BKK Kelas I Banjarmasin Jadi Percontohan Transformasi Pelayanan, Kedepankan Pendekatan Restoratif dalam Pengawasan Perbatasan

Admin Pusat
14 Mar 2026 18:43
NEWS 0 228
3 menit membaca

JAKARTA – Balai Karantina Kesehatan (BKK) kini tampil dengan pendekatan baru dalam menjalankan fungsi pengawasan dan pengamanan di pintu masuk negara.

banner 970x250

Tidak lagi hanya menitikberatkan pada penegakan regulasi secara kaku, BKK mulai mengintegrasikan pendekatan restoratif sebagai strategi utama dalam menangani berbagai permasalahan di lapangan.

Pendekatan tersebut dinilai mampu memberikan solusi yang lebih cepat, adil, serta tetap menjunjung tinggi aspek keamanan kesehatan masyarakat. Hal ini juga mendapat perhatian dari Ketua Lembaga Bantuan Hukum Forum Peduli Keadilan Bangsa (LBH FPKB) Jakarta, Dr. Petrus, SH., MH., CTA., C.Med., yang menilai langkah transformasi pelayanan tersebut sebagai bentuk kemajuan dalam tata kelola pelayanan publik di sektor kesehatan perbatasan.

Menurut Dr. Petrus, SH., MH., CTA., C.Med., penerapan pendekatan restoratif dalam sistem pengawasan karantina kesehatan menunjukkan adanya upaya untuk menyeimbangkan antara kepastian hukum, pelayanan publik, serta perlindungan terhadap kepentingan masyarakat luas.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Transformasi pelayanan ini juga ditegaskan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balai Karantina Kesehatan Kelas I Banjarmasin, Mohammad Rasyid Ridha, SKM., MKL., yang menjelaskan bahwa pendekatan restoratif menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap institusi karantina kesehatan.

Solusi Berbasis Pemulihan, Bukan Sekadar Sanksi

Berbeda dengan pendekatan konvensional yang cenderung bersifat punitif atau berbasis hukuman, pendekatan restoratif di BKK menitikberatkan pada penyelesaian masalah melalui pemulihan dan edukasi. Beberapa langkah yang diterapkan antara lain:

Edukasi Proaktif, yakni memberikan pemahaman kepada pelanggar mengenai risiko kesehatan yang dapat timbul dari pelanggaran yang dilakukan, sehingga kesadaran kepatuhan dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Dialog Terbuka, dengan membuka ruang komunikasi antara petugas dan para pemangku kepentingan untuk mencari solusi atas kendala kepatuhan regulasi kesehatan.

Perbaikan Sistem, dengan fokus pada pemulihan kondisi agar standar kesehatan dapat kembali terpenuhi tanpa menghambat aktivitas ekonomi secara permanen.

“Tujuan utama kami adalah menjaga kedaulatan kesehatan negara. Namun profesionalisme juga tercermin dari kemampuan menyelesaikan masalah tanpa menciptakan hambatan baru. Pendekatan restoratif memungkinkan kami membangun kepercayaan publik,” ujar Mohammad Rasyid Ridha, SKM., MKL.

Implementasi di Lapangan

Dalam pelaksanaannya, pendekatan tersebut terlihat pada penanganan berbagai persoalan seperti dokumen kesehatan yang tidak lengkap atau ketidaksesuaian standar sanitasi pada alat angkut di pintu masuk negara.

Alih-alih melakukan penahanan berkepanjangan, petugas BKK kini berperan sebagai fasilitator yang membantu pihak terkait untuk segera memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan dalam waktu singkat.

Selain itu, BKK juga telah mengembangkan sistem digitalisasi pelayanan yang terintegrasi untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Dengan sistem tersebut, setiap proses penyelesaian masalah dapat dipantau secara langsung oleh para pemangku kepentingan sehingga meminimalisir potensi maladministrasi.

Komitmen Keberlanjutan

Melalui transformasi pelayanan ini, Balai Karantina Kesehatan optimistis dapat menciptakan sistem pengawasan kesehatan yang lebih modern, profesional, dan humanis.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung terciptanya ekosistem transportasi dan perdagangan internasional yang lebih sehat serta efisien, sekaligus memastikan bahwa keamanan kesehatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250