Seorang sopir truk menutup muatannya mengunakan terpal saat antre menyeberang ke Halmahera di Pelabuhan Ferry Bastiong,Ternate, Maluku Utara, Kamis 22 Februari 2024. Para sopir truk lintas Halmahera mengeluhkan pelayanan pelabuhan ferry tidak maksimal sehingga mereka harus mengantre selama dua hari akibat dermaga satu belum difungsikan meskipun sudah selesai diperbaiki akhir tahun lalu dan hanya satu dermaga yang dapat digunakan hingga terhambatnya distribusi logistik ke daerah-daerah. ANTARA FOTO/Andri SaputraRedaksiJakarta.com | Jakarta – Ratusan sopir truk kontainer berencana melakukan aksi mogok kerja dan turun ke jalan sebagai bentuk protes terhadap PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Mereka menilai perusahaan pelat merah itu gagal menyelesaikan berbagai persoalan di Pelabuhan Tanjung Priok yang selama ini menyulitkan aktivitas logistik.

Aksi ini digagas oleh Keluarga Besar Sopir Indonesia (KB-SI) dan akan digelar pada Selasa, 11 Februari 2025. Para sopir menyatakan sudah terlalu lama bersabar atas kondisi pelabuhan yang kian semrawut. Titik kumpul massa akan dimulai di kawasan New Priok Container Terminal One (NPCT1) pada pukul 09.00 WIB.
Khalimi, salah satu perwakilan KB-SI, menyebut bahwa para sopir menuntut perubahan nyata dari Pelindo, bukan sekadar janji. Mereka menilai persoalan yang mereka hadapi selama ini justru makin memburuk. Mulai dari antrean panjang yang menghambat distribusi, kebijakan gate pass berbayar yang memberatkan, hingga maraknya aksi premanisme di sekitar pelabuhan.
“Pelindo seperti menutup mata. Kami sudah berkali-kali menyampaikan keluhan lewat jalur resmi, tapi tak digubris,” kata Khalimi.
@redaksi.jakarta
Sopir juga mengeluhkan tidak adanya fasilitas dasar yang memadai untuk para pengemudi yang harus menunggu berjam-jam, bahkan hingga seharian penuh. Kondisi ini tidak hanya mempengaruhi pendapatan mereka, tapi juga menurunkan kesehatan fisik dan mental karena tekanan kerja yang terus meningkat.
Selain mendatangi Pelindo, massa juga akan menggeruduk kantor Polres Jakarta Utara untuk melaporkan maraknya aksi pungli yang kerap terjadi di sekitar kawasan pelabuhan. Aksi ini akan menjadi bentuk perlawanan terbuka terhadap sistem dan praktik yang dianggap sudah terlalu lama merugikan para pekerja lapangan.
“Kami akan berhenti bekerja besok. Ini bukan sekadar unjuk rasa, tapi bentuk peringatan keras agar kami tidak terus dijadikan korban sistem,” tegas Khalimi. (Adji)
Tidak ada komentar