Diskusi “Alam Peudeung” di Jakarta, Generasi Muda Aceh Diajak Jaga Marwah dan Identitas Budaya

Admin Pusat
3 Mei 2026 18:46
NEWS 0 194
2 menit membaca

REDAKSI JAKARTA – Komunitas Millenial Indonesia Aceh–Jakarta menggelar diskusi bertajuk “Alam Peudeung Sebagai Penjaga Marwah: Mengaktualisasi Alam Peudeung di Masa Kini” pada Sabtu (2/5/2026) di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

banner 970x250

Forum ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan nilai kepemimpinan dan kebudayaan Aceh di tengah arus globalisasi.

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari legislator, akademisi hingga tokoh muda Aceh.

Diskusi berlangsung dinamis dengan menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya serta membangun kepemimpinan yang berintegritas.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Anggota DPD RI, Sudirman H. Uma, dalam pemaparannya menegaskan bahwa Aceh sejak dahulu telah dikenal luas hingga ke mancanegara.

Ia menyebut wilayah tersebut memiliki sejarah panjang sebagai jalur perdagangan dunia yang menjalin relasi dengan berbagai negara seperti Turki, Arab Saudi, Tiongkok, dan India.

“Aceh memiliki hubungan dagang dan budaya dengan dunia internasional, tetapi tidak pernah kehilangan jati dirinya. Penurunan nilai yang terjadi bukan karena budaya, melainkan sikap kita yang mulai abai terhadap warisan sendiri,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya karakter pemimpin yang berwibawa dan berintegritas.

Menurutnya, pemimpin harus mampu menjadi teladan, bersikap tegas, serta mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.

Sementara itu, akademisi Adli Abdullah menjelaskan bahwa Alam Peudeung merupakan simbol kedaulatan dan keberanian masyarakat Aceh.

Ia menilai nilai historis tersebut perlu diaktualisasikan dalam konteks kekinian.

“Alam Peudeung tidak hanya simbol masa lalu, tetapi juga semangat untuk membangun masa depan. Kita tidak boleh berhenti pada kebanggaan sejarah, melainkan harus mampu menata arah ke depan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa marwah akan kehilangan legitimasi dan kepercayaan publik.

Pandangan kritis juga disampaikan tokoh muda Aceh, Muhammad Rafsanjani, yang menyoroti tantangan generasi saat ini, termasuk derasnya pengaruh budaya luar dan potensi erosi nilai-nilai lokal.

Menurutnya, diperlukan langkah strategis seperti penguatan karakter generasi muda, peningkatan literasi digital, pelestarian sejarah, serta pembangunan kapasitas ekonomi berbasis budaya.

“Generasi muda harus mampu menyaring pengaruh luar tanpa kehilangan identitas. Kita harus bangga menjadi orang Aceh,” ujarnya.

Ketua Umum Millenial Indonesia, Sureza Sulaiman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Aceh memiliki posisi penting sebagai penghubung peradaban dunia. Ia menilai diskusi ini menjadi momentum untuk memperkaya wawasan generasi muda.

“Belajar Aceh berarti memahami sejarah besar dunia. Dari sana kita belajar bahwa persatuan adalah kekuatan utama bangsa,” katanya.

Diskusi ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran generasi muda dalam menjaga marwah budaya, sekaligus mendorong lahirnya kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai lokal di tengah tantangan global.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250