Meriahnya Atraksi Betawi, Sepinya Literasi Betawi

Redaksi Eksekutif
13 Apr 2026 17:28
OPINI 0 362
3 menit membaca

Oleh: Aziz Khafia

banner 970x250

Lebaran Betawi yang berlangsung pada 10–12 April kembali membuktikan satu hal: Betawi masih hidup, setidaknya di panggung perayaan.

Puluhan ribu orang tumpah ruah, riuh rendah suara musik, warna-warni busana adat, serta atraksi budaya yang menghibur menjadi penanda bahwa Betawi belum kehilangan daya tariknya di tengah hiruk-pikuk kota global bernama Jakarta.

Namun, di balik kemeriahan itu, ada satu kegelisahan yang sulit saya abaikan. Sebagai orang Betawi, saya merasa perlu menyampaikan otokritik—sebuah arepan, harapan yang lahir dari rasa memiliki, bukan sekadar penilaian dari luar.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Kita patut mengapresiasi keberhasilan acara dalam menghadirkan keramaian. Tapi pertanyaannya: apakah keramaian itu sebanding dengan kedalaman makna?

Lebaran Betawi seakan terjebak dalam rutinitas yang mudah ditebak. Dari tahun ke tahun, yang ditonjolkan adalah atraksi—tari-tarian, musik, ondel-ondel, hingga ornamen khas yang menghiasi setiap sudut. Semuanya indah, semuanya menghibur.

Tapi di situlah persoalannya: Betawi terlalu sering diposisikan sebagai tontonan, bukan sebagai pengetahuan.

Ketika saya mencoba menyusuri tenda-tenda yang berjejer, harapan saya sederhana—menemukan kekayaan Betawi dalam bentuk yang lebih substansial. Namun yang saya temui justru dominasi jajanan ala pasar malam.

Betawi hanya hadir secara simbolik: kerak telor, dodol, dan laksa. Selebihnya, kita seperti berada di festival umum yang kehilangan identitas.

Lebih ironis lagi ketika saya mengunjungi stand literasi. Saya membayangkan akan menemukan narasi tentang sejarah Betawi, filosofi hidupnya, dinamika sosial-politiknya, hingga pergulatannya dalam menghadapi modernitas Jakarta.

Namun yang saya dapati justru kesan “yang penting ada”. Literasi Betawi hadir, tapi tanpa ruh.

Padahal, di sinilah titik krusialnya. Literasi kebetawian bukan sekadar pelengkap acara—ia adalah fondasi. Tanpa literasi, Betawi akan terus dipahami secara dangkal, bahkan keliru.

Ambil contoh sederhana: asal-usul kata “Betawi”. Hingga hari ini, masih banyak yang meyakini bahwa Betawi berasal dari “Batavia” atau “Batavi”.

Padahal, narasi itu tidak sepenuhnya tepat. Ada jejak historis yang menunjukkan bahwa identitas Betawi sudah ada sebelum kedatangan VOC di Sunda Kalapa. Kesalahan-kesalahan semacam ini terus berulang karena minimnya rujukan yang sahih.

Akibatnya, Betawi kerap ditafsirkan berdasarkan asumsi, stereotip, bahkan romantisme kosong.

Ornamen digunakan tanpa pemahaman, simbol dipakai tanpa makna. Semua terasa meriah di permukaan, tapi hampa di kedalaman.

Di titik ini, kita perlu jujur: jangan-jangan kita terlalu sibuk merayakan Betawi, tapi lupa mempelajarinya.

Lebaran Betawi seharusnya tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga ruang edukasi.

Bukan hanya tempat berkumpul, tapi juga tempat belajar. Bukan hanya merawat tradisi secara visual, tapi juga secara intelektual.

Jika tidak, maka Betawi akan terus hidup sebagai festival—ramai, meriah, tapi perlahan kehilangan jiwanya.

Sudah saatnya kita tidak hanya “ngarak Betawi”, tetapi juga “ngaji Betawi”.

Karena tanpa literasi, identitas hanya akan menjadi dekorasi. Dan Betawi, pada akhirnya, hanya akan dikenang sebagai atraksi—bukan peradaban.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250