Kemenangan Zohran Mamdani: Membaca Realitas Politik Amerika dari Kacamata Aktivis Risalah Amar

NR
16 Nov 2025 18:44
4 menit membaca

Berdasarkan sudut pandang aktivis kemanusiaan, Risalah Amar

banner 970x250

Oleh: Desk Internasional Redaksi Jakarta

Kemenangan Zohran Kwame Mamdani sebagai Walikota New York City mengguncang percakapan publik global. Namun di Indonesia, reaksi yang muncul justru penuh mispersepsi: mulai dari salah menafsirkan konteks politik Amerika, hingga terburu-buru melempar label keagamaan.

Untuk meluruskan cara baca itu, aktivis kemanusiaan Risalah Amar memberikan analisis panjang. Perspektifnya menyoroti bahwa kemenangan Zohran hanya dapat dipahami jika kita memahami realitas politik Amerika, demografi imigran, dan ideologi dua partai besar di sana.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Redaksi merangkum pandangan tersebut berikut ini.

1. Amerika Bukan Indonesia: Peta Politiknya Sangat Berbeda

Menurut Risalah Amar, banyak masyarakat Indonesia gagal memahami konteks Amerika karena memakai kacamata politik lokal.

  • Partai Republik adalah konservatif: pro nilai tradisional, ketat terhadap imigran, dan sangat dekat dengan kelompok pro-Israel.

  • Partai Demokrat adalah progresif: membela minoritas, buruh, imigran, dan isu-isu keadilan sosial.

Zohran adalah kader Demokrat. Jadi segala sikapnya harus dibaca dalam bingkai ideologi partainya, bukan identitas teologisnya.

2. Pemilih Amerika Tidak Mempermasalahkan Sunni–Syiah

Salah satu mispersepsi terbesar yang muncul di Indonesia adalah penilaian bahwa Zohran “Syiah ini atau Syiah itu”, lalu langsung menilai dari sudut pandang akidah lokal.

Risalah Amar menegaskan:

  • Di Amerika, masyarakat tidak membedah Sunni–Syiah.

  • Yang dilihat adalah “imigran”, “kelas pekerja”, dan “minoritas”.

  • Diskusi akidah Syiah hanya relevan di forum kajian, bukan di panggung politik Amerika.

Menurutnya, publik Indonesia keliru ketika menganggap Zohran mewakili ideologi teologis tertentu.

Padahal dia mewakili Demokrat, bukan “aliran agama”.

3. New York = Kota Imigran, dan Mereka Haus Perubahan

Risalah Amar menyoroti data penting:

  • 38% penduduk New York adalah imigran dari Latin, India, Suriah, Asia Timur, dan Afrika.

  • Banyak dari mereka adalah Muslim dari berbagai mazhab, Ahmadiyah, Druze, dan lainnya.

Kebijakan Trump selama bertahun-tahun dianggap mendiskriminasi imigran. Ini membuat banyak komunitas minoritas mencari figur baru yang bisa mewakili mereka.

Zohran hadir tepat di ruang itu—bukan sebagai simbol sekte tertentu, tetapi sebagai wajah imigran yang memperjuangkan hak-hak mereka.

4. Zohran Dipilih Karena Isu Keadilan Sosial

Dalam catatan Risalah Amar, Zohran membawa isu yang sangat membumi:

  • hak buruh,

  • perumahan terjangkau,

  • transportasi publik,

  • hak imigran,

  • perlindungan kelompok minoritas.

Ini membuatnya dipilih bukan karena identitas, tetapi karena program politik yang menyentuh lapisan paling rentan di kota raksasa itu.

5. Sikapnya terhadap Israel: Berani untuk Ukuran Amerika

Risalah Amar mengingatkan bahwa jabatan Zohran adalah Walikota New York, bukan pemimpin dunia Islam.

Namun dalam kapasitas itu pun:

  • ia berani mengkritik Perdana Menteri Israel,

  • menolak genosida,

  • dan terang-terangan menolak kebijakan rasis yang melukai rakyat Palestina.

Dalam konteks politik Amerika yang sangat dominan oleh lobi pro-Israel, keberanian ini adalah prestasi besar.

Risalah Amar menyebut:

“Tidak paham betapa besar risikonya kalau menilai dari kacamata Indonesia.”

6. Soal Akidah: Ruang yang Sangat Berbeda

Risalah Amar juga memberikan catatan penting:
jangan membawa perdebatan akidah ke meja politik Amerika.

Menurutnya, ulama-ulama besar pun membedakan:

  • Syiah Ja’fariyah (yang menjadi mayoritas Syiah di dunia) tetap dianggap Islam oleh ulama Al-Azhar dan ulama Sunni di banyak negeri.

  • Aliran ekstrem seperti Nushairiyah atau Rafidhah memang dianggap menyimpang oleh banyak ulama.

Namun diskusi seperti ini tidak relevan untuk menjelaskan kemenangan politik seorang imigran di New York.

Karena itu, Risalah Amar menegaskan bahwa:

  • menilai Zohran dengan standar akidah lokal justru membuat kita salah memahami realitas geopolitik.

7. Pelajaran Besar untuk Politik Indonesia

Bagi Risalah Amar, pelajaran paling penting bukan pada persoalan Sunni–Syiah, tapi soal integritas dan keberpihakan.

Zohran menang karena:

  • turun ke lapangan,

  • bekerja dengan rakyat,

  • tidak datang dari dinasti politik,

  • dan membawa isu kemanusiaan sebagai pusat perjuangannya.

Ini kontras dengan sebagian lanskap politik Indonesia yang masih dipengaruhi:

  • dinasti,

  • kapital tambang,

  • polarisasi identitas,

  • dan patronase kelompok.

Menurutnya, zaman ini membutuhkan pemimpin yang bisa menjadi juru bicara kaum tertindas, bukan pewaris kekuasaan.

Penutup

Kemenangan Zohran Mamdani adalah kemenangan moral bagi banyak komunitas tertindas di Amerika. Dari New York, ia membawa pesan bahwa:

Identitas minoritas bukan penghalang untuk membawa nilai-nilai keadilan.
Dan seorang Muslim bisa berdiri di panggung dunia tanpa harus membawa perdebatan internal umat.

Melalui sudut pandang Risalah Amar, kemenangan ini membuka pintu renungan bagi umat di Indonesia:


bahwa cahaya bisa datang dari mana saja—bahkan dari seorang imigran Muslim di kota yang paling keras di dunia. (NR)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250