Ketua DPP GAN Muhammad Burhanuddin: Pemimpin Sejati Meninggalkan Jejak Batin, Bukan Sekadar Jabatan

Admin Pusat
26 Okt 2025 21:05
INDONESIA 0 258
3 menit membaca

Jakarta — Ketua Dewan Pimpinan Pusat Garuda Astacita Nusantara (GAN), Muhammad Burhanuddin, menyampaikan pandangan mengenai nilai kepemimpinan yang otentik dan bermakna. Sosok yang akrab disapa Om Boer itu menegaskan bahwa hadir di tengah masyarakat tidak cukup jika tanpa memberi manfaat yang membekas.

banner 970x250

Dalam wawancara bersama Founder Pelakita.id, Kamaruddin Azis, Om Boer menjelaskan filosofi kepemimpinan yang ia pegang selama ini: menjadi sosok berbeda di antara kumpulan.

Baginya, dalam setiap pertemuan selalu hadir dua tipe manusia, mereka yang hanya datang dan mereka yang meninggalkan kesan.

“Ada yang sekadar hadir, dan ada yang meninggalkan kesan. Saya memilih menjadi yang kedua,” ujar Burhanuddin.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Ia menilai banyak orang memahami networking hanya sebagai ajang memperbanyak kenalan, hadir di banyak pertemuan, atau berbagi kartu nama. Namun, menurutnya, jaringan tanpa nilai tidak akan menciptakan makna maupun peluang.

“Networking tanpa value hanya berhenti pada perkenalan. Tapi networking dengan nilai menciptakan peluang dan ingatan. Yang membedakan hanya satu: apa yang bisa kita berikan, bukan apa yang kita harapkan,” tambahnya.

Burhanuddin menjelaskan bahwa prinsip tersebut berasal dari nasihat sang ayah yang mengatakan bahwa pemimpin bukan soal jabatan, tetapi tentang siapa yang akan tetap dikenang setelah jabatan itu hilang.

Ia juga menilai bahwa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi contoh bagaimana pemimpin mampu menghadirkan kekuatan dan ketulusan dalam waktu yang bersamaan.

Menurutnya, Prabowo berhasil membangun kedekatan dengan rakyat melalui sikap rendah hati dan kepedulian yang nyata.

“Pemimpin harus bisa diterima semua kalangan. Ketegasan Pak Prabowo sejalan dengan kasih sayang kepada rakyat. Beliau hadir memberikan harapan, bukan hanya program,” ujarnya.

Om Boer menegaskan bahwa masyarakat tidak semata-mata terpikat pada angka atau statistik dalam sebuah program. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mampu mendengar dan memahami.

“Politik bukan soal siapa yang paling keras berbicara, tapi siapa yang paling tulus mendengarkan,” katanya.

Ia memandang bahwa menjadi pemimpin berbeda bukan berarti menonjol, melainkan memberi nilai dalam setiap relasi yang terjalin. Menurutnya, yang akan tetap diingat manusia bukan apa yang dimiliki seseorang, tetapi apa yang telah ia berikan untuk orang lain.

“Yang diingat bukan apa yang kita miliki, tapi apa yang kita berikan,” ucapnya.

Menutup wawancara, Burhanuddin menyampaikan pesan untuk para generasi muda yang ingin menjadi bagian dari perubahan bangsa. Ia berpesan agar selalu mengutamakan nilai dan kontribusi dalam setiap langkah.

“Mulailah memberi nilai sebelum mencari pengakuan. Jangan takut berbeda selama perbedaan itu bermanfaat,” tuturnya.

GAN sendiri menjadi salah satu unsur masyarakat yang menyatakan dukungan terhadap agenda ASTACITA pemerintahan Prabowo Subianto dengan menempatkan nilai kebangsaan dan kemanusiaan sebagai dasar perjuangan bersama. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250