Kampanye Anti-Perundungan, Menpora Erick: Kakak Kelas Harus Sayang Adik Kelas

Admin Pusat
14 Nov 2025 18:32
OLAHRAGA 0 183
3 menit membaca

RedaksiJakarta.com, Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Erick Thohir menghadiri kegiatan Stand Up Against Bullying yang digelar di SMAN 3 Jakarta, Jalan Taman Setia Budi II Nomor 1, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Jumat (14/11) pagi. Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah preventif untuk menekan praktik perundungan di lingkungan sekolah sejak dini.

banner 970x250

Dalam amanatnya di hadapan siswa kelas X hingga XII, Menpora Erick mengajak seluruh pelajar membangun budaya saling menghargai, menghormati, dan menyayangi satu sama lain sebagai fondasi lingkungan sekolah yang sehat dan aman.

“Di keluarga saya diajarkan oleh almarhum Bapak saya, Haji Muhammad Thohir, bahwa kakak harus sayang adik. Prinsip itu juga berlaku di sekolah. Kakak kelas harus sayang adik kelas, dan adik kelas harus menghormati kakak kelasnya. Setuju?” ujar Menpora disambut respons para siswa.

Menpora Erick kemudian berdialog langsung dengan para siswa terkait pengalaman perundungan di sekolah. Dari hasil dialog tersebut, ia menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya karena kondisi SMAN 3 Jakarta dinilai kondusif dan tidak ditemukan praktik perundungan. Menpora Erick juga merupakan alumni sekolah tersebut.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Pada kesempatan itu, Menpora Erick berbagi kisah pribadi saat masih bersekolah di SMAN 3 Jakarta. Ia mengaku pernah merasakan pengalaman tidak menyenangkan ketika aktif bermain bola basket bersama teman-temannya.

“Waktu itu pertandingan antara kelas satu dan kelas tiga. Kami sebagai adik kelas main basketnya sudah seperti tarkam, berdarah-darah,” kenangnya.

Namun demikian, Menpora Erick menegaskan bahwa pengalaman tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia justru belajar tentang keberanian, ketangguhan, dan sikap pantang menyerah dalam menghadapi tantangan.

“Saya tetap bermain sampai akhir. Setelah itu kakak-kakak kelas menghampiri saya dan bilang, ‘kamu hebat, kamu tidak takut’. Jadi siapa pun yang mem-bully, jangan pernah bangga. Dan siapa pun yang di-bully, harus berani bangkit,” tegasnya.

Menpora Erick mengungkapkan kebanggaannya sebagai bagian dari keluarga besar SMAN 3 Jakarta yang telah membentuk karakter kepemimpinan, empati, dan nilai persahabatan dalam dirinya. Ia menilai program-program positif di sekolah harus benar-benar menyentuh siswa agar memberi dampak nyata.

Ia juga menyoroti pentingnya pendekatan yang tepat dalam menangani isu kepemudaan. Menurutnya, setiap kelompok usia memiliki tantangan yang berbeda dan tidak bisa disamaratakan.

“Undang-undang mengatur usia muda 16 sampai 30 tahun. Saya sebagai Menteri berusaha agar perhatian itu dimulai sejak usia 14 tahun. Isu pemuda usia 14–19 berbeda dengan usia 20–25, dan berbeda lagi dengan usia 25–30. Isu kesehatan mental dan kepemimpinannya pun berbeda,” jelasnya.

Lebih lanjut, Menpora Erick kembali mengingatkan para siswa agar berani melawan perundungan dan tidak ragu mencari bantuan. Ia menegaskan bahwa tindakan perundungan tidak pernah patut dibanggakan.

“Bully itu banyak terjadi lewat media sosial atau kata-kata. Hadapi. Saya pernah dibully dan saya hadapi. Jangan takut, kalian tidak sendirian,” pesannya.

Kepada para siswa senior, Menpora Erick berpesan agar menjadi contoh dan teladan yang baik bagi adik-adik kelasnya. Ia menilai tantangan di masyarakat jauh lebih kompleks dan membutuhkan mental serta karakter yang kuat sejak dini.

Menutup sambutannya, Menpora Erick menekankan pentingnya pembangunan karakter generasi muda yang berlandaskan empati terhadap sesama, keluarga, lingkungan, dan alam sekitar.

“Kita tidak mungkin menjadi orang baik kalau tidak punya empati. Empati kepada orang tua, empati kepada lingkungan, dan empati kepada alam,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250