Fauzi Bowo: Jakarta Maju Harus Bertumpu pada Seni dan Budaya, Warisan Ali Sadikin Tetap Relevan

Admin Pusat
17 Jul 2026 10:20
3 menit membaca

REDAKSJAKARTA.COM – Semangat membangun Jakarta melalui penguatan seni dan kebudayaan kembali digaungkan dalam Peringatan Seabad Kelahiran Ali Sadikin. Pada momentum tersebut, mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo menegaskan bahwa warisan pemikiran Ali Sadikin masih menjadi pijakan penting dalam mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada identitas budayanya.

banner 970x250

Dalam pemaparannya, Fauzi Bowo mengungkapkan bahwa Ali Sadikin memiliki pandangan jauh ke depan. Bagi gubernur yang memimpin Jakarta pada periode 1966–1977 itu, pembangunan kota tidak semata diukur dari kemajuan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari hidupnya ekosistem seni dan kebudayaan yang mampu membentuk karakter masyarakat.

Fauzi menceritakan, gagasan besar tersebut berawal ketika Ali Sadikin mempertanyakan keberadaan para seniman yang sebelumnya banyak berkumpul di kawasan Senen.

Dari jawaban bahwa para seniman kehilangan ruang berkarya, lahirlah kebijakan yang menempatkan pemerintah sebagai fasilitator dengan menyediakan ruang kreatif tanpa mengintervensi kebebasan berekspresi para pelaku seni.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Prinsip tersebut kemudian diwujudkan melalui pembentukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada Juni 1968 yang melibatkan sejumlah budayawan dan seniman nasional.

Kehadiran DKJ menjadi tonggak penting dalam pembinaan kehidupan seni di ibu kota sekaligus mitra pemerintah dalam merumuskan kebijakan kebudayaan.

Komitmen itu berlanjut dengan berdirinya Pusat Kesenian Jakarta yang kemudian dikenal sebagai Taman Ismail Marzuki (TIM).

Menurut Fauzi Bowo, TIM sejak awal dirancang bukan sekadar kompleks pertunjukan, tetapi sebagai ruang kolaborasi bagi para seniman lintas disiplin untuk mencipta, berdiskusi, dan memperkenalkan karya kepada masyarakat.

“Pada masa Ali Sadikin, ratusan pertunjukan seni setiap tahun digelar di TIM. Ini menunjukkan bahwa pemerintah benar-benar menghadirkan ruang hidup bagi berkembangnya kreativitas masyarakat,” ujarnya.

Tak hanya membangun ruang pertunjukan, Ali Sadikin juga memperkuat pendidikan seni melalui pendirian Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) pada 1970 yang kini berkembang menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Kampus tersebut ditempatkan di kawasan TIM agar proses pendidikan berlangsung berdampingan dengan aktivitas seni yang dinamis.

Di sisi lain, perhatian terhadap pelestarian budaya lokal diwujudkan melalui lahirnya Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) pada 1977 sebagai tindak lanjut Seminar Kebudayaan Betawi. Langkah itu menjadi bagian dari upaya menjaga identitas budaya Jakarta di tengah pesatnya pembangunan kota.

Fauzi Bowo menilai, nilai-nilai yang diwariskan Ali Sadikin tetap relevan di tengah perkembangan era digital. Pemerintah, menurutnya, perlu terus menghadirkan ruang kreatif, memperkuat dukungan terhadap pelaku seni dan industri kreatif, sekaligus membangun kolaborasi antara pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, dan masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan regulasi kebudayaan, peningkatan kualitas fasilitas pertunjukan, serta sistem pendanaan yang berpihak kepada para pelaku seni agar ekosistem kebudayaan Jakarta semakin berdaya saing.

Menutup paparannya, Fauzi Bowo mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga semangat yang telah diwariskan Ali Sadikin dalam membangun Jakarta sebagai kota yang modern tanpa kehilangan jati diri budayanya.

“Warisan terbesar Bang Ali bukan hanya pembangunan fisik, tetapi fondasi kehidupan seni dan kebudayaan yang terus menghidupi Jakarta hingga hari ini. Menjaga semangat itu adalah investasi bagi masa depan Jakarta sebagai kota budaya yang maju, inklusif, dan berkelas dunia,” tegas Fauzi Bowo.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250