
Jakarta, 10 Mei 2025 – Nama Hercules kembali menjadi sorotan publik. Sosok yang dulu dikenal sebagai penguasa Tanah Abang kini digempur opini negatif, bahkan disebut penakut oleh sejumlah purnawirawan TNI. Namun Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono memandang Hercules dari perspektif berbeda: simbol kebangsaan dan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Ini bukan soal suka atau tidak suka terhadap seseorang. Kita harus melihat keseluruhan cerita, bukan potongan-potongan yang dikaburkan opini,” ujar Hendropriyono.
Hendropriyono bukan sembarang jenderal. Ia pernah terjun langsung dalam operasi melawan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku), serta memimpin pasukan dalam Operasi Seroja di Timor Timur. Dalam salah satu pertempuran satu lawan satu, tangannya pernah hancur akibat tusukan sangkur musuh, sebelum akhirnya menembak mati pimpinan gerilyawan.
“Bunyi letusan itu masih saya ingat. Bisa jadi itu peluru saya sendiri, atau peluru yang menyelamatkan saya,” kenangnya.
@redaksi.jakarta
Dari pengalaman itu, lahirlah doktrin perang inkonvensional yang disebut Sandi Yudha—penggalangan masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan operasi militer. Salah satu produk dari doktrin ini adalah Hercules Rosario Marques, warga Timor Timur yang berpihak pada Indonesia dan menjadi informan penting bagi TNI.
Menurut Hendropriyono, jasa Hercules tidak bisa direduksi sekadar menjadi kisah jalanan Jakarta. Ia adalah bagian dari jaringan lokal yang direkrut untuk membantu TNI selama operasi di Timor Timur. Hercules memilih tetap bersama Indonesia bahkan setelah Timor Leste merdeka. “Itu adalah bentuk pengorbanan. Dia tetap di sini. Itu konsistensi,” katanya.
Hendropriyono menyebut pemberitaan soal Hercules hari-hari ini lebih menyerupai drama media. “Isu ini hanya pengalihan perhatian dari publik atas kebingungan pemerintah yang berjalan secara auto-pilot,” ujarnya.
Kontroversi bermula ketika Letjen TNI (Purn.) Yayat Sudrajat menyebut Hercules sebagai sosok penakut. Pernyataan ini dikaitkan dengan peristiwa pada tahun 1999 ketika Hercules kembali ke Timor Timur saat jajak pendapat digelar. Sebagian pihak menilai, kepergiannya karena takut diburu kelompok pro-kemerdekaan yang menganggapnya pengkhianat.
Faktanya, Hercules pulang atas sepengetahuan dan pengawalan TNI. Ia menghubungi sejumlah jenderal, termasuk Zacky Makarim, Kiki Syahnakri, dan Wiranto. Yayat Sudrajat kala itu ditunjuk sebagai pelaksana pengawalan. Maka, tuduhan “penakut” itu menjadi tidak relevan secara konteks.
Sebagai mantan Kepala BIN dan pakar intelijen, Hendropriyono menegaskan pentingnya melihat realitas secara utuh. “Penting untuk memisahkan antara fenomena dengan esensi. Media harus bertanggung jawab menjaga perspektif publik tetap jernih,” katanya.
Ia mengingatkan kembali pada kisah heroik 13 anggota Manggala XIII yang dipimpinnya saat mendarat di Dili pada 7 Desember 1975. Dalam catatan reflektifnya tahun 2013, ia menulis:
Hari ini kalian kukenang dengan bangga dan gundah. Bangga terhadap kalian dan gundah karena nasib bangsa kita. Bangga terhadap pengorbanan kalian dan gundah karena pengkhianatan mereka. Jangan menangis, Ibu Pertiwi.
Kontroversi Hercules mencerminkan dilema kolektif bangsa: mudah melupakan jasa karena dibutakan oleh sensasi. Hendropriyono tidak hanya memahami realitas militer, tetapi juga pentingnya menghargai pengorbanan, bahkan dari mereka yang tak tercatat dalam buku sejarah. (Ninoy Karundeng).
Tidak ada komentar