Diskusi Online: Konsep Intelijen Dalam Mengatasi Berita Ujaran Kebencian

Redaksi Jakarta
14 Mei 2023 15:05
NEWS 0 147
3 menit membaca

Redaksijakarta.com – Melihat kondisi masyarakat yang hampir terlena dan terjebak dengan berita-berita sentimen, hoaks dan berita ujaran kebencian, atas peristiwa tersebut mahasiswa sangat prihatin dan mencoba untuk melakukan pengkajian lebih mendalam.

banner 970x250

Salah satunya dengan konsep diskusi online yang diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Penegak Demokrasi, dengan mengangkat tema “Dialektika Intelijen; 5C (Collect, Construct, Contact, Compromise, Contagion) VS PPRR (Prevention, Preparation, Response, Recovery)”. Acara tersebut dihadiri oleh pengamat intelijen keamanan sebagai narasumber dan mahasiswa serta pemuda sebagai audiens.

Dialektika adalah metode penalaran yang bertujuan untuk memahami hal-hal secara konkret dalam semua gerakan, perubahan, dan interkoneksi, dengan sisi-sisi yang berlawanan dan saling bertentangan dalam kesatuan.

Dalam hal kaitannya dengan peran intelijen terkait suatu ancaman dan cara mengatasinya. Ujaran kebencian melalui sosial media adalah salah satu bentuk ancaman yang sulit untuk dapat dikendalikan bilamana sudah menjadi viral ditengah masyarakat.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

“Menurut laporan terbaru We Are Social dan Hootsuite, jumlah pengguna media sosial di seluruh dunia mencapai 4,76 miliar pada Januari 2023. Angka ini setara 59,4% dari total populasi dunia saat ini. Dan di Indonesia sendiri menurut laporan We Are Social menunjukkan jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia sebanyak 167 juta orang pada Januari 2023. Jumlah tersebut setara dengan 60,4% dari populasi di dalam negeri”. Papar Hendrik selaku pengamat Intelejen Keamanan.

Berarti kesimpulanya masyarakat Indonesia lebih sering mendapatkan informasi dari sosial media, dengan demikian berita terkait ujaran kebencian tentu akan menjadi salah satu faktor penghambat perkembangan literasi dan mengancam ketahanan nasional dalam negeri. Dengan cara kerja dan konsep intelijen dalam menekan pola penyebaran berita ujaran kebencian yang semakin masif dapat dilakukan dengan beberapa cara. Hendrik menyampaikan terkait pola dan cara mengatasinya.

Hendrik selaku pengamat Intelejen Keamanan.

“misalnya dengan pola penangkalan ujaran kebencian melalui sosial media sebagai suatu ancaman dapat digunakan yang diperkenalkan Prunckun (penulis buku Handbook of Scientific Methods of Inquiry for Intelligence Analysis, 2010), yang terdiri dari empat elemen, yaitu prevention, preparation, response, dan recovery atau dikenal dengan model PPRR”.

Senada narasumber sebelumnya, Husein selaku Ketua Umum HMI Cabang Jakarta Pusat Utara, dalam pemaparanya menyampaikan peran mahasiswa sebagai agen kontrol sosial dan agen perubahan sudah saatnya ikut andil membantu negara dalam menangkal berita-berita yang mengandung unsur ujaran kebencian.

“kita ketahui bahwa bentuk penyebaran atau contagion dari virus berita ujaran kebencian ini sangat cepat maka masyarakat juga perlu adanya kecerdasan literasi hingga semua anggota masyarakat dapat menjadi individu  pemutus kata, yang aktif mengedukasi diri untuk tidak menyebarkan berita ujaran kebencian dan tidak menjadi bagian dari oknum pengujar kebencian”. tegas Husein.

Ditengah derasnya berita-berita terkait ujaran kebencian yang begitu cepat proses penyebaranya lewat sosmed, peran intelijen kemanan terus bekerja dan berdialektika dengan keadaan ancaman ujaran kebencian yang semakin masif dan terstruktur. Dialektika perkembangan strategi intelijen keamanan dalam mengatasi berita ujaran kebencian terus dikembangkan sesuai dengan media perantara dan cara yang dilakukan oleh oknum pengujar kebencian tersebut. Tutupnya.(red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250