Pemerintahan Prabowo–Gibran dan Momentum Optimisme Indonesia Emas

Admin Pusat
8 Mei 2026 00:17
OPINI 0 612
3 menit membaca

Oleh Deni Wahyudi (Penulis Buku Indonesia Emas 2045)

banner 970x250

Dalam teori pembangunan modern, legitimasi publik merupakan salah satu modal paling penting bagi sebuah pemerintahan. Stabilitas politik, efektivitas kebijakan, hingga keberhasilan program sosial pada akhirnya sangat dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap negara. Dalam konteks itu, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan fenomena yang menarik untuk dicermati.

Di tengah situasi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, tensi geopolitik dunia yang meningkat, serta tantangan domestik yang kompleks, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo–Gibran justru berada pada angka yang relatif tinggi. Sejumlah lembaga survei nasional mencatat approval rating pemerintah berada di kisaran 74 hingga 81 persen sepanjang tahun pertama pemerintahan.

Survei Litbang Kompas pada fase 100 hari pemerintahan menunjukkan tingkat kepuasan publik mencapai sekitar 80,9 persen. Sementara Indikator Politik Indonesia mencatat angka kepuasan mendekati 79 persen pada awal 2026. Bahkan Reuters menyebut tingkat approval Presiden Prabowo termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara demokrasi saat ini.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Fenomena ini menarik karena terjadi di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya ideal. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran 5 persen dan belum mencapai target ambisius pemerintah sebesar 8 persen. Artinya, tingginya kepuasan publik tidak semata-mata ditopang oleh indikator makro ekonomi, melainkan juga oleh faktor psikologis, persepsi kepemimpinan, dan efektivitas program yang langsung dirasakan masyarakat.

Di sinilah letak pentingnya membaca pemerintahan Prabowo–Gibran secara lebih objektif. Ada kecenderungan sebagian kalangan melihat politik hanya dalam dua kutub ekstrem: glorifikasi berlebihan atau kritik total tanpa ruang apresiasi. Padahal dalam tradisi demokrasi yang sehat, capaian pemerintah juga perlu dibaca melalui data dan dampak riil di masyarakat.

Salah satu program yang paling banyak memengaruhi persepsi publik adalah Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara akademik, program ini sebenarnya memiliki korelasi kuat dengan pembangunan sumber daya manusia jangka panjang. Bank Dunia maupun berbagai lembaga internasional telah lama menekankan bahwa kualitas gizi anak berkaitan langsung dengan produktivitas ekonomi suatu bangsa di masa depan.

Karena itu, ketika pemerintah mendorong program makan bergizi bagi pelajar dan ibu hamil, kebijakan tersebut tidak bisa hanya dibaca sebagai program populis jangka pendek. Ia merupakan bagian dari investasi sosial negara terhadap generasi mendatang. Dalam konteks Indonesia Emas 2045, pembangunan manusia memang harus menjadi prioritas utama.

Selain MBG, faktor lain yang patut diapresiasi adalah stabilitas politik nasional pasca Pemilu 2024. Polarisasi sosial yang sebelumnya cukup kuat perlahan mulai mereda. Pemerintahan Prabowo–Gibran berhasil membangun konsolidasi politik yang relatif stabil sehingga transisi kekuasaan berlangsung tanpa gejolak besar. Dalam ilmu politik, stabilitas merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan pembangunan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa publik juga melihat figur Prabowo sebagai simbol kepemimpinan yang tegas dan cepat mengambil keputusan. Dalam banyak survei, citra personal presiden menjadi faktor dominan yang menopang kepuasan publik. Ini menunjukkan bahwa dalam era politik modern, persepsi terhadap kepemimpinan memiliki pengaruh besar terhadap legitimasi pemerintahan.

Tentu, apresiasi bukan berarti menutup mata terhadap kritik. Pemerintah tetap menghadapi tantangan serius, mulai dari persoalan daya beli masyarakat, lapangan kerja, tekanan fiskal akibat program besar negara, hingga kritik mengenai demokrasi dan ruang sipil. Semua itu harus tetap menjadi bahan evaluasi bersama.

Namun di tengah tantangan global yang semakin tidak pasti, Indonesia setidaknya masih memiliki satu hal penting: optimisme publik terhadap masa depan negara. Dan optimisme adalah modal sosial yang tidak murah nilainya.

Sebab sejarah menunjukkan, bangsa yang kehilangan harapan biasanya akan sulit melahirkan lompatan besar. Sebaliknya, bangsa yang mampu menjaga kepercayaan kolektif terhadap masa depannya memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

Indonesia Emas 2045 pada akhirnya bukan sekadar slogan politik atau target statistik. Ia adalah proyek panjang tentang bagaimana negara menjaga stabilitas, memperkuat kualitas manusia, dan memastikan rakyat tetap percaya bahwa masa depan Indonesia layak diperjuangkan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250