Rasa yang menghadirkan sebuah cerita

Redaksi Jakarta
6 Nov 2024 16:33
OPINI 0 273
5 menit membaca

Oleh: Virgianto S.

banner 970x250

Di hari sabtu pagi, Iwan bergegas bangun dari tidurnya dan langsung beberes kamar untuk siap siap keluar rumah.

Maklum dihari ini Iwan sudah ada janji dengan ke lima teman temannya semasa duduk dibangku kuliah yang sudah lama sekali tidak berjumpa.

Begitupun Jane, Clara, Gianto dan Roby yang sudah bersepakat untuk bertemu dihari libur kerja di sebuah tempat yang sudah ditentukan jauh jauh hari.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Dari ke lima pertemanan mereka seperti biasa selalu ada saja yang masih terbawa kebiasaan lama di masa kampusnya, sebut saja Roby, disaat yang lain sudah terbangun dari tidur dan langsung melakukan aktifitas mulai dari mandi, merapikan kamar, sarapan bahkan ada yang menyempatkan diri berjoging dahulu untuk kebugaran tubuh, berbeda dengan Roby yang masih asyik tertidur pulas dan nyenyak senyenyak nyenyak nya, alarm Hp pun sudah beberapa kali berdering bagaikan suara guntur, Roby tetap terlelap dari tidurnya.

Di hari sebelumnya, tepatnya hari jumat malam setelah pulang kerja mereka saling berkomunikasi menggunakan media whatsapp untuk konfirmasi perihal pertemuan nanti, tetapi perbincangan via whatsapp tidak panjang karena menurut mereka lebih baik obrolan di whatsapp ditunda sampai nanti jumpa dikopi darat.

Adapun perasaan dihati ke lima pertemanan ini setelah 5 (lima) tahun tidak berjumpa muncul seperti rasa rindu, rasa kangen dan rasa ingin bercerita tentang keseharian diantara mereka sangatlah dinantikan.

Lantunan lagu terdengar sayup sayup mengiringi Jane yang sedang duduk di teras rumah, menanti kehadiran Iwan yang sudah berjanji untuk menjemput di acara nanti.

Jane yang berperawakan mungil langsing berambut panjang hitam dengan berpakaian casual bawahan jeans biru dan atasan kemeja putih Jane sangat terlihat rileks, sambil bernyanyi nyanyi kecil.

Tidak begitu lama Jam sudah menunjukkan pukul 9:30 Wib, suara deru mobil ciri khas knalpot balap terdengar menggema di depan rumah Jane, rupanya Iwan sudah tiba.

Hai! Wan, sapa Jane dari dalam rumah setelah terlihat Iwan keluar dari mobil, Hai! Sista, jawab Iwan ke Jane.

Seperti biasanya seseorang sudah lama tidak berjumpa langsung disambut cipika cipiki alias cium pipi kiri dan kanan. Sudah lama sekali yah kita baru ketemuan lagi, tanya Iwan, iya lama banget, sahut Jane. Di dalam rumah Jane berkomentar, Wa kamu dari dulu engga berubah dengan selera kendaraannya yah.

Iwan memang dari jaman kuliahan dikenal pengemar mobil mobil lama atau biasa dinamakan mobil RETRO dan kendaraan tersebut hanya dipakai pada saat saat tertentu saja, maklum mobil antik jadi harus dirawat dan dijaga pemeliharaannya, walau untuk harian ada kendaraan lain yang lebih modern.

Setelah Jane berpamitan dengan kedua orangtuanya mereka berdua langsung mengarah ketempat yang dituju yaitu ; warung ROPIT Pulo Mas yang terletak di Jakarta Timur.

Warung tersebut mempunyai makna bagi mereka berlima, karena di warung tersebut di jaman kuliahan setiap pulang dari kampus atau setiap malam minggu, tempat ini kerap dijadikan mangkal mereka. Warung ini sangat legenda di jamannya, bahkan sampai sekarang, kalangan muda mudi Jakarta yang pernah mampir dan mencicipi menu makanannya pasti akan ketagihan untuk datang lagi dan merekomendasikan kepada teman-temannya, sehingga warung tersebut layak untuk dikunjungi.

Ciri khas warung tersebut sesuai dengan namanya, ROPIT alias roti, pisang, indomie kornet, inilah menu yang menjadi magnet para pengemar kuliner pinggir jalan.

Setibanya Iwan dan Jane di ROPIT, ternyata Clara dan Gianto sudah terlebih dahulu sampai, suasana menjadi sumringah dimana mereka saling sapa, saling peluk dan sangat bahagia sekali melihat moment tersebut.

Engga lama setelah saling sapa mereka berempat sempat terdiam, sambil saling menatap,sepertinya masih ada yang kurang nih, kata Gianto, lalu Clara menjawab,pasti si pelor telat lagi nih.

Pelor itu julukan buat si Roby yang terkenal dengan sebutan nempel langsung molor, karena kebiasaannya kalau melihat tempat teduh dan ada bale/dipan pasti si Roby langsung ngerebahin badan dan tertidur, sehingga mereka berempat memberikan gelar Pelor.

Iwan pun akhirnya memanggil pelayan untuk membawakan menu, sambil dilihat lihat ternyata menu-nya tidak jauh berbeda dengan lima (5) tahun lalu disaat mereka masih makan disini. Iwan, Jane, Clara dan Gianto serempak langsung memilih pesanan yang sama yaitu, indomie kornet telur plus topping keju serut yang maknyus.

Teringat iklan yang sering muncul di Tv setiap kali pesan Indomie, mereka kompak menyanyikan lagu idolanya, indomieeeeeselerakuuuuu, sambil tertawa renyah mereka berempat tos tangan dan menepuk tangan satu sama lain.

Tiba–tiba muncul Roby dengan terengah-engah efek terburu-buru karena terlambat, sory sory Bro n Sista saya telat lagi nih, kata Roby pas didepan meja, ..dah sini duduk kita paham kok, kirain dah berubah ternyata eh ternyata masih lagu lama yah, jawab Clara dengan nada canda.

Eh Rob mau makan apa, kita dah pesan nih kata Iwan, Roby menjawab,pesan roti dan pisang coklat keju bakar deh. Mereka pun melanjutkan obrolan kembali dengan saling menanyakan banyak hal.

Disaat sajian datang mengarah ke meja mereka, harum ciri khas indomie kornet telur tercium,heemmmmm.

Ini yang membuat rasa kangen makan disini, kata si Jane. Sudah menu nya enak terus makan bersama teman teman dekat membuat suasana lebih harmoni, tidak harus di restaurant mahal untuk mencari suasana yang asyik, cukup dimana tempat kita punya kenangan yang berkesan itu sudah membuat pertemuan menjadi bahagia.

Sebuah kisah menarik tentang pertemanan/persahabatan berawal dari satu frekwensi pergaulan, pembicaraan, satu selera makanan dan ada cerita yang terlahir dari sebuah kerinduan dan ada pula cerita terlahir dari sebuah rasa.

Persahabatan mereka berlima lahir dari waktu yang panjang, bukan dari waktu yang singkat, tentunya penuh dengan lika liku drama kehidupan masing–masing yang dialami, karena ada sebuah rasa yang mereka miliki sehingga bisa menghadirkan cerita dibalik daya tahan pertemanan yang hingga kini mereka jalanin.

Karena rasa timbul dari tanggapan indra terhadap rangsangan saraf di tubuh, begitupun cerita lahir dari pengalaman dan kejadian yang sudah terlewati atau yang akan kita lalui dalam sebuah cerita baru. Jangan menyembunyikan rasamu dalam setiap cerita kehidupan ini.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250