
Jambi – Insiden kekerasan yang terjadi dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi 2025 menuai kecaman. Jaringan Indonesia (JARI) Jambi mendesak pihak kepolisian turun tangan dan menindak tegas pelaku.

Koordinator JARI Jambi, Andi Chaniago, menilai kekerasan dalam PBAK mencoreng dunia akademik. Menurutnya, kegiatan pengenalan kampus seharusnya menjadi sarana pendidikan dan pembentukan karakter, bukan ajang intimidasi.
“Sebagai kampus Islam, seharusnya jauh dari tindakan brutal ala preman. Kekerasan dan intimidasi harus dilenyapkan dari dunia kampus,” tegas Andi, Selasa (3/9/2025).
Andi menekankan bahwa kampus mestinya menjadi ruang yang ramah, terbuka untuk pertukaran gagasan, serta menumbuhkan budaya intelektual yang sehat. Ia juga meminta rektor UIN STS Jambi beserta jajarannya mengambil langkah konkret agar lingkungan akademik bebas dari kekerasan.
@redaksi.jakarta
Lebih jauh, JARI Jambi juga mendorong kepolisian untuk segera memproses laporan dari Badko HMI dan HMI Cabang Jambi terkait dugaan kekerasan serta penistaan atribut HMI dalam kegiatan PBAK tersebut.
“Kami berharap Polda Jambi segera memproses laporan itu. Agar kejadian serupa tidak terulang, pelaku harus ditindak tegas sesuai hukum,” pungkas Andi.
Tidak ada komentar