Pulang

Redaksi Jakarta
9 Apr 2024 23:19
OPINI 0 177
3 menit membaca

Oleh : Andi Muh. Syaiful Haq (Ketua PB HMI Bidang Pembinaan Anggota)

banner 970x250

Dari gelombang hiruk pikuk kebisingan di terminal bis kota, pelabuhan, stasiun kereta, terminal bandara, apa yang sebenarnya hendak mereka ungkapkan menjelang lebaran ? “Mudik”. Mudik, dalam diksi dan tradisi melayu nusantara diasalkan dari kata “udik”. Udik, satu wilayah yang amat terdalam dari wilayah pedalaman, itu sebabnya tidak sedikit yang mengandaikan bahwa kata “udik” tidak merujuk pada aspek “place” (tempat), tapi lebih kepada aspek “space” (ruang).

Mudik merupakan hajat besar secara nasional yang harus disukseskan, sekalipun tidak ada panitia penyelenggaranya. Pemerintah sendiri hanya bertanggung jawab memberikan pelayanan umum dan bukan sebagai pelaksana penyelenggaraan mudik.

Mengapa orang yang sekian lama meninggalkan kampung halamannya, tidak pernah bertemu dengan sanak keluarganya, tidak pernah menghirup udara segar di kampung dan di desanya, selalu dikerkah kerinduan untuk pulang, karena satu hal, panggilan “space”, ruang-ruang yang terdalam dari udik dan kampungnya selalu memanggil untuk pulang.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Pulang, kembali, dalam tradisi Al-Quran, kata inti dalam spiritualisme Islam, yaitu tentang kata raj’a, raj’u, raji’un, Innalillahi Wa Innailaihi Raji’un, dan seterusnya dengan berbagai derivasinya, mempunyai misi yang satu, yaitu, pulang. Panggilan pulang, adalah suatu kerinduan, pemanggilan kita untuk selalu bertemu dengan hal-hal yang dirindui.

Salah satu diksi yang sangat erat kaitannya dengan kata pulang/mudik, adalah kata “Lebaran”. Lebaran, ada sesuatu yang mencoba untuk melebarkan ruang, waktu, kesadaran manusia. Jika selama ini manusia sibuk dengan aktifitas dirinya sendiri yang bersifat individualistik dan berada pada “in the box”, satu ruang tersendiri yang telah mengkerangkengnya, apakah itu kotak profesionalitas, kotak politik, kotak sosial, kotak disiplin keilmuan, aktifitas apapun yang ia pilih sebagai suatu aktualisasi dirinya, maka lebaran bermakna melebarkan diri agak tidak terjebak pada “kotak”, tapi harus meluas dan melompat keluar, “out of the box”.

Lebaran secara kultural, menciptakan kesadaran seseorang harus melompati keluar dari kotak-kotak yang mencengkramnya selama ini, untuk keluar, dan melebarkan dirinya dan berinteraksi dengan pribadi-pribadi yang telah sukses menemukan dirinya. Sehingga lebaran, identik dengan gerakan silaturahim, atau silaturahmi. Karena itu, mudik secara kultural, lebaran secara kultural, meneguhkan satu hal bahwa pesan Idul Fitri, adalah untuk mengembangkan silaturahim, melebarkan diri untuk keluar dari kotak-kotak yang telah mengerkahnya.

Mudik, dalam arti spiritual yaitu pulang ke yang asal. Orang-orang yang sukses untuk pulang, adalah orang yang senantiasa tiba pada titik dimana ia berangkat. Ketika kita berangkat pada titik dan kembali pada titik yang sama, maka kita sukses untuk pulang. Titik berangkat, adalah titik asal usul. Titik asal usul, identik dengan keaslian/otentisitas. Itu sebabnya orang yang terajak pulang, orang yang senantiasa rindu untuk kembali ke titik berangkatnya, adalah satu manifestasi dari kerinduan untuk kembali menemu kenali dan berjumpa dengan titik asal usulnya, otentisitas keasliannya. Karena itu mudik secara spiritual mempunyai makna yang lebih luas dari apa yang kita pahami sejauh ini hanya suatu gerakan kultural, tetapi dia lebih kepada menemukan kembali asal dirinya yang suci, yang illahi, Allah SWT.
Wallahu a’lam bishawab

Selamat merayakan Idul Fitri 1445 Hijriah, taqabalallahu minna wa minkum, minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir bathin. Selamat mudik, selamat lebaran.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250