
Penulis: Amirullah

Jakarta – Setiap kali mengenakan batik, sebagian orang mungkin hanya melihatnya sebagai busana khas Indonesia yang cocok dipakai saat acara resmi. Namun bagi Pemuda Muslimin Indonesia Kota Jakarta Pusat, batik adalah lebih dari sekadar pakaian. Ia adalah saksi perjuangan ekonomi rakyat, warisan gerakan kebangsaan, dan simbol persaudaraan yang sudah dirajut lebih dari seabad lalu.
Hari ini, 2 Oktober 2025, genap 16 tahun sejak UNESCO menetapkan batik sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity—Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan. Tapi bagi generasi muda yang memahami sejarahnya, penghormatan terhadap batik bukan semata karena pengakuan dunia. Nilai sejatinya justru lahir dari akar perjuangan di tanah air sendiri.
Jejak Haji Samanhudi dan Syarikat Dagang Islam
@redaksi.jakarta
Kisah batik modern tak bisa dilepaskan dari nama Haji Samanhudi, seorang pengusaha batik asal Surakarta. Pada 1905, ia mendirikan Syarikat Dagang Islam (SDI), organisasi pedagang pribumi yang lahir dari keresahan terhadap dominasi pedagang asing—khususnya Belanda dan Tionghoa—dalam perdagangan batik.
Bagi Samanhudi, batik bukan sekadar komoditas. Ia adalah alat perjuangan untuk mengangkat martabat umat Islam dan kaum pribumi agar mampu bersaing di pasar. Dari SDI, gerakan itu berkembang menjadi Syarikat Islam (SI), organisasi massa pertama di Indonesia yang membuka jalan bagi kesadaran politik dan kebangsaan.
Dari batik, lahirlah semangat kemandirian. Dari Syarikat Islam, lahir kesadaran kebangsaan.
Dari Surakarta ke Panggung Dunia
Sejak masa itu, batik tak pernah lepas dari denyut nadi perjuangan bangsa. Kain yang dulu hanya dianggap busana tradisional kini menjelma simbol identitas nasional.
Pada 2 Oktober 2009, UNESCO secara resmi mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Pemerintah kemudian menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Batik Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009.
Kini, tiap 2 Oktober, masyarakat dari Sabang sampai Merauke mengenakan batik dengan bangga. Namun, Pemuda Muslimin Indonesia Kota Jakarta Pusat mengingatkan, peringatan ini seharusnya tak berhenti sebagai seremoni tahunan semata.
Batik dan Generasi Muda
Batik bukan hanya milik masa lalu. Ia juga milik masa depan.
Generasi muda hari ini diharapkan mampu membawa batik ke kehidupan sehari-hari—memadukannya dengan gaya modern, menjadikannya identitas yang hidup, bukan sekadar nostalgia.
“Memakai batik berarti melanjutkan perjuangan Haji Samanhudi,” ujar salah satu perwakilan Pemuda Muslimin Indonesia Jakarta Pusat. “Itu perjuangan ekonomi, perjuangan kemandirian, sekaligus perjuangan menjaga harga diri bangsa.”
Simbol Persatuan
Di balik keindahan setiap motifnya, batik menyimpan filosofi yang dalam: kesabaran, keuletan, dan persatuan. Nilai-nilai itu sejalan dengan semangat Islam dan kebangsaan yang dulu menjadi roh perjuangan Syarikat Islam.
Menenun Sejarah, Merajut Masa Depan
Hari Batik Nasional bukan sekadar peringatan atas pengakuan dunia. Ia adalah panggilan sejarah—agar bangsa ini tak melupakan akar perjuangan para pendahulu.
Dari Samanhudi hingga generasi kini, batik selalu menjadi medium untuk meneguhkan jati diri bangsa.
Batik adalah identitas. Batik adalah perlawanan. Batik adalah kebersamaan.
Dengan mengenakan batik, kita tidak sekadar berpakaian. Kita sedang melanjutkan perjuangan dan merajut masa depan bangsa.
Tidak ada komentar