Revolusi sunyi Betawi: dari fragmentasi menuju konsolidasi peradaban

Redaksi Eksekutif
21 Feb 2026 12:19
OPINI 0 366
5 menit membaca

Oleh : H. Masykur Isnan, SH, MH

banner 970x250

Ketua Umum Pemuda Kaum Betawi

Betawi bukan sekadar identitas etnis, tetapi fondasi historis dan kultural dari lahirnya kota yang hari ini kita kenal sebagai Jakarta.

Dari ruang-ruang kampung hingga pusat pemerintahan, dari lenong sampai marawis, dari bahasa sehari-hari hingga nilai kekeluargaan, Betawi adalah jiwa yang membentuk karakter ibu kota. Namun hari ini, Betawi berada di persimpangan zaman.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Di tengah dinamika sosial dan politik kota Jakarta, ada satu tantangan serius yang tidak selalu terlihat di permukaan: Betawi yang terbelah dan kerap diadu domba.Perpecahan itu tidak selalu datang dari luar secara terang-terangan.

Kadang ia hadir dalam bentuk persaingan kepentingan, ego kelompok, perebutan pengaruh, hingga politisasi identitas.

Betawi yang seharusnya menjadi satu kekuatan kultural dan sosial justru sering terfragmentasi dalam blok-blok kecil yang saling berhadap-hadapan.

Padahal secara historis, masyarakat Betawi dikenal dengan kultur musyawarah, silaturahmi, dan kearifan lokal yang menjunjung persatuan. Nilai-nilai itu hari ini sedang diuji.

Modernisasi, urbanisasi, dan arus globalisasi bergerak begitu cepat. Kota tumbuh vertikal, ekonomi bergerak digital, dan kompetisi semakin terbuka.

Dalam situasi seperti ini, Betawi tidak cukup hanya bertahan dengan romantisme sejarah. Ia harus bergerak.

Tetapi bukan dengan konfrontasi, bukan dengan resistensi yang keras. Yang dibutuhkan adalah revolusi secara soft—transformasi yang cerdas, elegan, dan strategis. Revolusi Betawi adalah perubahan paradigma tanpa kehilangan akar.

Ia bukan perlawanan, melainkan reposisi. Bukan konflik, melainkan konsolidasi kekuatan.

Sudah saatnya narasi tentang Betawi keluar dari stereotip lama. Betawi bukan sekadar identik dengan humor, kerak telor, atau ondel-ondel.

Betawi adalah komunitas dengan sejarah perjuangan, jaringan ulama, dan kontribusi politik yang besar dalam perjalanan bangsa.

Narasi ini harus diperkuat melalui media, literasi, dan ruang-ruang diskursus publik yang bersifat digital dan konvensional.

Sebagai komunitas kultural yang menjadi akar historis lahirnya Jakarta, Betawi berada dalam situasi yang unik: menjadi tuan rumah di kota yang terus berubah secara cepat.

Perubahan ini menghadirkan dua sisi sekaligus — tantangan dan peluang. Di era globalisasi, identitas lokal justru menjadi aset strategis.

Budaya Betawi bisa menjadi kekuatan ekonomi kreatif, pariwisata, kuliner, hingga industri event berbasis tradisi.

Anak muda Betawi yang melek pendidikan, teknologi, dan politik memiliki potensi besar menjadi pemimpin masa depan.

Transformasi tidak lagi berbasis fisik, tetapi berbasis kapasitas.

Sebagai masyarakat asli Jakarta, posisi Betawi memiliki legitimasi moral dan historis dalam perumusan kebijakan kota. Dengan konsolidasi yang baik, daya pengaruh dapat diperkuat secara konstitusional.

Platform digital membuka ruang narasi baru. Betawi dapat membangun citra modern, progresif, dan berdaya saing tanpa kehilangan akar tradisi.

Pertumbuhan kota yang masif mendorong alih fungsi lahan, perubahan kampung-kampung tradisional, hingga pergeseran struktur sosial.

Banyak keluarga Betawi terdorong ke pinggiran kota akibat tekanan ekonomi dan properti.

Akan tetapi, situasi ini menjadikan potensi Betawi semakin ideal, disinilah aglomerasi menjadi kunci bagaimana kemudian Betawi mampu me-orkestrasi segala lini dalam cakupan tidak hanya di Jakarta, akan tetapi Depok, Tangerang, Bekasi, Bogor hingga Cianjur.

Ekonomi Jakarta semakin kompetitif dan berbasis teknologi.

Tanpa peningkatan kapasitas pendidikan dan kewirausahaan, masyarakat lokal bisa tertinggal dalam persaingan industri dan jasa modern.

Perbedaan pilihan politik atau kepentingan elit kerap menimbulkan jarak antar kelompok Betawi sendiri. Ketika energi habis untuk konflik internal, daya tawar kolektif menjadi lemah.

Budaya Betawi sering dipersempit hanya pada simbol-simbol seremonial (ondel-ondel, kerak telor, lenong), tanpa penguatan substansi nilai, sejarah, dan pemikiran yang lebih dalam.

Dibalik kompleksitas itu, kita musti mulai melakukan dorongan untuk menempatkan Majelis Kaum Adat Betawi sebagai elemen konsolidasi sekaligus lokomotif gerakan ke betawi-an, hal ini merupakan langkah strategis dalam menjaga kesinambungan identitas, aspirasi, dan peran masyarakat Betawi di tengah dinamika pembangunan dan perubahan sosial.

Posisi ini menjadi semakin relevan ketika kepemimpinan gerakan dipegang oleh figur berpengalaman dan memiliki legitimasi kuat seperti Fauzi Bowo, yang dikenal luas memiliki rekam jejak birokrasi, jejaring nasional, serta kedekatan historis dengan komunitas Betawi.

Sebagai lembaga adat, Majelis Kaum Adat Betawi memiliki legitimasi moral dan kultural untuk menyatukan berbagai unsur organisasi Betawi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

Peran konsolidasi berarti bukan hanya menjadi simbol, tetapi juga pusat koordinasi gagasan, strategi, dan arah gerakan.

Dengan struktur yang inklusif dan pendekatan musyawarah, majelis dapat merumuskan agenda bersama yang mengintegrasikan kepentingan tokoh adat, pemuda, ulama, akademisi, hingga pelaku ekonomi kreatif Betawi.

Kepemimpinan Foke berpotensi menjadi katalisator karena figur ini memiliki kapasitas menjembatani tradisi dan modernitas.

Ia dapat mendorong gerakan ke betawi-an tidak sekadar bernostalgia pada warisan budaya, tetapi juga bergerak progresif: memperjuangkan afirmasi kebijakan, pemberdayaan ekonomi masyarakat Betawi, penguatan pendidikan budaya, serta representasi yang proporsional dalam pembangunan daerah.

Dengan kata lain, gerakan ke-betawian diarahkan menjadi gerakan strategis—bukan hanya kultural, tetapi juga sosial, ekonomi, dan politik.

Apabila Majelis Kaum Adat Betawi berfungsi sebagai lokomotif, maka organisasi-organisasi Betawi lainnya menjadi gerbong yang bergerak dalam satu rel visi.

Sinergi ini penting agar energi komunitas tidak terpecah, melainkan terakumulasi menjadi kekuatan kolektif yang berpengaruh.

Konsolidasi juga akan memperkuat posisi tawar masyarakat Betawi dalam dialog dengan pemerintah, sektor swasta, maupun pemangku kepentingan lain.

Dengan demikian, penguatan peran Majelis Kaum Adat Betawi sebagai pusat konsolidasi di bawah kepemimpinan Foke bukan sekadar pilihan organisatoris, melainkan kebutuhan strategis.

Inilah momentum untuk membangun gerakan ke-betawian yang solid, terarah, dan berdaya dorong tinggi—sebuah gerakan yang mampu menjaga jati diri sekaligus memastikan masyarakat Betawi menjadi subjek utama dalam masa depan tanah kelahirannya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250