REDAKSI JAKARTA — Pengamat pertambangan nasional, Dr. Ivan Ferdiansyah A., S.H., M.H., mengapresiasi kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di bawah kepemimpinan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sepanjang tahun 2025.
Ia menilai berbagai capaian strategis yang diraih Kementerian ESDM bukan sekadar pencapaian administratif, melainkan berdampak langsung pada rakyat serta memperkuat kedaulatan energi nasional.
Menurut Ivan, arah kebijakan ESDM selama 2025 menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan progresif, sekaligus selaras dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam membangun kemandirian energi Indonesia.
Salah satu langkah penting yang disorot adalah berdirinya Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian ESDM.
Kebijakan ini dinilai sebagai tonggak baru dalam penegakan hukum sektor energi dan sumber daya mineral yang selama ini kerap diwarnai praktik ilegal dan pelanggaran tata kelola.
Di sektor hulu migas, Kementerian ESDM mencatat sejarah dengan lifting migas yang melampaui target APBN 2025, sebuah capaian yang untuk pertama kalinya terjadi dalam sembilan tahun terakhir.
Selain itu, kebijakan legalisasi 45.000 sumur minyak rakyat disebut sebagai bukti nyata keberpihakan pemerintah kepada masyarakat kecil, bukan semata kepada korporasi besar.
Dari sisi pemerataan energi, pemerintah berhasil melistriki 77.616 rumah tangga di 1.516 lokasi melalui program listrik desa, serta menyalurkan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) kepada lebih dari 205.000 rumah tangga sepanjang 2025.
Program tersebut dinilai memberi dampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Pada aspek fiskal, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor ESDM juga melampaui target. Sepanjang 2025, PNBP ESDM tercatat mencapai Rp138,37 triliun, lebih tinggi dari target DIPA 2025 sebesar Rp127,44 triliun.
Capaian strategis lainnya adalah peresmian Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan milik Pertamina oleh Presiden Prabowo Subianto pada 12 Januari 2026.
Kilang terbesar di Indonesia ini menelan investasi sekitar Rp123 triliun, meningkatkan kapasitas produksi menjadi 360.000 barel per hari, serta menghasilkan bahan bakar berstandar Euro 5 guna memperkuat kemandirian energi nasional.
Bahlil juga dinilai berhasil menekan ketergantungan impor energi. Impor solar turun dari 8,3 juta ton pada 2024 menjadi sekitar 5 juta ton pada 2025.
Pemerintah bahkan menargetkan nol impor solar pada 2026 dan penghentian impor avtur pada 2027.
Di bidang investasi, sepanjang 2025 sektor ESDM mencatat realisasi investasi sebesar USD 31,7 miliar atau setara sekitar Rp533 triliun.
Capaian ini didorong oleh percepatan hilirisasi sektor ESDM yang berdampak pada pembukaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan negara, serta penguatan kemandirian energi.
Sementara itu, bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) juga menunjukkan tren positif dengan capaian 16,3 persen, melampaui target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) sebesar 15,9 persen.
“Capaian kinerja Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sepanjang 2025 patut diapresiasi. Ini bukan sekadar angka di atas kertas, tetapi kerja nyata yang menyentuh perekonomian nasional dan kesejahteraan rakyat. Presiden Prabowo membutuhkan menteri yang mampu menerjemahkan gagasan besar menjadi kerja konkret, dan itu telah dibuktikan oleh Bahlil,” tegas Ivan. (KON)
Tidak ada komentar