolik “Merebut Kembali Ad-Dhuha”.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Di hadapan jamaah, Al Habib Athos menyampaikan ajakan kepada para pemuda untuk melafalkan Surat Ad-Dhuha dengan tartil.

“Ya akhi, tadi kita dengar bersama. Di sana, Ad-Dhuha ditukar dengan sebotol miras. Siapa yang mampu melafalkan Surat Ad-Dhuha dengan tartil akan mendapat hadiah, bukan botol, bukan yang haram, tapi rezeki yang halal dan berkah,” ujar Al Habib Athos.

Ajakan tersebut kemudian disambut tiga pemuda yang maju untuk membacakan Surat Ad-Dhuha di hadapan jamaah. Setelah menyelesaikan bacaannya, ketiganya mendapatkan hadiah langsung.

Momen itu menjadi bagian penting dari pesan yang ingin disampaikan dalam kegiatan tersebut. Surat Ad-Dhuha yang sebelumnya menjadi sorotan karena dikaitkan dengan minuman keras, dihadirkan kembali dalam suasana majelis sebagai bagian dari kegiatan membaca Al-Qur’an dan mendekatkan diri kepada nilai-nilai agama.

Kritik Melalui Keteladanan

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kritik terhadap sebuah fenomena sosial tidak selalu harus dilakukan melalui konfrontasi. Dalam kegiatan Pemuda Jakarta Bersholawat, pesan disampaikan dengan mengajak generasi muda melakukan hal yang dinilai lebih positif.

Al Habib Athos menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat kegiatan dan memberikan apresiasi kepada pemuda yang mampu membaca Surat Ad-Dhuha dengan baik.

Cara tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka belajar agama, berkumpul dalam lingkungan positif, serta mendapatkan teladan dari para guru dan ulama.

Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, H. Masykur Isnan, SH., MH., mengatakan pihaknya memilih pendekatan kultural dalam merespons persoalan moral yang melibatkan generasi muda.

“Kami di Pemuda Kaum Betawi memilih jalan yang lain. Bukan jalan grebek, bukan jalan bentak-bentak, bukan jalan yang justru menambah kegaduhan. Cara-cara seperti itu, dengan segala hormat, belum tentu menyentuh hati pemuda hari ini,” ujarnya.

Menurut Masykur, pendekatan melalui majelis, sholawat, dan pengajian dinilai lebih dekat dengan tradisi masyarakat Betawi.

“Kami memilih jalan majelis. Jalan sholawat. Jalan mengaji. Karena pemuda Betawi itu dari dulu dibesarkan di majelis, bukan di jalanan. Kami bergerak sesuai wataknya orang Betawi, tegas tapi santun, tegur tapi rangkul,” katanya.

Ia menegaskan, persoalan hukum tetap menjadi kewenangan aparat penegak hukum. Sementara itu, organisasi kepemudaan memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan membina generasi muda.

“Yang salah tetap harus ditegakkan hukumnya oleh aparat, tapi tugas kami merawat yang belum rusak, dan memanggil pulang yang sudah tergelincir,” ujar Masykur.

Gerakan Pembinaan Pemuda

Masykur menambahkan, kegiatan tersebut tidak dimaksudkan sebagai agenda satu kali. Pemuda Kaum Betawi bersama Majelis Nurul Musthofa dan majelis lainnya di Jakarta berencana terus mendorong kegiatan yang dapat menjadi ruang pembinaan bagi generasi muda.

Menurutnya, pemuda Ibu Kota membutuhkan lingkungan yang dapat menjadi tempat belajar, berdiskusi, mengaji, dan mendapatkan bimbingan dari para guru.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan lantunan Mahalul Qiyam. Para jamaah berdiri dan bersama-sama melantunkan sholawat dalam suasana yang khidmat.

Di tengah sorotan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda, kegiatan Pemuda Jakarta Bersholawat menjadi salah satu bentuk respons berbasis pendekatan keagamaan dan budaya.

Pesan yang dibawa sederhana, yakni mengajak pemuda Jakarta kembali dekat dengan Al-Qur’an, majelis, guru, serta lingkungan yang dapat memperkuat akhlak.

Bagi Pemuda Kaum Betawi dan Majelis Nurul Musthofa, menjaga masa depan Jakarta tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan memastikan generasi mudanya memiliki nilai, karakter, dan ruang yang sehat untuk tumbuh.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250