Dari Sawah ke Meja Sekolah: MBG 2026 Dorong Serapan Beras dan Perkuat Ekonomi Rakyat

Admin Pusat
20 Apr 2026 15:04
INDONESIA 0 1110
2 menit membaca

REDAKSI JAKARTA, 20 April 2026 — Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional memasuki fase baru.

banner 970x250

Setelah mencatat capaian swasembada beras berkelanjutan di awal 2026, pemerintah kini mengakselerasi distribusi dan konsumsi melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tidak hanya menyasar pemenuhan gizi siswa, tetapi juga menggerakkan ekonomi berbasis kerakyatan.

Ketua Bidang Pertanian dan Ketahanan Pangan Majelis Nasional KAHMI, Laca Muhammad, menilai kehadiran MBG menjadi solusi konkret dalam menyerap surplus produksi beras nasional.

Ia menyebut, pada musim tanam pertama tahun ini, Indonesia mencatat kelebihan produksi mencapai 2,4 juta ton.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

“Program MBG membuka jalur distribusi yang jelas bagi petani. Surplus beras dapat terserap optimal di dalam negeri, sehingga tidak menekan harga di tingkat produsen,” ujarnya.

Menurut Laca, skema kerja sama antara petani dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memberikan kepastian pasar yang selama ini menjadi tantangan utama sektor pertanian.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Sumarno, petani asal Bojonegoro, Jawa Timur. Setelah menjalin kontrak dengan SPPG setempat, ia mampu menyalurkan 1,5 ton beras setiap bulan dengan harga stabil di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

“Pendapatan bersih meningkat sekitar 22 persen sejak ada kontrak tetap,” ungkapnya.

Tak hanya berdampak pada petani, implementasi MBG juga membuka lapangan kerja dalam skala besar. Hingga April 2026, tercatat sekitar 25 ribu unit SPPG telah beroperasi di berbagai daerah.

“Secara nasional, program ini telah menyerap sekitar 1,2 juta tenaga kerja,” kata Laca.

Dari sisi masyarakat, terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah, program ini turut meringankan beban pengeluaran harian. Penghematan biaya pangan diperkirakan mencapai 10 hingga 15 persen.

Selain itu, terdapat peningkatan angka kehadiran siswa sebesar 4,5 persen di sekolah-sekolah penerima manfaat, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan pangan tinggi.

Laca menegaskan, MBG bukan sekadar program bantuan, melainkan strategi jangka panjang yang menghubungkan sektor produksi, distribusi, hingga konsumsi secara terintegrasi.

“Program ini telah memberikan dampak nyata, baik terhadap ekonomi masyarakat, ketahanan pangan, maupun pemenuhan gizi bagi lebih dari 18 juta siswa. Ke depan, cakupannya akan terus diperluas,” tegasnya.

Dengan demikian, MBG dinilai menjadi instrumen penting dalam memastikan hasil pertanian terserap maksimal sekaligus membangun fondasi generasi yang lebih sehat.

Integrasi antara swasembada pangan dan intervensi gizi ini menjadi salah satu pilar utama dalam memperkuat kedaulatan nasional dari tingkat paling dasar: meja makan masyarakat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250