
Oleh: Masykur Isnan

Jakarta, 18 Juni 2025 – Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno baru saja dilantik. Tapi tantangan mereka sudah menumpuk, terutama soal ketenagakerjaan. Jakarta mencatat lebih dari 354 ribu pengangguran dan lebih dari 14 ribu orang terkena PHK. Ini bukan angka kecil. Butuh strategi besar untuk menghadapinya.
Salah satu langkah yang muncul dari akar komunitas adalah program “Talenta Jakarta”, gagasan Pemuda Kaum Betawi yang mendukung program “Jakarta Bekerja”. Tujuannya jelas: menghubungkan talenta muda dengan dunia kerja, membangun ekosistem produktif, dan membuka peluang bagi penyandang disabilitas. Pendekatannya komprehensif: pemetaan bakat, pelatihan, pembentukan karakter, pencocokan kerja, hingga inkubasi bisnis.
Apa bedanya program ini dengan yang lain? Fokusnya ada pada lima sektor yang sangat relevan: industri digital, hijau, kreatif, gim, dan UKM. Ada juga program Talent Scouting untuk mencocokkan peserta dengan peluang kerja yang nyata, Talent Class untuk pelatihan intensif seperti Digital Marketing, UI/UX Design, sampai Cyber Security dan Public Speaking.
@redaksi.jakarta
Tak hanya soal pelatihan, ada juga Talent X dan Talent Podcast yang menghadirkan profesional untuk berbagi wawasan, serta Talent Corner sebagai ruang komunitas belajar langsung di berbagai wilayah Jakarta.
Inovasi jadi salah satu kata kunci. Ada Young Innovator Competition yang mengusung model “Segitiga Startup” (Hustler–Hipster–Hacker), dan juga JAKIN (Jakarta Innovation & Digital Business Incubator) untuk membina startup digital yang punya solusi konkret terhadap masalah sosial dan ekonomi.
Tapi kenapa semua ini penting? Karena dunia kerja berubah cepat. AI dan otomatisasi bisa menghilangkan hingga 92 juta pekerjaan global hingga 2030. Di sisi lain, soft skill seperti empati dan komunikasi jadi semakin penting. Jakarta harus siap, atau tertinggal.
Faktanya, Indonesia masih tertinggal dalam urusan inovasi dan daya saing global. Skor daya saing kita masih 37,00 (2022). Belum lagi fakta bahwa hampir 27% anak muda kita masuk kategori NEET—tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak ikut pelatihan. Ini alarm keras.
Talenta Jakarta mencoba menjawab itu. Lewat pendekatan lokal tapi dengan semangat global. Kalau dijalankan konsisten, dampaknya bisa luas. Investasi di sektor talenta bahkan disebut bisa tingkatkan produktivitas sampai 20%. Artinya, ini bukan cuma soal cari kerja, tapi soal masa depan ekonomi Jakarta.
Solusi ada. Tinggal bagaimana semua pihak—pemerintah, swasta, dan masyarakat—bisa duduk bareng dan jalan bareng. Karena urusan tenaga kerja, bukan cuma urusan statistik. Ini soal martabat, daya saing, dan arah bangsa.
Tidak ada komentar