
Oleh: Virgianto

Di sebuah warung kopi, percakapan tentang bangsa tidak selalu dimulai dengan pidato atau diskusi resmi. Terkadang, ia berawal dari pertanyaan sederhana di antara secangkir kopi panas dan sepiring pisang goreng. Dari tempat seperti inilah gagasan bertukar, kegelisahan disampaikan, dan persoalan yang tampak jauh perlahan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026, seorang wartawan media daring berbincang dengan seorang aktivis muda. Mereka membicarakan tema tahun ini, “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, sekaligus mencoba memahami apa arti Sumpah Pemuda bagi generasi yang tumbuh di tengah derasnya arus informasi, perubahan sosial, dan ketidakpastian masa depan.
Bagi sang aktivis, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap tahun. Ia merupakan pengingat bahwa perubahan besar membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan mengambil bagian dalam persoalan bersama. Semangat yang lahir pada 1928 itu, menurutnya, masih relevan, meskipun tantangan yang dihadapi generasi sekarang telah berubah.
@redaksi.jakarta
Hampir satu abad lalu, para pemuda dari berbagai latar belakang bersepakat tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Mereka hidup dalam situasi kolonial, ketika persatuan menjadi salah satu syarat penting bagi perjuangan kemerdekaan. Hari ini, generasi muda menghadapi dunia yang berbeda. Teknologi membuat komunikasi semakin mudah, informasi menyebar dalam hitungan detik, dan setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat kepada khalayak luas.
Namun, kemudahan berkomunikasi tidak selalu berarti meningkatnya kualitas hubungan antarmanusia. Media sosial yang semula membuka ruang perjumpaan juga dapat memperkuat perpecahan. Orang semakin mudah berkumpul dengan mereka yang sepemikiran, tetapi semakin sulit menerima pandangan yang berbeda. Perdebatan kerap berubah menjadi permusuhan, sementara persoalan publik terjebak dalam pertarungan opini yang tidak selalu menghasilkan pemahaman.
Dalam situasi seperti itu, semangat persatuan tidak cukup dimaknai sebagai ajakan untuk hidup rukun. Persatuan perlu diwujudkan melalui kesediaan untuk memahami persoalan yang dialami orang lain, bahkan ketika mereka tinggal jauh dari lingkungan kita atau memiliki latar belakang yang berbeda. Kepedulian pemuda di kota besar, misalnya, semestinya tidak berhenti pada persoalan perkotaan, tetapi juga mencakup nasib masyarakat adat, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan yang dialami kelompok rentan di berbagai daerah.
Persatuan bukan berarti menghilangkan perbedaan. Sebaliknya, persatuan justru diuji ketika orang-orang yang berbeda mampu menemukan titik temu untuk menghadapi persoalan bersama.
Sayangnya, kepedulian terhadap persoalan kebangsaan tidak selalu tumbuh dengan mudah. Sebagian anak muda merasa kecewa terhadap kehidupan politik dan meragukan apakah keterlibatan mereka benar-benar dapat membawa perubahan. Ketika suara dianggap tidak didengar dan aspirasi berulang kali berhadapan dengan tembok birokrasi, sikap apatis dapat muncul sebagai bentuk kelelahan.
Di sisi lain, gerakan kepemudaan juga menghadapi tantangan ketika hanya dijadikan formalitas atau alat legitimasi oleh pihak yang memiliki kekuasaan. Pemuda mungkin diundang ke berbagai forum dan kegiatan, tetapi tidak selalu memperoleh ruang yang cukup untuk menyampaikan kritik atau memengaruhi keputusan. Padahal, keterlibatan yang bermakna tidak cukup diukur dari seberapa sering anak muda dilibatkan, melainkan juga dari sejauh mana pendapat mereka dipertimbangkan.
Persoalan ini penting karena pemuda bukan sekadar kelompok yang akan mewarisi masa depan. Mereka sudah menjadi bagian dari masyarakat hari ini, dengan persoalan dan kepentingan yang perlu diperhatikan sekarang juga.
Sulitnya memperoleh pekerjaan, mahalnya biaya pendidikan, ketimpangan ekonomi, serta ancaman krisis iklim merupakan sebagian persoalan yang berhubungan langsung dengan kehidupan generasi muda. Isu-isu tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan agar anak muda lebih nasionalis atau lebih peduli terhadap bangsa. Mereka membutuhkan ruang partisipasi, akses terhadap informasi yang memadai, dan kesempatan untuk ikut menentukan arah kebijakan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Karena itu, membangun kepedulian perlu dimulai dari persoalan yang dekat dengan keseharian. Anak muda mungkin merasa politik adalah sesuatu yang jauh dari kehidupannya. Namun, ketika mereka berhadapan dengan sulitnya mencari pekerjaan, biaya pendidikan yang terus menjadi beban, atau harga kebutuhan pokok, sesungguhnya mereka sedang bersentuhan dengan persoalan publik yang memiliki dimensi politik dan ekonomi.
Dari sana, kesadaran dapat tumbuh bahwa kehidupan pribadi tidak sepenuhnya terpisah dari keputusan bersama. Apa yang terjadi di ruang pemerintahan, pasar, sekolah, dan lingkungan tempat tinggal dapat memengaruhi kesempatan seseorang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.
Mengajak anak muda untuk peduli, dengan demikian, tidak cukup dilakukan melalui nasihat yang menggurui. Persoalan kebangsaan perlu dibicarakan dengan bahasa yang membumi, disertai penjelasan yang masuk akal dan contoh yang dapat mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian lebih mungkin tumbuh ketika seseorang memahami mengapa sebuah persoalan penting bagi dirinya dan orang lain.
Hal yang sama berlaku dalam aktivisme. Selama ini, demonstrasi sering menjadi gambaran utama ketika membicarakan gerakan pemuda. Aksi turun ke jalan memang memiliki tempat dalam kehidupan demokrasi, terutama ketika saluran penyampaian aspirasi tidak berjalan sebagaimana mestinya. Akan tetapi, perubahan tidak selalu selesai setelah massa membubarkan diri dan jalanan kembali lengang.
Gerakan pemuda juga membutuhkan penelitian, advokasi kebijakan, pendampingan masyarakat, kampanye digital, dan pengawalan hukum untuk kepentingan publik. Berbagai cara tersebut dapat saling melengkapi agar tuntutan tidak berhenti sebagai suara protes, tetapi berkembang menjadi usulan yang dapat dipertimbangkan dan diperjuangkan.
Keberanian untuk bersuara perlu berjalan bersama kemampuan memahami persoalan. Semangat tanpa pengetahuan berisiko membuat gerakan kehilangan arah, sedangkan pengetahuan tanpa tindakan dapat berhenti menjadi wacana. Keduanya perlu dipertemukan agar keterlibatan pemuda menghasilkan dampak yang lebih nyata.
Di sinilah nilai Sumpah Pemuda 1928 dapat dibaca kembali. Para pemuda saat itu berasal dari organisasi, daerah, dan latar belakang yang berbeda. Mereka tidak harus menghapus seluruh perbedaan untuk membangun kesepakatan mengenai masa depan bersama. Justru kemampuan melampaui kepentingan kelompok menjadi salah satu pelajaran penting dari peristiwa tersebut.
Generasi sekarang menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks, mulai dari perubahan teknologi hingga krisis lingkungan dan ketimpangan sosial. Tidak ada satu kelompok yang memiliki seluruh jawaban atas persoalan tersebut. Kerja sama lintas disiplin dan latar belakang menjadi penting karena masalah bersama membutuhkan pengetahuan, pengalaman, dan keterlibatan banyak pihak.
Menjelang Indonesia Emas 2045, ukuran keberhasilan generasi muda seharusnya tidak hanya dilihat dari penguasaan teknologi, tingkat pendidikan, atau kemampuan bersaing di dunia kerja. Pertanyaan lain juga perlu diajukan: apakah kemajuan yang dicapai dapat dirasakan secara lebih merata? Apakah pembangunan memberi ruang bagi kelompok yang rentan? Apakah perbedaan pendapat masih dapat dipertemukan dalam kehidupan demokrasi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa masa depan bangsa bukan semata-mata urusan pertumbuhan ekonomi atau pencapaian target pembangunan. Ia juga menyangkut kualitas hubungan sosial, keadilan, dan kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan persoalan tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.
Percakapan di warung kopi itu akhirnya mendekati penghujung. Kopi yang semula panas perlahan mendingin, sementara obrolan tentang pemuda dan masa depan bangsa menyisakan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar bagaimana memperingati 28 Oktober.
Sang aktivis mengingatkan agar generasi muda tidak menghabiskan masa mudanya hanya dengan menjadi penonton dalam sejarah bangsa sendiri. Pemuda, menurutnya, tidak harus menjadi generasi yang sempurna. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk peduli, keberanian menyampaikan pendapat, kesediaan mendengarkan orang lain, dan konsistensi mengambil bagian dalam upaya perbaikan.
Pesan tersebut patut direnungkan. Menjadi bagian dari sejarah tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar atau langsung mengubah keadaan. Terkadang, ia dimulai dari kesediaan memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, mendengarkan pandangan yang berbeda, mengorganisasi warga untuk menyelesaikan persoalan lingkungan, atau mengawal kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat.
Tindakan-tindakan itu mungkin tidak selalu mendapat perhatian luas. Namun, kehidupan bersama juga dibentuk oleh kerja-kerja yang berlangsung jauh dari panggung utama.
Sumpah Pemuda pada akhirnya tidak cukup ditempatkan sebagai warisan sejarah yang dikenang melalui upacara, slogan, atau unggahan di media sosial. Ia perlu diterjemahkan menjadi kesadaran bahwa bangsa ini merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya milik pemerintah atau kelompok tertentu.
Barangkali, makna peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini dapat dimulai dari pertanyaan sederhana yang muncul di sebuah warung kopi: apa yang sudah kita lakukan untuk kehidupan bersama?
Jawabannya tidak harus selalu berupa tindakan besar. Namun, selama masih ada kemauan untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan peduli terhadap persoalan di sekitar, semangat Sumpah Pemuda akan tetap menemukan tempatnya dalam kehidupan generasi sekarang.
Sebab, sejarah bukan hanya sesuatu yang telah terjadi hampir seabad lalu. Sejarah juga terus dibentuk oleh pilihan-pilihan yang kita ambil hari ini.
Tidak ada komentar