Menjaga Sagu, Merawat Identitas Papua: Ekspedisi Patriot IPB University Perkuat Literasi Sagu melalui Pendidikan

Admin Pusat
17 Sep 2026 12:52
NASIONAL NEWS 0 208
3 menit membaca

REDAKSIJAKARTA.COM | MERAUKE — Tim Ekspedisi Patriot IPB University mendorong penguatan literasi pangan lokal sagu melalui pendidikan sebagai upaya menjaga identitas budaya masyarakat Papua sekaligus mengenalkan potensi ekonomi sagu kepada generasi muda.

banner 970x250

Upaya tersebut diwujudkan melalui workshop integrasi literasi pangan lokal sagu ke dalam kurikulum muatan lokal yang digelar pada 12–13 September 2026 di SMAN 1 Kurik, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.

Bagi masyarakat Papua, khususnya di Merauke, sagu tidak hanya dikenal sebagai bahan pangan, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan pengetahuan lokal, kehidupan sosial, dan tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Karena itu, pengembangan sagu sebagai komoditas pangan dan sumber ekonomi dinilai perlu berjalan beriringan dengan pelestarian nilai adat serta kearifan lokal masyarakat setempat.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Ketua Tim 10 Ekspedisi Patriot IPB University, Tri Budiarto, SKPm, MSi, menyampaikan adanya keresahan bersama terhadap pergeseran kebiasaan generasi muda dalam mengonsumsi sagu dan menjadikannya bagian dari budaya sehari-hari.

Kondisi tersebut, menurutnya, turut menjadi perhatian di tengah semakin menyempitnya lahan sagu akibat tekanan alih fungsi lahan.

Workshop tersebut mempertemukan guru dan penyuluh pertanian untuk memperkuat pemahaman mengenai sagu serta menjajaki integrasinya ke dalam pembelajaran di sekolah. Melalui pendidikan, Tim Ekspedisi Patriot berharap generasi muda tidak hanya mengenal sagu sebagai pangan lokal, tetapi juga memahami nilai budaya, lingkungan, sosial, dan potensi ekonominya.

Dalam kegiatan tersebut, Untung, S.Pd., Kepala Bidang Pengendalian Perizinan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Merauke, menyampaikan materi mengenai transformasi pendidikan. Paparan tersebut membahas arah pembangunan pendidikan daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pemerataan akses pendidikan sebagai bagian dari upaya merespons kebutuhan dan potensi lokal.

Sementara itu, Nila Sari Katemba, S.Pd., praktisi literasi pangan lokal dari Morowali, mengajak peserta mengenalkan sagu kepada generasi muda melalui metode pembelajaran yang kreatif dan kontekstual. Menurutnya, sagu memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi beragam produk pangan, memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta membuka ruang kreativitas dan kewirausahaan bagi anak muda tanpa meninggalkan identitas budaya masyarakat Papua.

Pada hari kedua, peserta mengikuti praktik pengolahan tepung sagu menjadi cookies. Dengan pendampingan Nila Sari Katemba, peserta mempelajari tahapan pengolahan mulai dari persiapan bahan, pembuatan adonan, pencetakan, hingga pemanggangan. Praktik tersebut memperkenalkan alternatif inovasi pangan berbahan sagu sekaligus menunjukkan peluang peningkatan nilai tambah komoditas lokal melalui pengembangan produk yang lebih dekat dengan selera generasi muda.

Mathelda, guru SMKN 5 Merauke, menyampaikan bahwa praktik pengolahan tersebut memberikan wawasan baru mengenai pemanfaatan sagu. Menurutnya, sagu tidak hanya dapat diolah menjadi makanan tradisional, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi berbagai produk yang menarik bagi generasi muda. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh melalui workshop dapat diterapkan di sekolah dan diperkenalkan kepada para siswa.

Selain materi dan praktik, peserta juga menerima modul pembelajaran yang disiapkan Tim Ekspedisi Patriot IPB University. Modul tersebut diharapkan menjadi bahan pendukung bagi guru dan penyuluh dalam mengenalkan sagu melalui kegiatan pendidikan maupun pemberdayaan masyarakat.

Melalui workshop ini, Tim Ekspedisi Patriot IPB University berharap penguatan literasi sagu dapat menjadi bagian dari pembelajaran muatan lokal yang menghubungkan sejarah, tradisi, budidaya, pengolahan, hingga peluang kewirausahaan.

Pendidikan diharapkan tidak hanya memperkenalkan sagu sebagai komoditas bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat pengetahuan dan identitas masyarakat Papua agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. (Soly/Tri)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250