HARUSKAH BERDAKWAH DENGAN MENGHINA?

Redaksi Jakarta
6 Des 2024 16:28
OPINI 0 765
4 menit membaca

Oleh: Rozi, Dosen Agama Islam Universitas Bangka Belitung

banner 970x250

Belakangan ini, kasus Gus Miftah, seorang ulama dan pendakwah ternama, yang mengolok-olok tukang es teh dalam sebuah ceramahnya, menjadi bahan perbincangan hangat. Dalam ceramah tersebut, Gus Miftah terlihat menertawakan seorang tukang es teh dengan menggunakan kata-kata yang bersifat merendahkan. Meskipun ia kemudian meminta maaf atas tindakannya, peristiwa ini mengingatkan kita pada pentingnya berdakwah dengan rasa hormat dan kasih sayang, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Dakwah sejati adalah dakwah yang mengedepankan kelembutan, penghormatan, dan hikmah. Nabi Muhammad SAW tidak pernah berdakwah dengan mengejek atau merendahkan orang lain, apalagi mempermalukan mereka di hadapan umum. Sebagai Rasul, beliau senantiasa menjaga martabat orang lain dan menyampaikan ajaran Islam dengan penuh kasih sayang.

Tindakannya yang penuh kelembutan dan kesabaran menjadikan dakwah Nabi diterima dengan baik, bahkan oleh mereka yang awalnya menentang Islam. Nabi mengajarkan bahwa menghina atau merendahkan seseorang, terutama dalam dakwah, justru menghalangi tujuan utama penyebaran Islam: mengajak kepada kebaikan dan kedamaian.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Gus Miftah dikenal sebagai pendakwah yang aktif dan blak-blakan, namun gaya ini terkadang memunculkan kontroversi. Dalam kasus ini, meskipun tidak ada niat buruk, tindakan mengolok-olok seseorang, terlebih di depan publik, dapat merusak hubungan sosial dan menghina martabat individu.

Dakwah dengan Hikmah dan Penghormatan

Salah satu inti dakwah adalah menjaga perasaan dan martabat orang lain. Kata-kata yang menyakitkan atau merendahkan, meski hanya untuk bercanda, dapat membuat seseorang merasa dihina. Dalam dakwah, ini justru berisiko menjauhkan orang dari pesan yang ingin disampaikan. Bukan rasa ingin belajar yang tumbuh, melainkan rasa malu atau bahkan perasaan terhina.

Islam mengajarkan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan pesan agama, tetapi juga menjaga keharmonisan dan rasa saling menghargai. Dalam Al-Qurโ€™an, Surah An-Nahl ayat 125 menyebutkan:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

Ayat ini menekankan pentingnya pendekatan yang bijaksana dan penuh hikmah dalam dakwah. Mengejek atau merendahkan, apalagi dalam konteks dakwah, bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam.

Nabi sebagai Teladan dalam Berdakwah

Nabi Muhammad SAW adalah contoh sempurna dalam menyampaikan dakwah. Beliau tidak pernah mengejek atau merendahkan orang yang berbeda pandangan. Sebaliknya, beliau menyampaikan pesan Islam dengan penghormatan dan penghargaan terhadap martabat setiap orang, termasuk mereka yang menjadi musuh Islam.

Sebagai pendakwah, kita harus meniru sifat Nabi yang sabar dan lembut dalam menghadapi perbedaan. Tindakan Gus Miftah dalam kasus ini memunculkan kontroversi dan mengundang pertanyaan tentang bagaimana seharusnya seorang pendakwah bertindak.

Menjaga Adab dalam Dakwah

Seorang ulama atau pendakwah harus menjadi teladan dalam tutur kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan dapat memengaruhi banyak orang, terlebih jika disebarkan di media sosial. Publik memberikan respons yang beragam terhadap kasus ini. Sebagian besar mengkritik keras sikap merendahkan orang lain, sementara lainnya mencoba memaklumi dengan alasan niat baik.

Namun, kasus ini menunjukkan pentingnya menjaga adab dan tidak merendahkan orang lain, terutama mereka yang mungkin kurang beruntung secara sosial atau ekonomi. Dalam Islam, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik adalah mulia. Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk menghargai orang yang bekerja keras, tanpa menghakimi atau merendahkan mereka.

Pelajaran dari Kasus Gus Miftah

Kasus ini mengingatkan kita untuk menghargai setiap profesi dan pekerjaan. Mengolok-olok profesi seseorang, seperti tukang es teh, dapat merusak rasa hormat terhadap pekerjaan mereka. Sebagai pendakwah, kita harus memahami bahwa setiap peran dalam masyarakat memiliki nilai penting, dan pekerjaan yang dilakukan dengan tanggung jawab adalah mulia di sisi Allah SWT.

Dakwah sejati adalah dakwah yang dilakukan dengan kelembutan, penghormatan, dan kasih sayang. Sebagaimana Rasulullah SAW mencontohkan, dakwah yang baik harus menjaga perasaan dan martabat orang lain, bukan mengejek atau merendahkan.

Sebagai umat Islam, kita perlu meneladani Nabi dalam berdakwah. Menghargai orang lain, menjaga martabat mereka, dan menyampaikan kebaikan dengan kasih sayang adalah prinsip utama dalam menyebarkan Islam. Dengan demikian, dakwah kita akan lebih diterima dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News ๐Ÿ‘‡

xbanner 970x250

banner 970x250