
REDAKSIJAKARTA|JAKARTA – Perkembangan teknologi membuat proses belajar siswa berubah cukup drastis. Materi pelajaran kini bisa diakses lewat gawai, tugas dikumpulkan lewat aplikasi, dan diskusi kelas berlangsung di grup percakapan.

Namun kemudahan tersebut turut membawa persoalan baru yang dirasakan para siswa, guru, hingga orang tua di ibu kota.
Gangguan perhatian menjadi persoalan yang paling terasa di ruang belajar digital. Notifikasi media sosial, video pendek, dan permainan daring muncul di layar yang sama dengan materi pelajaran, sehingga fokus siswa mudah terpecah sebelum satu soal selesai dikerjakan.
Sebagian siswa juga cenderung menyalin jawaban dari internet tanpa menelusuri cara penyelesaiannya, sehingga kemampuan berpikir kritis tidak terasah dengan baik.
@redaksi.jakarta
Guru Matematika SMA di Jakarta Timur, Rina Kusumawati, mengaku sering kesulitan menjaga konsentrasi murid saat pembelajaran berbasis daring.
“Anak-anak kelihatannya menatap layar, tapi pikirannya sudah ke mana-mana. Kadang saya tanya balik soal yang baru saya jelaskan, eh jawabannya kosong,” ujarnya.
Persoalan lain datang dari kesenjangan akses. Tidak semua keluarga memiliki perangkat yang memadai atau sambungan internet yang stabil, sehingga sebagian siswa tertinggal ketika kelas berlangsung secara daring.
Waktu menatap layar yang panjang juga membuat siswa lebih cepat lelah, sementara interaksi tatap muka dengan guru dan teman sebaya berkurang.
Untuk mengatasinya, para pendidik menyarankan penetapan jadwal belajar yang jelas dan terpisah dari waktu bermain gawai.
Siswa dapat mematikan notifikasi selama belajar, mencatat poin utama dengan tangan, dan mengerjakan soal secara mandiri sebelum mencocokkan jawaban. Keluarga juga berperan dengan menyepakati aturan penggunaan gawai di rumah.
Bagi siswa yang membutuhkan pendampingan lebih personal, orang tua dapat mempertimbangkan layanan les privat Jakarta Timur dari Executive Education agar jadwal dan materi belajar bisa disesuaikan dengan kebutuhan anak.
Pendampingan langsung oleh tutor membantu siswa tetap fokus dan berani bertanya ketika menemui materi yang sulit.
Dedi Santoso, orang tua siswa kelas 8 di Jakarta Timur, merasakan manfaat dari pendampingan di awal proses belajar. “Dulu saya kira anak aman-aman saja karena belajar di rumah. Ternyata saya perlu duduk di sebelahnya dulu, minimal beberapa minggu, supaya dia tidak keburu buka video lain,” tuturnya.
Tidak ada komentar