Pengamat: Komitmen Kapolri Dukung Asta Cita Dinilai Berada di Jalur Tepat, Swasembada Bawang Putih Diperkuat

Admin Pusat
19 Agu 2026 19:10
NASIONAL NEWS 0 170
4 menit membaca

REDAKSIJAKARTA.COM | JAKARTA — Komitmen Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam mendukung agenda Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, khususnya di bidang ketahanan pangan, mendapat apresiasi dari analis kebijakan publik dan sosial-politik nasional, Nasky Putra Tandjung.

banner 970x250

Nasky menilai langkah Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo bersama jajaran Polri dalam mendorong penguatan sektor pertanian, termasuk percepatan swasembada bawang putih, menunjukkan adanya kontribusi institusi kepolisian terhadap agenda strategis nasional.

“Komitmen tersebut menunjukkan bahwa peran institusi Polri tidak semata-mata berada pada ranah pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga dapat berkontribusi dalam agenda strategis nasional yang berdampak langsung terhadap kepentingan rakyat, bangsa, dan negara,” ujar Nasky dalam keterangannya, Rabu (19/8/2026).

Penulis buku Polri Presisi: Visi, Kerja Nyata, dan Dedikasi untuk Masyarakat itu menilai salah satu bentuk konkret dukungan tersebut terlihat dari gerakan penanaman bawang putih secara serentak yang mencakup lahan seluas 279,53 hektare.

Embed TikTok Profile
@redaksi.jakarta

Program tersebut tersebar di 59 Polres pada 14 Polda dan memperoleh penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Menurut Nasky, capaian itu menjadi gambaran bagaimana jejaring kewilayahan Polri dapat dimanfaatkan untuk mendukung program ketahanan pangan.

Dari sisi kebijakan publik, ia menilai program tersebut memiliki nilai strategis karena tidak hanya berorientasi pada kegiatan penanaman, tetapi turut melibatkan kelompok tani dan petani sebagai pelaku utama.

Tercatat sebanyak 110 kelompok tani dengan 2.174 petani terlibat dalam kegiatan tersebut, dengan potensi produksi mencapai sekitar 2.795 ton bawang putih.

Sementara di Sembalun, Lombok Timur, kegiatan juga dirangkaikan dengan panen raya pada lahan seluas 105 hektare. Panen tersebut melibatkan sembilan kelompok tani dan 287 petani dengan potensi hasil sekitar 1.050 ton.

Menurut Nasky, penyerahan alat dan mesin pertanian serta sarana produksi kepada kelompok tani juga menjadi bagian penting karena memperlihatkan adanya upaya mengintegrasikan produksi dengan pemberdayaan petani dan dukungan terhadap sarana pertanian.

“Lebih jauh, akumulasi program yang telah mencakup 2.593,1 hektare lahan di 17 Polda dan 66 Polres, dengan 927,6 hektare di antaranya telah ditanami dan melibatkan 117 kelompok tani serta 2.257 petani, menunjukkan adanya upaya membangun ekosistem ketahanan pangan melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis kewilayahan,” jelasnya.

Nasky berpandangan bahwa penguatan ketahanan pangan memiliki dimensi yang lebih luas dibandingkan sekadar meningkatkan produksi pertanian.

Menurutnya, ketersediaan pangan berkaitan erat dengan stabilitas ekonomi, kesejahteraan masyarakat hingga ketahanan nasional.

Karena itu, dukungan Polri terhadap target swasembada bawang putih dalam tiga tahun mendatang dinilai membutuhkan kesinambungan program serta koordinasi lintas sektor.

Ia mendorong agar kolaborasi antara Polri, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, kelompok tani, akademisi, dunia usaha serta pemangku kepentingan lainnya terus diperkuat.

“Keberhasilan program seharusnya tidak hanya dilihat dari capaian administratif maupun rekor, tetapi juga dari meningkatnya produktivitas petani, bertambahnya luas tanam dan panen, meningkatnya kesejahteraan masyarakat tani, berkurangnya ketergantungan terhadap pasokan impor, serta terbentuknya rantai pasok bawang putih nasional yang kuat dan berkelanjutan,” katanya.

Nasky menambahkan, langkah tersebut merupakan bentuk penerjemahan kebijakan pemerintah ke dalam kerja nyata di lapangan. Menurut dia, semangat Polri Presisi dapat diwujudkan melalui program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

“Gerakan ini memperlihatkan bahwa semangat Polri Presisi dapat diterjemahkan melalui kontribusi nyata yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Founder Nasky Milenial Center (NMC) tersebut menilai langkah Polri dalam mendukung agenda ketahanan pangan nasional sudah berada pada jalur yang tepat atau on the track.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan program menjadi faktor penting untuk memastikan dampak yang dihasilkan dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Menurut Nasky, evaluasi berbasis data, peningkatan produktivitas, penguatan kelembagaan petani, kepastian pasar serta pembangunan rantai pasok harus menjadi bagian dari tahapan berikutnya.

Alumnus INDEF School of Political Economy Jakarta itu juga menyebut target swasembada bawang putih dalam tiga tahun ke depan merupakan agenda strategis yang membutuhkan dukungan berbagai elemen masyarakat.

“Pada akhirnya, sinergi antara pemerintah, Polri, pemerintah daerah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi modal penting untuk mewujudkan cita-cita besar menuju Indonesia yang mandiri pangan, berdaulat secara ekonomi, dan semakin kuat menghadapi tantangan global,” ujarnya.

Sebagai bagian dari elemen masyarakat sipil, Nasky berharap konsistensi dan kolaborasi yang telah dibangun dapat terus dipertahankan hingga target swasembada benar-benar tercapai.

“Ketahanan pangan adalah kepentingan bersama; swasembada pangan adalah bagian dari kedaulatan bangsa; dan setiap kerja nyata yang memperkuat kemandirian pangan harus mendapatkan dukungan seluruh elemen masyarakat. Seluruh ikhtiar tersebut harus ditempatkan dalam satu orientasi utama: kepentingan rakyat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klik Info Terbaru Kami di Google News 👇

xbanner 970x250

banner 970x250