
REDAKSIJAKARTA.COM – Pemuda Kaum Betawi menggelar Kongres II di Bale H. Sanusi Konte, Jakarta, Minggu (5/7/2026). Mengusung tema “Betawi Revolusi: Transformasi Budaya, Kemandirian Ekonomi, dan Kepemimpinan Masa Depan”, forum tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan arah perjuangan masyarakat Betawi menghadapi tantangan zaman.

Kongres dihadiri berbagai tokoh Betawi, unsur pemerintah, Muspida, organisasi kepemudaan, serta sejumlah elemen masyarakat yang memberikan dukungan terhadap penguatan peran generasi muda Betawi dalam pembangunan Jakarta.
Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi, H. Masykur Isnan, S.H., M.H., dalam penyampaian Manifesto “Betawi Revolusi” menegaskan bahwa organisasi kepemudaan tidak lagi cukup menjalankan fungsi administratif maupun sekadar menghimpun massa.
Menurutnya, organisasi modern harus mampu membangun pengaruh, melahirkan gagasan, mengelola pengetahuan, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
@redaksi.jakarta
Ia mengatakan, masyarakat Betawi memiliki modal sosial, budaya, serta intelektual yang besar untuk menjadi bagian penting dalam pembangunan bangsa dengan menghadirkan nilai-nilai yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan peradaban.
Dalam pandangannya, masyarakat Betawi juga harus mengambil peran lebih besar dalam menentukan arah kebijakan publik, khususnya di bidang ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan di Jakarta sebagai tanah kelahirannya.
Masykur menilai masih terdapat berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Betawi, mulai dari berkurangnya kepemilikan lahan akibat pembangunan perkotaan, keterbatasan akses pendidikan dan lapangan pekerjaan, hingga minimnya keterlibatan dalam proses pengambilan kebijakan publik.
Karena itu, menurutnya, generasi muda Betawi harus memilih bergerak dan menjadi bagian dari solusi.
“Betawi Revolusi bukan sekadar slogan, melainkan gerakan untuk mengangkat kembali martabat, identitas, dan kearifan lokal Betawi agar tetap relevan di tengah perubahan zaman. Ini bukan sikap eksklusif, tetapi ikhtiar menjaga warisan budaya sekaligus mendorong kemajuan masyarakat,” ujarnya.
Dalam manifesto tersebut, Pemuda Kaum Betawi juga memperkenalkan konsep Organisasi 5.0, yakni model organisasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan akar budaya.
Transformasi itu mencakup pembaruan tata kelola organisasi, sistem kaderisasi, pengembangan ekosistem digital, produksi pengetahuan, hingga penguatan basis data organisasi.
Menurut Masykur, organisasi yang mampu bertahan di masa depan adalah organisasi yang berani berinovasi dan menerjemahkan nilai-nilai tradisi ke dalam gagasan serta program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat saat ini.
Kongres II juga menegaskan dukungan Pemuda Kaum Betawi terhadap keberadaan Majelis Kaum Betawi (MKB) sebagai wadah strategis yang diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antarorganisasi Betawi dalam menghadapi tantangan pembangunan Jakarta.
Melalui MKB, Pemuda Kaum Betawi mendorong lahirnya berbagai program yang bersifat sistematis dan berkelanjutan, di antaranya pembentukan badan otonom kepemudaan, kewirausahaan, dan profesi, serta pengembangan kaderisasi tematik melalui program Bale Digital, Bale Politik, Jakarta Inkubator Bisnis (JAKIN), hingga Talenta Jakarta yang berfokus pada sertifikasi kompetensi, pengembangan talenta, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pemuda Kaum Betawi berharap Kongres II menjadi titik awal lahirnya gerakan kolektif yang mampu memperkuat posisi masyarakat Betawi sebagai bagian penting dalam pembangunan Jakarta sekaligus mempersiapkan generasi muda yang berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Tidak ada komentar