REDAKSI JAKARTA– Memasuki tahun 2026, Indonesia berada di persimpangan penting dalam perjalanan ekonominya.
Setelah menghadapi tekanan global akibat pandemi, inflasi, hingga fluktuasi nilai tukar, peluang untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional terbuka lebar.
Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika tantangan dikelola secara tepat.
Pengamat ekonomi dari Institute of Economic and Political Resources (IEPR), Arya I. P. Palguna, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan relatif stabil di kisaran 4,5–5,5 persen, dengan konsumsi domestik, investasi infrastruktur, dan sektor digital sebagai pendorong utama, 21/01/2026.
“Angka pertumbuhan ini menunjukkan ekonomi kita masih resilien. Tapi jangan terlena, karena di balik itu ada tekanan inflasi global, ketergantungan energi impor, dan ketimpangan antarwilayah yang masih cukup serius,” ujar Arya kepada detikcom, Sabtu (18/1/2026).
Menurut Arya, jika tantangan tersebut tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat, dampaknya bisa langsung terasa pada daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi nasional.
Salah satu peluang terbesar Indonesia, lanjut Arya, adalah bonus demografi. Populasi usia produktif yang besar berpotensi menjadi motor konsumsi, inovasi, dan tenaga kerja terampil.
“Bonus demografi ini adalah aset strategis. Tapi aset ini hanya bernilai jika kita serius berinvestasi pada pendidikan, pelatihan vokasi, dan literasi digital. Tanpa itu, bonus bisa berubah menjadi risiko sosial,” jelasnya.
Di sektor pertumbuhan baru, transformasi digital dinilai menjadi kunci.
Ekonomi digital, startup, fintech, hingga manufaktur berbasis teknologi tinggi berpeluang menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas nasional.
Namun, Arya mengingatkan agar transformasi digital tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
“UMKM harus menjadi bagian dari ekosistem digital. Kalau tidak inklusif, maka transformasi ini justru akan memperlebar kesenjangan,” tegasnya.
Selain digitalisasi, ketahanan pangan dan energi disebut sebagai faktor krusial dalam menopang ekonomi 2026.
Diversifikasi pangan, penguatan cadangan nasional, serta percepatan energi terbarukan perlu menjadi prioritas agar pertumbuhan ekonomi tidak terlalu rentan terhadap gejolak global.
Arya juga menyoroti pengelolaan sumber daya alam strategis seperti nikel, tembaga, dan batu bara yang harus dilakukan secara efisien dan berkelanjutan.
“Nilai tambah harus dinikmati di dalam negeri, tapi tetap memperhatikan lingkungan dan masyarakat lokal. Ini kunci agar pertumbuhan tidak menimbulkan konflik sosial,” katanya.
Dari sisi infrastruktur, Arya menilai pembangunan transportasi, logistik, dan energi masih menjadi fondasi utama untuk menurunkan biaya produksi dan memperkuat konektivitas antarwilayah.
“Infrastruktur bukan sekadar proyek fisik, tapi alat pemerataan ekonomi. Dengan konektivitas yang baik, daerah tertinggal bisa ikut tumbuh,” ujarnya.
Di bidang fiskal, Arya menekankan pentingnya kelanjutan reformasi, mulai dari penyederhanaan perizinan investasi, pengendalian defisit fiskal, hingga dorongan terhadap investasi hijau dan teknologi tinggi. Inklusi keuangan juga dinilai krusial untuk memperkuat UMKM dan daya beli masyarakat.
Terkait ekonomi global, Arya melihat kerja sama regional seperti ASEAN dan RCEP sebagai peluang besar, namun tetap perlu diimbangi dengan diversifikasi mitra dagang.
“Integrasi global penting, tapi ketergantungan pada satu pasar sangat berisiko. Diversifikasi adalah kunci ketahanan ekonomi,” katanya.
Menurut Arya, tahun 2026 harus menjadi momentum untuk mengubah tantangan menjadi peluang nyata.
“Pertumbuhan ekonomi bukan hanya soal angka GDP, tapi soal ketahanan energi dan pangan, kualitas SDM, penguasaan teknologi, serta keadilan sosial. Kalau ini dijaga, ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih adil dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Tidak ada komentar