Baitul Maqdis dan Arah Peradaban Baru: Bedah Prakata Edisi 1–5 Buku Rencana Strategis Pembebasan Masjid Al-Aqsa

NR
6 Des 2025 17:38
5 menit membaca

@dailydoseofsaladin

banner 970x250

Dalam tradisi intelektual, prakata bukan sekadar halaman pembuka. Umberto Eco menyebutnya sebagai “peta pikiran sang penulis”—sebuah guiding map yang menyingkap arah, keresahan, dan tujuan besar dari sebuah karya. Cicero jauh sebelum itu menulis bahwa exordium adalah ruang tempat penulis “mengatur niat dan membangun arah argumen.” Dan di tanah kita, Mukadimah UUD 1945 membuktikan bahwa sebuah pembukaan dapat menjadi ruh ideologis seluruh bangunan pemikiran.

Ketika kita membaca lima edisi prakata dalam buku “Rencana Strategis Pembebasan Masjid Al-Aqsa” (ID) atau التخطيط الإستراتيجي للتحرير القادم للمسجد الأقصى المبارك (Arab) karya Prof. Dr. Abd al-Fattah Muhammad El-Awaisi (Al-Maqdisi), kita tidak sedang membaca sekadar pengantar buku. Kita sedang memasuki sebuah arsitektur peradaban, visi 30 tahun penelitian, dan arah kebangkitan umat di masa depan.

Prakata edisi pertama hingga kelima (2019–2022) membentuk satu alur konsisten: sebuah peta besar menuju apa yang Prof. El-Awaisi sebut sebagai “Pembebasan Islam Global Kedua.” Dan titik pusat peradaban itu, sebagaimana ditegaskan beliau berkali-kali, adalah Baitul Maqdis, bukan sekadar Masjid Al-Aqsa secara fisik, tetapi keseluruhan wilayah suci yang memiliki posisi sentral dalam sejarah Islam, geopolitik, dan eskatologi. Mari kita urai dalam 6 bagian:

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

1. Kegelisahan Ilmiah sebagai Titik Tolak

Prof. El-Awaisi memulai dari sebuah diagnosis jujur: umat Islam selama ini membaca Palestina secara emosional, bukan ilmiah. Ia menulis:

“Umat ini sangat membutuhkan ilmu yang bermanfaat.”

Ungkapan ini bukan kritik, tetapi fondasi. Sebab menurut beliau, pembebasan dalam sejarah Islam selalu diawali oleh pembebasan akal, bukan pembebasan tanah. Inilah yang kini beliau ringkas dalam sebuah kalimat tegas:

“Liberation of mind before liberation of land.”

Gagasan ini sejalan dengan ucapan Ibn Khaldun bahwa perubahan besar dalam sejarah selalu didahului oleh perubahan dalam kesadaran dan solidaritas (‘ashabiyyah). Sebagaimana umat Islam tidak memasuki Andalusia tanpa persiapan ilmu dan peradaban, umat pun tidak akan memasuki gerbang Al-Aqsa tanpa fondasi pengetahuan yang kokoh.

2. Dunia Sedang Bergeser: Runtuhnya Proyek Peradaban Barat

Dalam prakata-prakata itu, Prof. El-Awaisi menyinggung berbagai indikator runtuhnya tatanan lama: kekalahan Amerika di Afghanistan (2021), krisis moral Barat, pandemi yang menghantam pusat-pusat kapital global, serta retaknya legitimasi kolonialisme modern.

Beliau mengutip ayat-ayat Surah Al-Isra’ yang menggambarkan siklus runtuh–bangun Bani Israil. Dalam catatan kaki prakata, ia merujuk pada penelitian ulama kontemporer mengenai siklus 80 tahunan negara Israel modern—sebuah pola historis yang menggemakan kehancuran entitas politik Yahudi dalam rentang yang relatif sama.

Fukuyama pernah meramalkan “akhir sejarah”, tetapi prediksinya runtuh ketika Barat sendiri memasuki fase disintegrasi. Huntington melihat clash of civilizations, namun ia tidak membayangkan bahwa salah satu sumbu baru peradaban akan bertumpu pada Baitul Maqdis.

Ray Dalio—melalui big cycle of empires—menunjukkan bahwa kekuatan besar bangkit dan jatuh dalam pola ekonomi–militer. Kenichi Ohmae bahkan menyebut abad ke-21 sebagai era di mana kekuatan non-Barat akan kembali ke panggung utama.

Prof. El-Awaisi membaca semua pergerakan ini melalui lensa Qur’ani, bukan sekadar geopolitik. Baginya, dunia sedang bergerak ke fase transisi peradaban global, dan umat Islam hanya punya dua pilihan:

“Menjadi bagian dari kekuatan yang mengguncang sejarah,
atau menjadi korban dari guncangan itu.”

3. Pembebasan adalah Proyek Ilmu, Bukan Retorika

Seluruh prakata edisi 1–5 memperlihatkan satu garis merah tegas: pembebasan Al-Aqsa bukan slogan, tetapi proyek ilmiah berjenjang.

Prof. El-Awaisi menyebut:

“Pembebasan adalah buah hasil persiapan yang serius dan sistematis di semua jalur, terutama persiapan pengetahuan.”

Beliau memulai proyek Baitul Maqdis sejak 1986, melanjutkannya di Inggris, Malaysia, Turki, hingga Indonesia. Ia telah meluluskan puluhan doktor dan magister dalam bidang Studi Baitul Maqdis, membangun jurnal internasional, konferensi tahunannya, dan kurikulum kepemimpinan untuk usia 7–18 tahun.

Inilah salah satu kontribusi terbesar beliau:
membangun infrastruktur keilmuan sebelum infrastruktur perjuangan.

Dari sinilah kalimat kunci beliau lahir:

“Ilmu adalah pemimpin tindakan.”

Dan ilmu yang dimaksud bukan hanya data, tetapi ilmu dalam arti kesadaran—sebuah konsep yang selaras dengan teori Ibn Khaldun tentang ‘ilm sebagai fondasi negara yang stabil.

4. Pusat dari Pusat Berkah: Reposisi Baitul Maqdis

Prakata-prakata itu berulang kali menegaskan bahwa umat harus kembali menggunakan istilah Baitul Maqdis (istilah nabawi), bukan “Al-Quds”—karena Baitul Maqdis mewakili keseluruhan wilayah suci yang diberkahi Allah.

Dengan reposisi istilah ini, Prof. El-Awaisi ingin membersihkan epistemologi umat dari istilah kolonial yang mengecilkan makna tanah suci tersebut.

Baitul Maqdis bukan isu lokal Palestina.
Baitul Maqdis adalah “Pusat dari Pusat Berkah”, poros sejarah umat Islam sejak Isra’ Mi’raj hingga kelak Shalat Fath di serambi masjidnya.

5. Kebangkitan Islam Kedua: Arah Peradaban Baru

Prof. El-Awaisi menyebutkan bahwa pembebasan Al-Aqsa akan menjadi titik berangkat bagi kebangkitan Islam global kedua.

Dunia sedang bergerak ke Timur.
Kekuatan ekonomi China, India, Asia Tenggara menguat.
Kekuatan militer Rusia, Turki, Iran menggoyang dominasi lama.
Kekuatan moral umat Islam mengalami kesadaran baru.

Apakah Islam akan memimpin peradaban berikutnya?
Prof tidak berspekulasi, tetapi memberi arah:

“Kita sangat membutuhkan ilmu untuk menggerakkan arus yang selama ini stagnan. Tenaga ahli Muslim berkualitas yang akan mempersiapkan fondasi peradaban.”

Di tengah perubahan new world order, Prof mengajak umat menjadi aktor, bukan penonton; menjadi pengarah sejarah, bukan yang diarahkan sejarah.

6. Tugas Kita Hari Ini: al-I‘dād al-Ma‘rifī (Persiapan Ilmu)

Kesimpulan besar dari lima prakata adalah satu:

Pembebasan Al-Aqsa dimulai dari pembebasan pikiran Muslim.

Inilah yang Prof sebut sebagai al-i‘dād al-ma‘rifī—persiapan ilmu.
Langkah yang harus dimulai umat hari ini adalah:

  • membangun literasi Baitul Maqdis,

  • mengarahkan riset akademik,

  • menguatkan identitas keilmuan Islam,

  • melahirkan generasi ilmuwan muda,

  • menghidupkan kembali kesadaran Qur’ani tentang sejarah.

Sebelum ada Shalat Fath di serambi Al-Aqsa,
harus ada Fath al-‘Aql — terbukanya akal dan kesadaran umat.

Penutup

Membaca lima prakata Prof. El-Awaisi bukan hanya membaca pembukaan buku.
Ia adalah ruang di mana visi 30 tahun beliau diringkas,
dimana arah sejarah Islam ditandai,
dan dimana umat diberi peta untuk memasuki fase kebangkitan berikutnya.

Jika mukadimah UUD 1945 menjadi ruh negara,
maka prakata buku ini adalah ruh dari proyek pembebasan Baitul Maqdis,
yang kelak akan menjadi ruh kebangkitan peradaban Islam.

Dan tugas generasi hari ini, sebagaimana Prof tegaskan:

“Prepare the mind, and the land will follow.”
(Persiapkan pikiran, maka tanah itu akan mengikuti.)

Inilah inti dari perjuangan kita.
Inilah makna Idad Ma‘rifī yang menjadi fondasi sebelum kemenangan. (NR)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250