Usia, Ketenangan, dan Senyapnya Kebijaksanaan Politik Sufmi Dasco

Admin Pusat
8 Okt 2026 14:31
OPINI 0 66
3 menit membaca

Oleh: MUHAMMAD NATSIR

banner 970x250

(Ketua DPP KNPI)

Bagi seorang politisi, usia bukan sekadar urusan personal atau angka yang bertambah setiap tahun.

Usia juga menjadi ukuran kematangan dalam membaca suasana kebatinan bangsa, memahami dinamika kehidupan politik, sekaligus menentukan sikap di tengah berbagai perubahan.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Refleksi itulah yang mengemuka ketika merenungi perjalanan Prof. Sufmi Dasco Ahmad di momentum ulang tahunnya.

Di tengah panggung politik yang kerap riuh oleh perdebatan dan kepentingan, Dasco menghadirkan warna yang relatif langka: politik yang hening, tetapi tetap memberikan dampak.

Dinamika kekuasaan selalu cair. Kawan dan lawan bisa bertukar tempat, koalisi dapat dibangun dan dibongkar, sementara jabatan pada akhirnya selalu memiliki batas waktu. Politisi yang matang tentu memahami bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang abadi.

Dalam situasi seperti itu, Dasco menampilkan gaya kepemimpinan yang edukatif dan humanis. Ketika ruang publik kerap dijadikan gelanggang adu suara dan argumentasi keras, ia memilih untuk tetap tenang. Ia menunjukkan bahwa tidak semua narasi keras harus dibalas dengan teriakan.

Ada kalanya seorang pemimpin justru perlu lebih banyak mendengar sebelum mengambil keputusan. Ketegangan tidak selalu harus dijawab dengan konfrontasi.

Sebaliknya, ketegangan politik dapat menjadi ruang untuk membangun dialog dan menemukan jalan keluar.

Kebijaksanaan politik Dasco bukan sekadar sikap pragmatis untuk mencari posisi aman. Ketenangannya menjadi alat untuk menjaga substansi perjuangan yang bermuara pada kepentingan dan hajat hidup rakyat yang lebih luas.

Ia memahami kapan kompromi dibutuhkan dan kapan harus berdiri teguh. Ketika menyangkut kepentingan rakyat, ruang untuk menjadikan rakyat sebagai objek tawar-menawar tidak boleh dibuka. Rakyat bukan barang dagangan dalam kompromi politik.

Gaya kepemimpinan Dasco juga terlihat ketika mengawal berbagai aspirasi masyarakat di parlemen. Ia hadir sebagai penengah sekaligus penghubung ketika komunikasi antara rakyat dan kekuasaan mengalami kebuntuan. Dalam konteks itu, parlemen harus tetap menjadi jantung kepentingan rakyat.

Berbagai gelombang aspirasi masyarakat, mulai dari pengemudi ojek online, buruh, guru hingga akademisi, menjadi bagian dari dinamika yang dikawal.

Begitu pula suara petani, nelayan, pekerja dan generasi muda harus dipastikan memiliki ruang untuk didengar hingga ke ruang-ruang pengambilan keputusan.

Di saat yang sama, menjaga keseimbangan antara parlemen dan eksekutif menjadi bagian penting dalam kehidupan bernegara. Fungsi kontrol harus tetap tajam dan kritis, tetapi tidak seharusnya mengorbankan stabilitas nasional.

Di situlah kematangan politik diuji. Bagaimana bersikap kritis tanpa menjadi destruktif, tegas tanpa menutup ruang dialog, serta berani mengambil sikap tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memecah persatuan bangsa.

Pada akhirnya, jabatan akan selesai dan musim kekuasaan akan berganti. Posisi, kekuasaan, dan berbagai atribut politik pada waktunya akan menjadi bagian dari perjalanan sejarah.

Ukuran seorang tokoh politik sesungguhnya sederhana: apakah kehadirannya dalam kekuasaan mampu memberikan manfaat dan membuat kehidupan rakyat menjadi lebih baik.

Karena itu, bertambahnya usia seorang politisi tidak semestinya hanya dimaknai sebagai bertambahnya waktu, tetapi juga bertambahnya pengalaman, kebijaksanaan, serta luasnya ruang pengabdian kepada bangsa dan negara.

Selamat ulang tahun, Prof. Sufmi Dasco Ahmad. Semoga bertambahnya usia terus memperluas jalan pengabdian, mengasah kebijaksanaan dalam menjalankan amanah, dan memperbesar manfaat bagi masyarakat, bangsa, serta Republik Indonesia. (Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250