
Jakarta, 15 Mei 2025 – Proyek pembangunan breakwater atau pemecah ombak yang dilaksanakan oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) dan Suku Dinas SDA Kepulauan Seribu dinilai sarat kepentingan dan tidak berpihak pada masyarakat. Ketua DPC Gerindra Kepulauan Seribu, Muhamad Rodin, menyatakan kekecewaannya terhadap kebijakan tersebut.

“Proyek bernilai ratusan miliar rupiah ini tidak sesuai harapan masyarakat. Ini proyek gagal, minim manfaat, dan hanya merupakan proyek turunan dari reklamasi Teluk Jakarta,” ujar Rodin.
Ia menegaskan bahwa proyek ini justru merusak lingkungan pesisir. Menurutnya, seluruh biota laut termasuk terumbu karang di sekitar pantai rusak akibat penurunan material ke dasar laut yang tidak terencana.
“Pengerjaannya asal-asalan. Saya memiliki foto bawah laut yang menunjukkan kerusakan karang, susunan breakwater yang semrawut, dan dampak serius pada ekosistem. Jika karang mati, biota laut pun ikut hilang. Kalau tanggul roboh, lalu apa yang bisa diharapkan dari proyek ini?” jelas Rodin.
@redaksi.jakarta
Rodin mempertanyakan bagaimana proyek yang merusak lingkungan ini bisa disahkan oleh DPRD DKI Jakarta tanpa kajian yang matang. Ia juga curiga ada kepentingan tertentu yang meloloskan proyek tersebut.
“Pembangunan seperti ini tidak perlu dilanjutkan. Jalan lingkar yang sudah mengelilingi setiap pulau seharusnya cukup untuk menghambat abrasi,” tambahnya.
Rodin menegaskan bahwa proyek tersebut bertentangan dengan semangat efisiensi anggaran sebagaimana diarahkan oleh Presiden Prabowo. Ia menyarankan agar anggaran yang besar itu dialokasikan untuk kebutuhan riil masyarakat.
“Ketersediaan air bersih, peningkatan sektor pariwisata, konservasi terumbu karang, serta penanaman mangrove demi target nol emisi karbon 2060 adalah prioritas utama masyarakat Pulau Seribu, bukan menenggelamkan beton ke laut,” pungkasnya.
Tidak ada komentar