
Jakarta – Mahasiswa dan anak muda kerap menyalurkan idealisme mereka lewat kritik dan penolakan terhadap kebijakan yang dianggap melenceng dari nilai keadilan. Fenomena ini, menurut Founder Future Mind Indonesia, Muqaddam Hehanussa, tidak bisa dipandang sebagai ancaman bagi negara.

Dalam rilis pers, Muqaddam menekankan agar pemerintah dan aparat mampu mengantisipasi lahirnya kebijakan yang justru memicu penolakan luas dari generasi muda. Sebab, jika tidak dikelola dengan bijak, gesekan antara rakyat dan aparat berpotensi melemahkan persatuan bangsa.
“Mahasiswa dan anak muda menyalurkan idealisme lewat penolakan kebijakan yang dinilai menekan. Sementara aparat mengaktualisasikannya lewat pengabdian menjaga stabilitas negara. Perbedaan ruang aktualisasi ini seharusnya tidak jadi alasan perpecahan,” kata Muqaddam, Kamis (4/9/2025).
Ia menilai aparat negara memang memiliki mandat menjaga keamanan dan stabilitas. Namun, mandat itu perlu dijalankan dengan pendekatan yang tepat agar rakyat tidak merasa dibenturkan hanya karena berbeda pandangan dengan kebijakan pemerintah.
@redaksi.jakarta
Muqaddam juga mengingatkan generasi muda agar tetap waspada menghadapi dinamika global, baik dalam bidang ekonomi maupun geopolitik, yang bisa langsung berdampak pada kondisi bangsa. Ia menekankan pentingnya sikap kritis membaca keadaan, namun tetap menjaga semangat persatuan nasional.
“Rakyat dan aparat harus bahu-membahu menjaga keutuhan Indonesia demi terwujudnya bangsa yang adil, makmur, dan berdaulat,” tutupnya.
Tidak ada komentar