
REDAKSI JAKARTA— Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C., yang juga Uskup Keuskupan Bandung, meneteskan air mata saat menerima audiensi Ikatan Keluarga Katolik Sumatra Utara (IKKSU).

Ia mengaku tak mampu berkata-kata setelah menyaksikan langsung dampak bencana banjir dan longsor di wilayah Tapanuli, Sumatra Utara.
Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan dihadiri oleh Ketua Umum IKKSU Lodewijk Sihite, Ketua Panitia Paskah 2026 Kasianus Telaumbanua bersama istri Margaretha Sinulingga, Penasehat Prof. Adrianus Eliasta Sembiring Meliala PhD, Sekretaris Jenderal Rasnius Pasaribu, Bendahara Umum Tuahta Aloysius Saragih, Bendahara Panitia Lidya Dakhi, Humas Kornelius Wau, serta tim dokumentasi dan publikasi.
Turut mendampingi Mgr. Antonius, Romo Djatmiko dan Romo Hans dari KWI, Jumat (6/2/2026).
@redaksi.jakarta
Ketua Umum IKKSU Lodewijk Sihite menyampaikan bahwa pihaknya akan menggelar Charity Night di Puspas Samadi dalam rangka menyambut Paskah 2026 sekaligus menggalang dana untuk membantu para korban bencana di Tapanuli Tengah.
Ia menjelaskan bahwa jajaran IKKSU telah meninjau langsung lokasi terdampak bersama Kasianus Telaumbanua dan Kornelius Wau, serta mendapat pendampingan dari Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Sinaga.
Kasianus Telaumbanua menyampaikan bahwa kondisi masyarakat di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan masih sangat memprihatinkan.
Ia berharap Mgr. Antonius dapat hadir dalam Charity Night tersebut agar upaya penggalangan dana dapat berjalan optimal. Harapan serupa disampaikan Sekjen IKKSU Rasnius Pasaribu dan Bendahara Umum Tuahta Aloysius Saragih yang optimistis kehadiran Uskup akan memberi semangat solidaritas bagi umat.
Bendahara Panitia Paskah 2026, Lidya Dakhi, juga menyampaikan apresiasi atas kesediaan Mgr. Antonius untuk mendukung kegiatan tersebut.
Ia menegaskan bahwa Paguyuban Santa Martha yang terlibat dalam kegiatan ini merupakan bagian dari perpanjangan tangan Keuskupan Sibolga di wilayah Jabodetabek.
Dalam pertemuan itu, Mgr. Antonius membagikan pengalaman pribadinya saat mengunjungi lokasi bencana di wilayah Keuskupan Sibolga. Ia mengaku kondisi di lapangan jauh lebih berat dibandingkan dengan gambaran yang beredar di media sosial.
Menurutnya, meski banjir telah surut, lumpur tebal masih menimbun rumah-rumah warga dan menyisakan penderitaan berkepanjangan.
Mgr. Antonius juga menyoroti tantangan pascabencana, khususnya menurunnya perhatian publik setelah masa tanggap darurat berlalu.
Ia menyebut bahwa pada awal bencana banyak bantuan mengalir, namun seiring waktu muncul anggapan bahwa persoalan telah selesai.
Ia menegaskan komitmen KWI bersama Caritas Indonesia (KARINA) untuk mengawal proses pemulihan dalam jangka waktu minimal satu tahun hingga dua tahun, termasuk rencana pembangunan rumah bagi para korban.
Program tersebut diberi nama “Seribu Rumah Belarasa” sebagai wujud solidaritas gereja terhadap masyarakat terdampak.
Dalam pesannya kepada pengurus IKKSU, Mgr. Antonius mengajak agar proses penggalangan dana dilakukan dengan mengandalkan doa dan iman.
Ia menekankan pentingnya bersandar pada kekuatan Roh Kudus dan tidak menggantungkan harapan pada figur tertentu.
Di akhir pertemuan, Mgr. Antonius memastikan kesediaannya untuk hadir dalam Charity Night IKKSU sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual bagi upaya pemulihan korban bencana di Tapanuli. (Red)
Tidak ada komentar